10 Resep Sukses Bangsa Jepang
by Romi Satria Wahono
Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh
1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi
), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita
Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini
7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).
8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang
Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.
Tetap dalam perdjoeangan !






June 14th, 2007 at 0:00
Jadi inget, keberagaman bangsa kita itu merupakan berkah atau sesuatu yang harus dilebur pak bos ?
June 14th, 2007 at 0:58
Bangsa Indonesia punya:
1. Malas
2. Dengki
3. Suka menyalahkan orang lain
4. Bergantung sama tuhan
5. Pamer
Sampe kiamat pun kagak pernah bisa maju deh.
June 14th, 2007 at 7:57
untung gak kerja di jepang, hihihihi ……………….
June 14th, 2007 at 8:08
kalau pak Romi pakai istilah “Inovasi” di point 5. kalau saya pakai istilah “ATM”, Amati Tiru Modifikasi
hehehhe…
June 14th, 2007 at 8:35
ttg poin ke-7:
kadang kalo _kita_ nerjemahin karya asing, ada sebagian ‘orang berilmu’ yg menertawakan kerja _kita_
@kepret
indonesia juga punya:
1. tanah subur
2. laut luas
3. isi perut bumi yg bikin ngiler orang luar
@alwin
btw, istilah laen utk ATM:
niteni, nirokke, nambahi
[amati, tiru, tambah]
salam,
adi.nugroho
June 14th, 2007 at 9:29
Bangsa Indonesia yang kurang cuman 1 aja kok. Motivasi. Banyak kyai, ustad, guru, bahkan profesor apalagi blogger, yang suka menjelek-jelekkan bangsa sendiri. Akhirnya akumulasi dari semua itu adalah penanaman pada diri bahwa Bangsa Indonesia memang ndak bisa maju.
Pernyataan seperti mas kepret adalah salah satu contoh penyebab utama lemahnya bangsa ini. Mulai sekarang cobalah cari nilai-nilai postif bangsa ini dan blow up serta kampanyekan.
Indonesia adalah pemenang kontes robot di Jepang. Indonesia juga pemenang kontes kapal tiang tinggi. Siswa-siswi Indonesia sudah terbiasa dengan julukan juara di aneka olimpiade Fisika. Indonesia juga punya perusahaan Pesawat Terbang sendiri. Punya satelit sendiri dan blogger Indonesia adalah blogger paling produktif dengan artikel-artikel yang sangat bermutu.
Saya bisa membuat list yang ndak akan cukup satu buku untuk menunjukkan sisi positif bangsa ini. Bila anda berpikir bangsa ini buruk, maka seperti itulah bangsa ini di mata anda.
June 14th, 2007 at 9:36
perlahan lahan China mulai menggerogoti dominasi Jepang di Asia…
June 14th, 2007 at 9:44
Indonesia memerlukan isu seperti ini pak. Agar bisa mengaca, bahwa kemajuan bangsa tidak bisa direngkuh hanya dengan saling menjatuhkan, dan berbagai intrik politik dan kekuasaan.
Saya akan simpan artikel anda.
June 14th, 2007 at 10:06
selain kekurangan motivasi dan mental buruk yang menjadi tradisi, kebanyakan kita juga kurang optimis untuk maju karena pesimis dengan hal2 yang tidak mendukung di lingkungannya (kondisi sosial politik, kebijakan pemerintah, birokrasi dst dst)
jadilah persoalan2 di negeri kita ibarat benang kusut yang entah kapan terurainya…
btw tulisan pak romy sangat memotivasi
semoga makin banyak orang2 indonesia yang bersemangat
June 14th, 2007 at 10:08
# linuxonsparc: Pemberian Allah itu tetap berkah mas
Tergantung kita mensikapi dan memanfaatkannya seperti apa
# kepret: hehehe, Indonesia cukup banyak potensinya kok mas. Cuman sekali lagi, kita punya faktor “non-teknis” yang menghambat kemajuan republik
# alwi: ATM mungkin sebutan yang lebih tepat
# axireaxi: hehehe … sip, jadi banyak kosa kata baru
# belajar wordpress: Saya setuju, ada di paragraf terakhir saya tentang itu
# imcw: Setuju, china juga menarik diamati mas
# achedy: Mudah-mudahan mas. Sekali lagi artikel ini bukan untuk menjatuhkan bangsa Indonesia. Justru untuk memberi wacana dan tempat berkaca untuk perbaikan republik ini.
#unisa81: Tambahan yang menarik mbak. Thanks
June 14th, 2007 at 14:41
hmm… Bila Pak harto sebelum “itu” bertaubat mungkin kita sudah maju pesat kali ya…, gaya kepimpinannya itu lho… “Ma Nyoss”… bener gak ya?
June 14th, 2007 at 14:45
wah, kebalik banget sama orang kuwaiti sini…
mereka bener2 bergantung sama minyak.
ketika minyak sudah gag ada, aku ga tau apa yg bisa mereka andalkan…
kalo indonesia,
saya juga punya rasa optimis yg sangat atas kemajuan indonesia.
faktor “non-teknis” saya pikir dari pemerintah kita.
dulu sebelum ke kuwait, saya rasanya “menyerah” dengan negara sendiri.
setelah sampai di kuwait, ternyata kita bisa kok maju.
asalkan, kita bergantung pada diri sendiri aja. jangan pernah bergantung pada orang lain, apalagi pemerintah.
artikel yg menarik. membuat saya pingin ke jepang yang saya pikir banyak wanita-wanita cantik di sana…
hihihi..
June 14th, 2007 at 14:53
[…] Waktu jalan-jalan ke tempat pak Romi, aku membaca tulisan tentang 10 Resep Sukses Bangsa Jepang. Membaca ulasan pak Romi benar-benar menarik dan menggelitik. Setelah aku pikir-pikir, sebenarnya bangsa kita juga punya sifat-sifat seperti yang dijabarkan oleh pak Romi, hanya karena banyak faktor-faktor ‘aneh bin ajaib’ yang menyebabkan kesuksesan kita terhambat. […]
June 14th, 2007 at 15:20
pulang tepat waktu bukan berarti ngga kerja keras kan mas
pulang malam /pagi juga bukan berarti kerjas keras juga kan…
btw, saya setuju bahwa bangsa kita juga pantang menyerah
June 14th, 2007 at 15:27
Terima kasih pencerahannya mas..
Jadi semangat niy..tadinya ngantuk
June 14th, 2007 at 16:48
kalau indonesia dibanding dgn ngr ttg japan itu menurut hemat saya orangny agk susah diajak tuk maju, coz dasarnya dulu udah pernah dijajah…yach!? kebawa dech smp skr sistem pengajarany yg kurang bijak smp k ank cucu kita…. tpi jgn pesimis dulu kita hidup didunia ini merupakan persaingan jgn slg menyalahkan, mungkin instrospeksi diri lebih penting tu mengejar ketertinggalan qt sst nich dan itu merupakan contoh teladan yg baek tu’ kita semua….bener nga’ kaaaaawaaaaaaan2!? (teriakan slh satu murid didpn kelas mereka…hehe)
June 14th, 2007 at 18:39
artikel yang menarik. terima kasih mas udah mau bagi pengalamannya di Jepang. Saatnya kita bangkit. kalau mereka makan beras, kenapa kita kalah? mungkin sejarah Jepang dan Tiongkok dari negara penjiplak menjadi negara inovator bisa ditiru
tujuh kali tujuh empat puluh sembilan. setuju ga setuju yang penting percaya diri
June 14th, 2007 at 20:55
REALISTIS, satu lagi penyakit akut yang diderita kebanyakan orang indonesia, termasuk saya
padahal realistis adalah pedal rem yang sering menghambat impian kata si ikal.
