Ngajar dan Semarangan 17 Sep2007

Tags

Related Posts

Share This

Ngajar dan Semarangan

Ada komentar menarik masuk, “Saya lihat sabtu minggu kemarin Mas Romi keluyuran di Udinus alias Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Ngapain mas?”

Saya cerita dulu latar belakangnya. Jadi gini, saya ini numpang lahir di Madiun, selesaikan SD dan SMP di Semarang, kemudian masuk SMA Taruna Nusantara  Magelang, dan setelah itu “nggeblas” ke Saitama University, Jepang. Kalau ditanya asal, saya jarang jawab Madiun, biasanya saya jawab Semarang. Yang pasti saya nggak akan jawab Jepang, karena nggak ada orang yang akan percaya, lha wong Jepang kok ireng (hitam) 🙂 Meskipun sebenarnya rekor saya menetap paling lama adalah di Jepang (10 tahun), di Semarang saya hanya tinggal 9 tahun (nyelesaikan SD dan SMP). Tapi, kota Semarang adalah kehidupan dan tempat belajar terbaik saya. Di Semarang saya menyaksikan bapak dan ibu saya jatuh bangun membangun perekonomian keluarga. Sekarang orang tua, kakak dan saudara saya kumpul, tinggal dan mencari nafkah di Semarang. Dan yang tidak terlupakan, di Semarang jugalah saya dulu pernah naksir ketua OSIS saya di SMPN 8, yang sekarang jadi istri saya … ehm (halah).

Ya Semarang bagi saya adalah bekal kehidupan, awal belajar, asmara, dan mungkin pengalaman masalah truth, cry and lie (maaf nyomot punya letto).

Lha apa hubungannya dengan Udinus? Saya nggak bisa mengatakan tidak ke pak Edi Nursasongko, sang legenda pendidikan Semarang, Rektor Udinus, ketika beliau dengan senyum khasnya itu mengatakan ke saya, “Alhamdulillah nek mas Romi mau sesekali pulang dan bantu-bantu ngajar di program pasca sarjana Udinus” 🙂 Begitulah awalnya, saya akhirnya jadi dosen terbang di Udinus. Sebenarnya tawaran ini menyenangkan bagi saya, karena saya rutin bisa mengunjungi orang tua dan kakak saya tercinta di Tlogosari. Bisa nginep dan makan lagi asem-asem atau brongkos buatan Ibu tercinta.

Tentang materi ajarnya, seperti biasa saya kebagian ngajar yang berhubungan dengan software engineering dan antek-anteknya. Sabtu (15 september)  saya ngajar Object-Oriented Programming (OOP), sedikit konsep dasar tentang object-orientation, dari class, object, sampai rada njlimet masalah encapsulation, inheritance, polymorphism, interface dan package. Dengan latar belakang mahasiswa M.Kom Udinus yang beraneka ragam, saya berusaha menyajikan materi semudah dan semenarik mungkin, dengan berbagai macam analogi dan penjelasan visual lewat slide. Juga supaya ngeh implementasinya, saya langsung minta teman-teman mahasiswa untuk coba tulis dan compile beberapa contoh code yang saya sertakan. Nggak lupa saya bawain toolnya, dari text editor, Java SE, Java Doc, sampai Java tutorial.

Kemudian hari kedua (minggu, 16 September) lebih banyak membahas modeling dengan UML. Ini juga saya berusaha sajikan dengan cara yang sangat-sangat sederhana. Studi kasus untuk praktek juga simple, yaitu “pengembangan sistem rental video”, dimana objectivenya adalah tahapan software development life cycle based on UMLnya dipahami dengan baik. Saya berikan contoh yang terintegrasi bagaimana “sistem rental video” dikembangkan, saya mulai pelan-pelan gambarin general view-nya dengan use case diagram, interaksi kelasnya dengan class diagram, kemudian melengkapi business processnya dengan interaction diagram dan activity diagram.  Untuk implementasi dalam bentuk code, saya gunakan Java yang sengaja saya buat berbasis text (command line). Dengan harapan fokus mahasiswa ke pemahaman tahapan UML dan gambaran business process dari masalah yang dibangun. Saya nggak pingin konsep OOP dan UML yang saya ajarkan rusak karena ketutup permainan code GUI ala AWT atau Swing.

Yang menyenangkan adalah ya nikmatnya kembali ke gaya semarangan dan bisa ngajar ala semarangan 🙂 Thanks untuk temen-temen dari Udinus, pak Edi, pak Abdul Sukur, pak Purwanto yang sudah ngasih kesempatan dan ngopeni saya selama di sana. Juga terima kasih untuk pak Widi yang nganter saya mrono mrene. Untuk temen-teman mahasiswa yang kebetulan saya ajar, mohon maaf kalau masih ada penyampaian yang rumit atau ada kata-kata saya yang salah. Mudah-mudahan semuanya bisa lulus dengan baik, tidak hanya mendapatkan keunggulan dejure berupa degre M.Kom, tapi juga keunggulan defacto berupa “hasil karya nyata yang bermanfaat untuk masyarakat”. Amiiin.

ttd-small.jpg