June 14th, 2007 at 21:33
# Brain90: Tidak semua dari pak Harto negatif, saya tetap percaya bahwa ada kebaikan yang bisa kita ambil dalam kepemimpinan pak Harto
# Didats: Setuju mas. Mudah-mudahan kesampaian ke Jepangnya
# Nanang: Yup bener mas. Saya hanya cerita keadaan di Jepang seperti itu. Kalau mas Nanang bisa kerja keras di waktu jam kerja yang 8 jam/hari itu, ya itu sudah dinamakan kerja keras
# Mahendra025: Sip mas, mudah-mudahan bermanfaat
# Ardi: Yup setuju mas
# Budi: Hehehe semasa di SMA Taruna Nusantara dulu, guru kita sering bilang “rambut sama, bodi sama, makan dan minum sama, baju sama, uang saku sama, cuman kenapa hasil (nilai raport)nya bisa beda ya” …:)
# Dhika: Hehehe .. cuman kadang-kadang juga harus realistis mas
June 15th, 2007 at 9:38
saya pernah kerja di PMA jepang, saya liat yang luar biasa dari mereka ada kepercayaan terhadap bangsanya. bagaimana dia hanya mau memakai bank milik jepang, asuransi juga dari perusahaan jepang. dlll
beda banget sama bangsa kita, bangsa kita kurang percaya sama bangsanya sendiri … lebih bangga dengan label asing..
June 15th, 2007 at 10:39
Soal hemat, sama donk sama Ibu auliah, harga beras beda Rp. 2.000 aja dijabanin walaupun jauh dari rumah. Hal lain juga, misalnya kompor gas dan kompor minyak tanah. Kalau disuruh milih, beliau lebih baik menggunakan minyak tanah dari pada kompor gas, ya itu karena murah. Biar lama masaknya tapi uang yang keluar sedikit.
Soal pakaian atau sepatu/tas atau apapun, kalau belum robek, rusak atau kusam, ga usah beli baru lagi.
Kalau soal pinjam uang memang harus dikembalikan walaupun punya orang tua. Orang tua auliah begitu. Boleh pinjam tapi harus dikembalikan.
June 15th, 2007 at 14:13
Thanks, artikel yang bagus
Inspiring, dan mengingatkan kembali bahwa kita juga bisa bangkit dan maju.
Ditunggu bahasannya tentang ’shippaigaku’.
June 15th, 2007 at 16:21
# Laksono: Pengalaman menarik mas, mudah-mudahan bisa ditularkan ke rekan yang lain. Kadang nggak sadar kita kehilangan nasionalisme
# Auliahazza: Siplah berarti sudah mantab
# Jodi: Ok thanks
June 15th, 2007 at 18:36
Di negara kita pelanggar peraturan malah bangga karena dianggap jagoan, bukannya malu
karena dipikiran mereka adalah: “Peraturan ada untuk dilanggar”…
June 15th, 2007 at 21:15
hmmmmmmmmm……..
jangan bangga2in bangsa jepang dong
ngemeng aja nih…..
June 16th, 2007 at 0:15
satu lagi ne, maaf kalo nambah, bangsa indonesia itu banyakan takut
takut maju
takut ngakuin kesalahan
takut dikritik
takut gagal
takut, takut dan takut
sebenarnya indonesia punya segalanya, system ndak mendukung, bangsa jepang pun pernah seperti itu, mereka dikekang jadi ndak maju.
kalo bisa kita harus berani.
atikel nya top banget deh pak romi untuk bangsa yang memiliki segalanya ndak pantas kita jadi seperti ini
June 16th, 2007 at 7:56
# romi_swt: Sebenarnya bukan banggain jepang mas. cuman benchmark untuk belajar. Kita tetap harus bangga berbangsa indonesia
June 16th, 2007 at 14:18
anak kampoeng juga mau Pak.. menerapkan resep Jepang yang ditulis Pak Romi ini… Terima kasih banyak Pak..
June 16th, 2007 at 21:40
Halo Bung Romi, Salam kenal. Kalau boleh saya ingin menambahkan beberap dari hasil pengalaman dan pengamatan saya
1. Tentang inovasi, saya coba menambahkan sedikit. Dari pengamatan saya di Todai sejak tahun 2000 sampai skrg, mungkin Bung Romi juga melihat yang sama, ada konsistensi nilai yang membuat org Jepang lebih cepat berkembangnya. Konsistensi nilai yg saya maksud adalah semangat untuk memberi nilai tambah (added-value) pada setiap produk risetnya. Jadi dari awal (level s1), setiap mhs dituntut utk menghasilkan sesuatu yang selangkah lebih maju drpd produk/hasil sebelumnya. Added-value itu dapat berupa metodologi atau hanya dari segi ‘kemasan’. Konsistensi utk memberi nilai tambah inilah yg membuat sustainable-nya sebuah kemajuan.
2. Disiplin. Ini yang entah bagaimana memang sudah tertanam dari kecil tampaknya. Kadang saya pikir mereka ini sedikit fasis. Tapi memang ini mungkin yang dibutuhkan oleh sebuah bangsa untuk mengejar kemajuan.
3. Proud as a nation. Kalau dipikir mgkn jarang sebuah bangsa dpt begitu percaya diri seperti jepang. Sebagai bandingan kalau orang eropa atau US mencari kerja ke indonesia, belum-belum yg bersangkutan sdh dilayani. Dianggap lebih hebat drpd yg lain. Di Jepang yg saya lihat org asing justru harus berusaha beradaptasi dan menunjukan kemampuannya dua kali lebih keras drpd org asli agar mendapat penghargaan. Dari segi bahasa saja, harus lulus dl baru bs bekerja. hehe. Di Indonesia bule2 ga perlu susah2 belajar bhs Indonesia, kita malah yang dituntut belajar bhs mereka..hehe..
Tapi perlu dilihat juga org jepang bisa maju bersama karena mereka terdiri dari satu etnik dgn budaya yg sama. Jadi memang lebih gampang untk menyatukan pikiran.
Demikian Bung Romi, sorry kalau kepanjangan.
Dion
June 17th, 2007 at 10:25
# Anakkampoeng: sip mas, silakan
# Dionysius Siringoringo: Tambahan yang menarik. Thanks
June 17th, 2007 at 11:22
Dari Point 3 mengenai hidup hemat, apakah mungkin jepang termasuk kategori pelit
??????,
***Promosi ON***
NEch yg bikin penasaran, Ngomong-ngomong Cewek jepangnya gimana cantik-cantik…. klo boleh kenalin satu
June 17th, 2007 at 12:15
Kalau di kalangan ibu2 rumah tangga di Jepang, dikenal istilah “doketchi”. Jadi ibu2 RT Jepang berinovasi mencari ide bagaimana mensiasati keuangan rumah tangganya (pada umumnya ibu2 RT Jepang tidak bekerja di luar rumah) agar bisa sedikit menyisihkan penghasilan untuk ditabung dan digunakan untuk keperluan yang besar, misalnya membayar uang loan apartemen yang selangit atau untuk membayar uang masuk sekolah. Contohnya : ngirit belanja sayuran dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sayuran agar tidak ada bagian yang terbuang percuma, ngirit uang makan dengan kebiasaan membawa bento (bekal makanan) untuk suami di kantor dan anak di sekolah, ngirit listrik dengan penghematan energi listrik, misalnya di dalam kulkas diberi lapisan plastik, jadi waktu kulkas dibuka udara dingin tidak keluar banyak, penghematan gas pemanas air dengan cara air bak dimasukin pet-pet botol yang terisi air sehingga permukaan air jadi tinggi, cukup untuk berendam, dll.
June 17th, 2007 at 14:53
Wahh…… ada lgi g artikenal yang kaya gini ????
Emang ….. gw rasa bangsa kita skrng ini dah menuju kebangkitan, Orang Indonesia dah sedikit bergeser dah g kaya dulu lagi, liat aja musik dalam negeri kita yang jadi raja di negeri sendiri ampe ke negara tetangga, politik Indonesia di nilai terbuka ama orang asing meskipun masih saling menjatuhkan, senapan TNI produk PINDAD and many more…….
June 17th, 2007 at 23:50
Budaya baca, konon katanya di negeri ini masih rendah.. Gmana caranya y agar masyrakat indonesia bisa rajin baca ??
Konon katanya lagi, karena negeri ini subur jadi masyarakat indonesia agak malas, beda di negeri sakura yang konon lagi SDA nya kurang subur (mhn maaf jika salah,lgs dikoreksi
)maka orang2 nya dituntut utk bisa bertahan..Makanya konon lagi Jepang bisa makmur sampai sekarang..
June 18th, 2007 at 0:30
artikel yang bagus sekali, inspiring.. sifat2 yang patut ditiru. Terimakasih.
saya setuju dengan pendapat belajar wordpress
kelemahan indonesia itu: kebanyakan orang indonesia ga bangga dengan indonesia itu sendiri.
jadinya kalo kerja ga bener ato telat datang ke suatu acara keluar deh kata2:
“yah namanya juga orang indonesia…”
seharusnya waktu kecil kita jangan dibebani ama pelajaran2 yang rumit2.. seharusnya kita diajarin pelajaran agama, moral, dan sifat2 seperti ini.. pelajaran lainnya ntar aja klo 3 hal itu dah bener.
June 18th, 2007 at 2:49
Sebelumnya salam kenal mas Romi.
Bagus sekali artikelnya dan saya setuju bahwa bangsa Indonesia termasuk bangsa unggul.
Contohnya ya mas Romi ini
June 18th, 2007 at 9:44
# DK: Tentang hemat dan pelit, tuh dah dijawab mbak Wulan
# Nusantara: Kayaknya di blog saya banyak artikel seperti ini mas
# Andi Bagus: Perlu kerja keras supaya kita semua punya budaya baca. Warisan leluhur dan hasil penjajahan membuat kita lebih menyukai cara lisan daripada tulisan. Salah satu terapi mungkin mengajak semua orang untuk menulis, kalau ada keinginan menulis pasti otomatis ada keinginan untuk baca. Nggak mungkin orang nulis tanpa baca
# Gazin: Indonesia termasuk yang paling padat pelajarannya dibandingkan dengan negara lain termasuk Jepang dan Singapore. Itu sejak SD, SMP, SMA bahkan Universitas.
# Heri: Hehehe saya sih masih belum apa-apa, perlu banyak belajar dan belajar
June 18th, 2007 at 16:05
Cukup mengesankan dan memecut jiwa ini untuk bisa lebih dalam mengoptimalkan dan benchmark kemampuan kita ini, so Indonesia Must be the best.Ok thanks Mr Romi sangat bermanfaat intinya kita ambil sisi baiknya dan kita buang sisi buruknya demi kemajuan kita eh negara kita..
wassalam
June 19th, 2007 at 11:29
Tulisannya menarik dan inspiratif nih pak boss
June 19th, 2007 at 14:06
Yth. Pak Romi.
Sepertinya sudah ada sebagian bangsa kita yang mampu bekerja dengan konsep bangsa Jepang seperti yang Bapak tulis. Bahkan lebih bagus lagi. Memang segala sesuatu harus dimulai dari diri kita sendiri. Sulit kalau menunggu datangnya perubahan, ya tidak akan pernah datang…
So, berubahlah dari sekarang. Kalau tidak salah kaizen ya Pak?
June 19th, 2007 at 15:57
Jadi inget ini
Otak Jerman
Semangat Jepang
Hati Mekkah
Tapi tetap jadi Orang Indonesia
Memimpikan Indonesia bisa sangat maju
Sehingga dengan percaya diri bisa bilang
Otak Indonesia
Semangat Indonesia
Kepribadian Indonesia
Tapi tetap berhati Mekkah
:)
June 20th, 2007 at 9:45
Tulisanya mbikin saya membara…..
Thanks
June 21st, 2007 at 0:55
Artikel yang menarik…
Ayoo.Bangkitlach Bangsaku!!!…. Indonesiaku !!!
June 21st, 2007 at 3:15
Mas Romi,
Terima kasih banyak atas kritikannya, karena ternyata dari 10 masih ada 5 yang belum saya punya.. terutama point 3
Untuk mas kepret, mbak unissa81, mohon maaf sebesar-besarnya atas kekurangan saya ya…
Sedikit protes Mas Romi, semua kan ditanggapi, yang dari mBak Wulan kok tidak
#Bu Wulan, sharing lagi dong lebih banyak. Atau bagaimana kalo kita buat blog baru: www.hemathabis.info ?
Nuwun
June 21st, 2007 at 15:49
Terima kasih Pak Romi atas pembakaran semangad untuk terus maju, saya punya keyakinan yang besar bahwa bangsa ini suatu saat bisa maju dan unggul seperti Jepang (atau bahkan lebih)….amiin…
Tapi Pak Romi belum menjelaskan faktor “non-teknis” yang menyebabkan Indonesia terpuruk dalam teknologi dan ekonomi itu. Apa terlalu banyak dosa ya?
June 21st, 2007 at 18:13
# Thanks untuk mas Dwiyanto, mas Zikri, mas Raffael, mas Daryoko atas responnya. Mudah-mudahan bisa memotivasi kita semua
# Daniyal: hehehe sip mas setuju
# Anakagung: Mbak wulan sudah saya jawab, tapi di tempat lain
# /Mee: Mudah-mudahan lain kali bisa nulis, apa itu faktor non-teknik …heheh
June 21st, 2007 at 21:57
klo boleh tambahin 1 dari budaya indonesia yg sebenernya patut di contoh tp belakangan ini sudah bnyk yg meninggalkannya
yaitu : budaya sopan santun
June 22nd, 2007 at 13:25
Satu lagi yang menjadi penekanan, orang2 jepang adalah orang yang sangat fokus, fokus dan fokus. Misalnya kalo mereka seneng robot, sampai puluhan tahun pun mereka menggeluti itu. Lihat saja robot buatan mereka udah hampir bisa ngerjain berbagai pekerjaan manusia, kecuali nyuci baju hee…hee…
June 22nd, 2007 at 15:05
weleh bagus banget tips nya… aku coba ah… sapa tau etos kerja orang jepang bisa di terapkan di Indonesia dan akan majuu
Merdeka
June 22nd, 2007 at 16:46
wah susah susah… negara kita banyak perbedaanya, banyak etnis, banyak agama!! itu susah untuk disatukan.
hal yang akan membuat bangsa indonesia maju:
1: jalur telekomunikasi dan transportasi sudah sedemikian MURAH nya sehingga kita dapat berhubungan dengan siapa aja, ngak perlu berpikiran negatif karena jarak jauh jadi ngak bisa tau kondisi.
2. Masyarakat sudah semakin berbaur penduduk pribumi dan penduduk non pribumi sudah banyak membentuk komunitas tanpa perbedaan lagi.
itu saja dulu setidaknya beberapa puluh tahun lagi tunggu generasi berikutnya!!
:D salam buat semuanya.
June 22nd, 2007 at 20:49
Kalo boleh, saya tambahin 1 lagi pak resep suksesnya yaitu do’a menurut keyakinan kita masing2.
Menurut saya, do’a itu sangat penting agar kita selalu dapat petunjuk dari Tuhan YME dalam mengarungi kehidupan ini.
Thank’s
June 23rd, 2007 at 1:56
Ya Pak kalau ada yang bagus diambil dan disesuaikan, kalau ada yg berbeda dengan keyakinan kita tinggalkan….salam kenal pak….blognya ramai sekali + penuh ilmu juga
June 23rd, 2007 at 16:19
Bagus sekali mas artikelnya.. Nah mestinya yang begini ini nih yang ditiru. Sekolah di Luar Negeri bisa menyimpulkan hal-hal positif yang patut dicontoh oleh bangsa Indonesia. Kalau tidak ya Indonesia tetap saja jadi Babu negara maju seperti Jepang.
Sayang pola hidup yang menyeimbangkan antara dunia dan akherat tidak disuburkan di Indonesia. Akherat memang tetap nomor wahid, tapi jangan lantaas ninggalin dunia hingga melarat.
Salam
NG
June 24th, 2007 at 19:41
soal ngirit bukan berarti kita ngirit segala-galanya … bukannya begitu mbak Wulan dan Mas Romi ?
Kan tidak perlu 4 sehat 5 sempurna, vitamin juga ngirit kan ?
June 24th, 2007 at 23:21
Mas anakagung & Mbak Auliahazza: Kalau saya telaah lebih mendalam tentang kebiasaan hidup hemat orang Jepang itu karena keterbatasan sumber daya alam mereka. Mereka harus menyisihkan uang untuk membayar loan apartemen, karena harga rumah dan tanah di Jepang sangat sangat mahal. Silahkan lihat di peta luas geografis Jepang mungkin hanya seluas pulau Sumatera ditambah pulau Bali. Bandingkan dengan Indonesia. Di Jepang bisa punya rumah BTN tipe 45 seperti yang kami tinggali, merupakan suatu kemewahan. Begitu pula dengan energi listrik dan gas. Bukan rahasia lagi Jepang adalah negara pengekspor Gas alam cair, padahal mereka membutuhkan energi gas yang besar untukmenghangatkan air, terutama di musim dingin…brrrrr. Jadi tarif gas di sana pun sangat sangat mahal….bila dibandingkan dengan di Indonesia. Begitu pula dengan sayur mayur, karena keterbatasan lahan pertanian, harga sayur mayur di Jepang pun relatif mahal, oleh karena itu mereka mengembangkan sistem tanam tanpa media tanah, misalnya hidroponik. Kesimpulan : Alhamdulillah,sungguh saya merasa sangat bersyukur lahir ,besar dan tinggal di Indonesia.
Jadi mari bersama-sama kita membangun bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah itu agar menjadi bangsa yang maju, dan mampu mensejahterakan rakyatnya.
#Pak romi, gomen ne, jadi menuh2 in box comment, habis ada yang nyentil sih…he..he
June 26th, 2007 at 17:01
Alwin said, kalau pak Romi pakai istilah “Inovasi” di point 5. kalau saya pakai istilah “ATM”, Amati Tiru Modifikasi
hehehhe…
Sesuai dengan yang dikatakan diatas, menurutku beneer skali tuh.
Orang Indonesia kan suka banget meniru, menyalahkan orang lain tanpa melihat diri sendiri, suka gak realistis. Liat aja seluruh tanyangan di TV, banyak gak realistisnya dan akhirnya jadi jagoan mimpi semua deeh.
June 26th, 2007 at 23:49
bangsa kita sebenarnya punya falsafah dasar itu… namun terlupakan.. karna seringnya kita mencontoh bangsa2 lain.,..
sebenarnya kalo kita mau maju…. kita kembali ke nilai2 luhur… biarkan budaya lain itu sebagai pertimbangan dan pemicu kita untuk berhasilll
:)
June 28th, 2007 at 14:01
kebanyakan kisah sukses orang indonesia adalah dlm hal IQ. Bgmn dg EQ?
Berapa banyak orang indonesia yg pinter yg kerja di luar negri, dan bukannya di dalam negri? Yg ada di dalam pun sekarang pada berbondong2 keluar. Entah nasionalisme nya udah ilang, entah putus asa dg kondisi di indonesia.
Dan berapa persen kah orang2 pinter tsb dibanding penduduk indonesia????
June 29th, 2007 at 11:58
Tulisan Pak Romi tentang budaya bangsa Jepang ini sangat menarik. Hanya ada satu hal yg ingin saya komentari, yaitu tentang budaya hemat bangsa Jepang yang saya lihat saat ini sepertinya sudah kurang relevan lagi.
Begini Pak Romi, beberapa waktu lalu saya sempat “jalan-jalan” ke Jepang bersama saudara saya yang kebetulan dulu pernah tinggal di sana selama 2 tahun dan kemarin itu mengunjungi teman seperjuangannya dulu yang sampai sekarang masih bertahan di sana.
Waktu itu saya dibawa jalan-jalan keliling kota pada waktu malam hari, dan saya lihat banyak sekali anak-anak muda Jepang yg membangun/memodifikasi gila-gilaan mobil-mobil sport Jepang, seperti Nissan Skyline, Toyota Supra, dsb untuk dipakai di ajang drifting jalanan, tentunya ini dengan biaya yg cukup mahal lho. Belum lagi pengendara motornya (bikers) yang modifikasi motornya juga ga kalah gila.
Saya lihat gejala ini juga mungkin karena generasi muda Jepang saat ini tidak merasakan hidup susah seperti para orang tua nya dulu.
July 1st, 2007 at 13:41
yth pak Romi… saya baru menyenangi robot saya ingin sekali membuat robot!!! tetapi saya kurang ilmu,bisakah pak romi memberitahu saya cara membuat robot??? kalo saya tahu satu cara,saya ingin bisa mengambil inspirasi dari situ untuk membuat robot model baru…
July 2nd, 2007 at 22:16
Yth Pak Romi, saya salah satu pengagum Bapak, karena Bapak telah membuat salah satu situs komunitas belajar tentang Ilmu Komputer yang menurut saya sangat berguna sekali bagi setiap orang yang ingin mengetahui dan belajar komputer.
Saya ingin menjadi salah satu programer web handal di Indonesia.
Salam hangat untuk semua…
July 6th, 2007 at 17:07
[…] Iseng-iseng bicara baca buku, rasanya kita harus ingat dengan budaya warga Jepang. Seperti diceritakan oleh banyak orang yang pernah ke Jepang, salah satunya Mas Romi Satria Wahono, orang Jepang itu selalu mengisi waktunya dengan membaca.. Inilah salah satu budaya yang harus ditumbuhkan di Indonesia. […]
July 10th, 2007 at 3:42
ada artikel tentang belajar sukses dari jepang juga, yaitu di http://www.penulislepas.com/v2/?p=573. Artikel ini adalah resensi dari buku, Judul Buku : RAHASIA BISNIS ORANG JEPANG (Langkah Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia)
Penulis: ANN WAN SENG
Penerbit : Hikmah ( PT Mizan Publika) Jakarta
Cetakan : I, April 2007
Tebal : 301 halaman
Ada yg sudah baca?
July 10th, 2007 at 3:49
Komentar lagi, tentang jam kerja:
“Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun”, itu di tahun 1960. Sedangkan pada tahun 1992 jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun)
Ada penelitian tentang jam kerja bangsa kita?
July 13th, 2007 at 9:48
kayaknya bener kata “belajar wordpress”, kita butuh motivasi positif. Sederhananya, saya dulu waktu SD, diajarin bahwa bangsa indonesia itu ramah-ramah, sehingga bangsa luar bisa kagum dengan keramahan bangsa kita. Hal ini begitu menghujam di hati, sehingga ketika pulang naek angkot, lewat kebun raya, ketemu orang bule, otomatis slogan “bangsa yang ramah” ini muncul dan saya berusaha keras menjaga bahwa “indonesia bangsa yang ramah” ini bukan hanya omongan belaka. Tapi ya seiring perkembangan umur dan informasi yang didapat, akhirnya pudar juga, terlebih ketika banyak terjadi aksi anarkis, terorisme dan perang sipil. Yang paling dominan menggeser slogan yang dulu tertanam di hati adalah film2, sinetron, komedi2 yang nyindir2 bangsa sendiri dengan bilang “yah.. bangsa kita mah biar jelek asal beda”, “pejabatnya korupsi, rakyak makin miskin” dan lain sebagainya.. kalo difikir manfaat dan mudhorot dari kata2 itu lebih besar mana? manfaat? atau mudhorot?
July 17th, 2007 at 0:05
Bagus bener mas artikelnya tapi menurut saya masih “lebih manusiawi” orang indonesia karena saya pernah denger dari temen saya kalo orang jepang kurang punya sifat toleran;ga mau nerima kesalahan sedikit saja,semuanya harus sempurna,jadi “kurang manusiawi”. Itu kata teman saya entah benar atau ga benar,karena saya belum bertanya langsung sama orang jepangnya sendiri sih…
August 2nd, 2007 at 10:46
Pantas Jepang bisa maju ya, padahal pak Harto dulu sudah mencanangkan program tinggal landas, kok malah terpuruk lagi? Apa yang salah dengan negeri ini Pak?
Tulisannya bagus,!
August 6th, 2007 at 10:32
waduh lama gak bukak situsnya….ada postingan bagus-bagus dari Mas Rommy
August 10th, 2007 at 12:43
Gak tau y bener apa gak,tapi temenku yg pnrh kerja di jepang pernah cerita klo di sana tu sopan santunnya kurang, terutama terhadap orang tuanya sendiri,kecendrungan untuk mendidik secara keras terhadap anak memicu dendam dari anak ketika anak tumbuh dewasa, perlakuan keras yg mereka terima sewaktu kecil terkadang dilampiaskan kepada ortunya ketika mereka sudah besar dan mapan.Katanya sih di sana elo2,gw2 silahturahmi kurang antar keluarga…Disana agama jg gak jelas, cm di jadiin gaya2an aja ngambil wahnya doank…seperti contoh ketika mereka mo nikah mereka lebih suka nikah di gereja yang megah cm untuk prestise aj gak tau agamanya apa…klo utk bnr2 ibadah kayanya sih gak..
August 14th, 2007 at 14:19
salam, om iyo…. boleh minta artikelnya kan yah..om…
thanks for u article…..
August 15th, 2007 at 8:59
orang indonesia juga pantang menyerah, walaupun sudah sejuta (atau bahkan satu milyar, atau bisa jadi sudah setrilyun, …dst) kali diteriaki ‘pelacur’ (tamak, maling, rampok, korup, …dst) tetap aja ‘lacur’…!!!
August 17th, 2007 at 2:04
Bagaimana dengan Indonesia???
Ayo bangkit bangsaku….maju negeriku….MERDEKA…:D
August 22nd, 2007 at 17:46
pa’e apa ndak bisa ngehargain bangsa sendiri tanpa harus mbandingin ma negara laen?
jenengan mestine to harus buat artikel tentang keunggulan bangsa indonesia ajah trus baru cari kejelekannya buat introspeksi
gak harus mbandingin khan………
matur nuwun
August 22nd, 2007 at 19:45
# Bedjo: Saya tidak pernah menjelekkan bangsa sendiri lho. Coba disimak lagi paragraf demi paragraf artikel saya
August 31st, 2007 at 18:09
Assalamu`alaikum
Pak ! saya sangat senang sekali, dapat menemukan web site ini, karena saya emang membutuhkan banyak informasi, saya adalah mahasiswa jurusan ekonomi islam yang akan mengajukan skripsi tapi saya bingung apa judulnya, tapi saya mempunyai topik, saya ingin mengulas ada apa sebenarnya dengan jepang, mengapa negara yang miskin tapi dalam bidang ekonomi bisa menjadi macan asia, dapatkah bpk membantu saya? oya pak, saya juga punya cita - cita ingin melanjutkan S2 kejepang dengan beasiswa monbukaghosu, dgn jalur U to U, yang saya ketahui saratnya kita harus mencari profesor untuk merekomendasikan kita menjadi mahasiswanya, dapatkah bapak membantu saya? terima kasih, Ari Gato
September 2nd, 2007 at 14:23
stuju saya ma mas romi…
disini justru ngebuat kita berkaca “seperti apakah kita”
lagian kebanyakan membanggakan diri sendiri itu juga ga bagus…
dan ga usah di jelek2in, bangsa kita juga emang udah begini….
September 4th, 2007 at 17:35
gw setuju ma pendapat mas romi ttg comment dri bedjo,dari artikelnya bs gw ambil kesimpulan bahwa bangsa Indonesia tidak jauh berbeda dengan bangsa Jepang, hanya saja qt suka membuat kesimpulan di awal sesuatu bahwa qt ga bs apa2, dan patah semangat di awal,,ato patah semangat ketika merasakan kegagalan. sepertinya Gw mo nyoba resepnya, spe tau org laen di sekeliling gw jd tertular resepnya..hehe
oya,,mas romi adain seminar lagi dunkz dSTT,,gw ska ma cara mas menyampaikan materi,,menarik dan mudah dipahami..
September 5th, 2007 at 8:07
faktor non teknis = korupsi…
ya tohh???
September 10th, 2007 at 15:16
nah, itu penyakit ringan tapi susah diberantas.bikin pusing aja!! apalagi negara qt termasuk 10 besar kasus korupsinya.
September 19th, 2007 at 2:48
Kalo menurut sudut pandang saya, suatu bangsa/negara bisa maju jika pendidikan rakyatnya di utamakan. Begini analoginya.
Mengapa Uni Soviet yang perfaham komunis bisa melangkahi Amerika yang berfaham Liberal pada masa jaya-jayanya? Notabene, kita tahu sendiri Komunis seperti apa? Jawabannya adalah karena Uni Soviet menggratiskan rakyatnya untuk sekolah hingga ke perguruan tinggi. Hasilnya: Pendaratan Manusia pertama ke bulan. Masih ga percaya? Coba liat negara negara yang pemerintahnya tidak menfokuskan pada pendidikan, seperti Indonesia. Saya punya bibi yang semua saodaranya sekolah di Jerman, dan ada sebagian lagi melanjutkan kuliah di Perancis. Biasanya NOL alias gratis. Bisa di pastikan jika orang orang berpendidikan mempunyai cara berpikir yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan.
September 24th, 2007 at 11:30
saya ga begitu tau tentang jepang, tapi saya suka lagu jepang dan dorama jepang, film mereka lebih mengena emosionalnya dibanding film film indonesia, membaca tentang jepang diatas membuat saya pengen nyoba suatu saat kejepang. jepang memang menarik.
October 1st, 2007 at 8:58
Tidak diragukan orang Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa besar. Tapi menurut saya penyakit mental yang kronis sepertinya harus segera disembuhkan. Agaknya kita perlu lebih banyak role model, psikolog, dan motivator lainnya agar bisa memperbaiki kondisi mental kita. Prinsipnya, semua hal bisa dipelajari. Tetapi membangun mental, perlu banyak refleksi diri dan edukasi sejak dini. Ayo bangun Indonesia!
October 2nd, 2007 at 17:38
Koniciwa
wow……..setelah membaca ini, semangat saya untuk melanjutkan Sekolah (S2 & S3) ke Jepang semakin membara………
menurut saya perubahan itu memang harus dari diri sendiri (contihnya bang romi Satria Wahono) yang sangat peduli sama kemajuan bangsa ini……..
btw, boleh ngak saya konsultasi secara pribadi ama bang romi lewat email….
alamat emailnya apa ya?
October 7th, 2007 at 13:45
Aku sempet tuh TK di sana, sekarang saya 20 tahun, iya bener tuh, belajar mandiri, dulu sih ga tahu itu namanya mandiri, tapi kalo udah di sekolah ya beresin buku sendiri, bawa makanan sendiri, ada piket, tidur siang juga, tapi paling bikin males kalo FUYU atau musim dingin, wuiiiiih pakaian berlapis, dinginnya bikin nguantuuuuk, tapi aku SD sampai sekarang sih di Jakarta, masih terbawa Jepangnya kadang, yaitu, ktika belajar ya belajar, bermain ya bermain jadi ada waktunya, dan berhemat dengan cara ke kampus naik Bus dong . . . hehehehehehe
October 7th, 2007 at 21:00
yang jelas,indonesia sudah terlalu banyak yang menjadi “komentator”.jadi yah…………….gitulah.bagaimanapun juga.ini adalah INDONESIAKU.bagaimana kita yang mungkin bisa dikatakan punya sedikit kelebihan dalam memandang INDONESIA ini sudah selayaknya kita memajukannya secara bersama2
October 27th, 2007 at 11:05
beruntunglah daku menemukan web nie makasih …
yg tadinya nguantuk, lemes, lesu, jadi tergugah SEMANGAT LAGIIII…!
dan Bersemangatlah tuk memotivasi dan menumbuhkan minat baca bangsa Indonesia, termasuk dakyu (hehehe)
dan mengurangi penyakit Maag lesnya, yang menginginkan segalanya serba instant.
Membaca ini, jadi termotivasi tuk membangun diri sendiri….dulu, termasuk membangun bangsa….kan?
November 12th, 2007 at 14:58
orang indonesia memang gak bisa lepas dari iri,dengki,fitnah.kalau ada orang lain mau maju??heee……iri wes.fitnah wes,sampek mati.
November 17th, 2007 at 11:55
Kalau kita ingin maju seperti halnya bangsa jepang, kita memang perlu sekali contoh-contoh nyata dan motivasi-motivasi seperti yang kang romi tuliskan di atas, tetapi ingat jangan cuma hanya diketahui dan dihafal saja akan tetapi harus praktekan di dalam kehidupan sehari-hari.
November 22nd, 2007 at 14:32
disaat bangsa lain udah keluar dari lubang, dan saling mengejar dalam kemajuan, kita masih berkutat di lubang, saling sikut, sikat, sesama bangsa.,,, Sadarkan Kita semua Tuhan,,, smoga anak cucu saya udah berbinar menikmati Indonesia Macan Asia…
December 10th, 2007 at 10:07
Hanya satu faktor yg membuat kita tertinggal,budaya malu yang lenyap dari bangsa kita…spt: tidak malu untuk tidak membaca,,,tidak malu untuk tidak disiplin,,,dan tidak malu-malu yang lain.
December 15th, 2007 at 21:10
postingan yang bagus… gue copy paste yah artikel nya ..!!
December 19th, 2007 at 5:52
Aduh telat aku baca resep suksesnya bangsa Jepang.Tapi biar begitu cukup memberikan inspirasi untuk melaju pantang mundur. Mengenai kebiasaan membaca, bangsa Perancispun punya hobby membaca, mungkin keadaannya hampir mirip dengan orang Jepang yang begitu naik kendaraan umum langsung buka buku, dan asyik membaca. Karena melihat lingkungan seperti itu, aku jadi ikutan bawa bacaan apa saja yang bisa dibaca, ternyata benar lho, selain mengasyikan juga menambah banyak wawasan. Enggak bakalan ketinggalan topik pembicaraan … dan selain itu pikiran kita senantiasa disibukan oleh hal2 baru dan positif, jadi untuk berfikiran buruk mengenai orang lain, enggak ada waktu. Nah kapan ya orang Indonesia bisa meniru hal ini ?
December 27th, 2007 at 3:30
Makasih Pak Romi, tulisan ini memberi inspirasi dan semangat baru.
Dimulai dari diri sendiri ditularkan ke orang lain.
Dari satu jadi 10 jadi 100 jadi 1000 jadi 10000 jadi 1000000 dst…
Semoga bangsa ini semakin berubah ke arah yang lebih baik….
December 27th, 2007 at 11:03
SUKSES BUAT INDONESIA!!!!!
December 28th, 2007 at 16:57
selain yg disebutkan oleh mas romi, pernah ga terfikir kan oleh qta2 knp jepang, china, korsel bisa menjadi negara maju?
1.jepang bisa buat mobil dan elektronik yg notabene brand nya dah ga diragukan
2. china bisa menjadi duplikator dengan harga murah
3. korsel juga meniru langkah jepang untuk menjadi negara pembuat mobil dan elektronik
bagaimana negara republik tercinta qta ini? punya kebanggaan pembuat pesawat terbang tetapi tidak terawat dengan baik sampai2 ilmuwannya banyak yg hijrah ke malaysia yg mempersiapkan diri untuk membuat pesawat terbang.
apakah negara qta hanya akan mempunyai kebanggaan sebagai negara koruptor??/
December 31st, 2007 at 23:18
Sebetulnya masih kurang apa yang menjadi resep orang jepang itu mestinya ditambah disiplin. Sebaiknya kita contoh 10 resep itu karea merdekanya bersama-sama antara indonesia dan jepang tapi justru jepang lebih maju duluan padahal tanahnya tandus setelah di bom atom, apa karena indonesia sudah subur makmur yang membuat orang menjadi males ya? apa indoesia harus di bom atom dulu supaya bisa maju ya? jangan suka menjelek-jelekkan bangsa sendiri karena kita hidup di negara ini dapat semua fasilitas yang ada di bumi negara ini, sebetulnya negara kita harus bisa lebih maju dari negara-negara asia khususnya karena kita mempunyai jumlah penduduk yang banyak tentu saja mempunyai SDM yang tidak kalah bersaing dengan negara lain, cma masalahnya salah didik kali ye sejak awal jadi akhirnya menjadi seperti ini menjadi negara yang tertinggal tidak maju-maju.
January 14th, 2008 at 11:11
[…] 10 Resep Sukses Bangsa Jepang […]
January 14th, 2008 at 16:13
[…] buat indon…. January 14, 2008 Posted by esemelekete in buah pikiran, curhat. trackback akhir2 ini entah mengapa gw ma beberapa temen gw selalu menyebut indon untuk setiap orangindonesia yang “ngawur”.. he he.. browsing punya browsing… ternyata indonesia perlu belajar lebih banyak ma jepang kalo mau maju.. dan sepertinya suuuullliitt banget deh.. di negara kita masih banyak “indon” soalnya.. jadi begini ceritanya… dapet dari sini : http://romisatriawahono.net/2007/06/13/10-resep-sukses-bangsa-jepang/ […]
January 23rd, 2008 at 10:12
makasi ya, artikel ini bikin saya inget lagi cita2 meneruskan kuliah saya di jepang, tapi ya ampun, sekarang ini kok kurang kuat kemauan. IP lagi anjlok pula. padahal pengen bangsa ini maju, ternyata saya masih kurang keras kemauan…
January 23rd, 2008 at 13:23
saya bangga, bangsa indonesia saat ini ada orang-orang seperti Pak Romi, Pak Ono dan Pak Habiebie dan juga generasi yang lebih muda lainnya yg sudah berprestasi di bidang pengetahuan dan teknologi ( seperti olimpiade fisika, matematika ) dll.
Ternyata orang indonesia punya potensi untuk maju.
Saran saya, mari kita melangkah maju tanpa menunggu semua persiapan sempurna ( pemerintah yg perfect , soalnya gak jelas kapan perfectnya ). Misalnya, dengan rajin belajar baik otodidak maupun formil, dan tidak lupa menularkan pengetahuan kita kepada sesama bangsa.
Amien.
Trims Pak Romi,semoga Allah mencatat tulisan2 yang mencerahkan dari Pak Romi,sebagai amal yang bermanfaat dan tak akan putus di sisi-Nya.
Wassalam.
January 26th, 2008 at 1:47
Tulisan Bapak Romi tentang Kesuksesan Bangsa Jepang memang sangat baik ditiru oleh orang orang yan mau Maju, tetapi Saya menyimak komentar komentar yang timbul bahwa ada Orang yang memiliki Pikiran yang masih belum mau belajar dari kelemahan Kita sendiri.
Tulisan Bapak Romi bukan untuk memojokkan maupun meremehkan Bangsa Kita sebagai Bangsa Indonesia tapi menberikan suatu gambaran untuk mewujudkan Kesuksesan yang pada dasarnya tidak bisa dipungkiri maka Kita mesti realitas dengan keadaan Negara Kita, Marilah Kita semuanya Memulai daripada tidak sama sekali .
Negara Indonesia adalah Negara Besar yang mana SDMnya cukup banyak dan Sumber alamnya juga banyak sekali tapi sekali lagi Kita harus berani mengakui bahwa Kita mengalami kemundurun mungkin Saya menberanikan diri kemukakan beberapa kelemahan yang ada pada Kita yakni :
1, Disiplin , masyarakat Kita belum terbiasa dengan disiplin contoh : Seperti Jakarta yang sebagai
Ibu Kota tapi Sampah, Macet karena nagak ada disiplin.
2. Banjir saja tidak bisa diatasi padahal sudah terjadi berulang ulang dan juga Macet seperti Kebijakan Gubenur untuk atasi Macet maka buat jalur Bus way tapi bukan bukan jalan baru tapi pake jalan yang ada, Saya rasa anak kecil juga manpu buat kebijakan tersebut dampaknya Jalanan makin Macet .
3. Tingkat Korupsi yang tinggi .
Memang sangat sulit untuk menbenahi sesuatu yang sudah mengakar bahkan sudah Budaya karena Dewan yang diatas seharusnya mengontrol Jalannya Pemerintah tapi banyak yang melenceng, Perlakuan Hukum yang tidak adil
tidak sesuai dengan Slogan “Di mata Hukum semuanya sama ” itu Omong kosong buktinya Mantan Jenderal, Pejabat, ditahan di Rutan khusus yang memiliki Fasilitas yang istimewa dengan dalih takut keselamatan
tidak terjamin tapi jika maling kecil yang curi demi perut dilakukan kayak apa .
Kunci untuk menyelamatkan Negara Kita adalah Hukum ditegakan dengan Tegas dengan tidak pandang bulu dan
Pemerintah meningkatkan Kesejahteraan Pegawai Negeri, harus Kita harus akui jika dengan Penghasilan sangat Minim mana mungkin bisa bekerja dengan baik dan tanggung jawab.
Yang Korupsi dihukum seberat beratnya bila perlu HUKUM MATI saja.
Semoga Bapak SBY sebagai Bapak Presiden mendapat Dukungan dari Pembantunya yang benar benar Bersih mendukung Program Kerja Beliau bukan Pejabat Penjilat yang malah lebih sering berkutat di Istana daripada Kantornya sendiri.
Demikianlah tanggapan saya dan mohon maaf apabila ada
tulisan saya yang menyinggung perasaan .
January 26th, 2008 at 10:00
#Usin: Setuju, alhamdulillah masih banyak yang jernih menangkap hakekat tulisan saya. Meskipun sayapun memaklumi berbagai komentar yang miring, karena ini semua bisa jadi cambuk semangat menata kembali republik tercinta ini.
January 31st, 2008 at 9:46
Terima kasih pak Romi, saya jadi lebih termotivasi, satu hal yang paling saya hapal dari perusahaan Jepang yaitu Anzen Dai Ichi
March 13th, 2008 at 16:17
Tolong donk faktor2 apa saja yg mempengaruhi berkembangnya negara2 maju,spt AS,Jeang,Inggris,Jerman klo bisa dikirim ke emailku ya.Terima Kasih!!!!
March 19th, 2008 at 10:27
[…] 10 Resep Sukses Bangsa Jepang […]
March 25th, 2008 at 16:17
[…] Dengan banyak membaca biografi para tokoh, anda bisa lebih bijak dalam berbuat. Kita bisa menggunakan berbagai strategi para tokoh dalam berbagai masalah yang anda hadapi di dunia. Kita bisa menjadi The Jumper dalam arti yang sebenarnya, berpindah dari satu kehidupan tokoh ke tokoh yang lain, dari suatu masa ke masa yang lain. Anda bisa mengetahui tips dan trik mereka dalam menempuh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, melakukan bisnis, atau akhirnya mungkin anda bisa mengetahui bagaimana mempersingkat waktu untuk mendapatkan kesuksesan hidup. […]
March 25th, 2008 at 22:58
Saya setuju sekali pak dgn kata2 “Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas,..”, buktinya kalo orang Indonesia ke luar negri nurut2 aja ngk boleh buang sampah sembarangan, tapi kenapa kalo balik ke Indo jd seenaknya lg..
April 5th, 2008 at 21:40
indonesia…ooo indonesia
harga naik cuma bisa demooo….
terus ngerusuh……
cuma bisa nyalahin pemerintah….
udah korupsinya nomor 1 lagi……
apa lagi yang kurangg….
plus g ada etika lagi……
pluss ndeso lagi….
tempat2 umum pd dirusak ama orang2 deso
tahunya g peduli dan g tanggung jawab
krg apa lagiiiii….
walupun kita kaya SDM tapi bodoh
ya sama aja hidup di primitif
April 14th, 2008 at 12:25
Bagus bgt pak reviewnya, sbg refleksi bg bangsa ini untuk terus optimis memperbaiki diri. Saya jg yakin SDM2 yg ada di Indonesia juga tidak kalah unggul dgn bangsa jepang.
Namun bgmn ya pak cara mengurai benang kusut negri ini yg bpk bilang “faktor non teknis”…. sy ikut mikirin jg nih, tp blum ketemu solusi…
Mungkin benar kata Aa’ Gym :
3M, mulai dr diri sendiri, mulai dr yang kecil, mulai dr sekarang,
Bergeraklah karna DIAM itu mematikan ^____^
April 20th, 2008 at 14:29
Saya setuju dengan posting pak Romi. Satu hal yang bangsa Indonesia harus belajar dari mereka yaitu menghargai pendidikan, menghargai guru dan open minded terhadap ilmu pengetahuan.
Salah satu dosen saya yang berapa kali diundang mengajar di Jepang, beliau bercerita bahwa bangsa Jepang juga mempelajari Kitab-kitab seperti Al-Quran.
Juga mempelajari dokumen-dokumen budaya seperti karya Ki Hajar Dewantara. Mereka memandang itu adalah Ilmu pengetahuan. Dan mereka berhasil menarik manfaat dari dokumen tersebut, dan menghasilkan konsep-konsep baru ilmu pengetahuan yang saat ini banyak digunakan di dunia.
Mengenai perbandingan dengan negara kita, saya punya pandangan dari sisi yang lain.
Faktor Alam mempengaruhi bagaimana perilaku, etos, sikap masyarakatnya. Jepang memiliki 4 musim, sedangkan Indonesia memiliki 2 musim. Negara yang mempunyai 4 musim umumnya memiliki tantangan hidup yang keras. Mereka terbiasa prepare dalam menghadapi tantangan hidupnya. Sehingga, di balik tantangan, terbentuk peluang baru bagi bangsa mereka, yaitu karakter yang ulet, rajin, cerdas (karena terbiasa mensiasati kondisi alam agar bertahan hidup), dll.
Selain itu, bangsa Jepang terkenal sebagai bangsa yang sering dilanda bencana alam gempa. Sehingga mereka terbiasa membangun, membangun, membangun lagi. Keterampilan mereka terbentuk dengan baik.
Bangsa Jepang miskin dalam hal sumber daya alam, sehingga tidak ada jalan lain selain mengandalkan kemampuan berpikir mereka sebagai sumber daya alam (competitive advantage).
Sebaliknya, bangsa Indonesia adalah negara yang makmur dan berlimpah sumber daya alam (comparative advantage). Cukup dengan mengandalkan sumber daya alam, masyarakat sudah cukup untuk dapat bertahan hidup.
Disinilah letak permasalahannya. Saya analogikan, negara yang mengandalkan comparative adv. ibaratnya anak orang kaya yang manja dan sulit menerima perubahan. Sedangkan negara yang mengandalkan competitive adv. ibaratnya anak orang miskin yang fight mengubah nasib mereka di tangan dia sendiri dengan cara yan cerdas. Fakta membuktikan, negara maju umumnya berasal dari negara yang menyandarkan hidupnya pada competitive adv.
Akhirnya saya merenung lagi… apakah faktor kondisi alam Indonesia merupakan faktor kekuatan atau kelemahan?
Bagaimana cara anak orang kaya yang terbiasa dimanja, dilayani, dan terbiasa hidupnya berlimpah, mau berpikir cerdas dan produktif, memanfaatkan potensi yang sudah di “takdir” kan nya?
Sepertinya ini masalah mental. masalah mengubah cara pandang dan pikir. Mungkin diperlukan ribuan “Romi-Romi” untuk mencapainya
April 20th, 2008 at 15:09
[…] Posting ini terkait dengan comment saya atas posting pak Romi Satria Wahono “10 Resep Sukses Bangsa Jepang” : http://romisatriawahono.net/2007/06/13/10-resep-sukses-bangsa-jepang/#comment-82307 […]
April 28th, 2008 at 21:00
kalo seperempat penduduk Indonesia punya pemikiran sama dengan yang kasih komentar kali ini, Insya Allah gak sampai 10 th Indonesia bangkit lagi.:)
May 3rd, 2008 at 16:44
Sebagai seorang mahasiswa yang kebetulan pernah bekerja, dididik dan memiliki mentor, yang berdarah Jepang…
saya hanya bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakan Mas Romi ini ….. BENAR adanya…
Maju terus Mas….
btw, sedikit keluar dari thread bahasan, saya pertama kali ketemu mas ROmi di Seminar UU ITE di Fasilkom. setelah itu, saya mulai mencari-cari tahu who is Mas Romi is ..? finally, bisa ketemu dgn blognya…
Terima Kasih untuk tulisan-tulisan blognya yang sangat inspiratif…’Maju Terus….
May 11th, 2008 at 22:01
tulisan bapak ttg top 10 about jepang lebih mengkongkritkan pandangan dan kekaguman saya akan jepang. dr dosen2 saya yg pernah study di jepang pernah memberikan gambaran2 jepang selama study nya, yup tulisan bapak merangkum lebih jelas tentang negara tsb. ..mm..klo ksampean saya tak coba menginjakkan kaki di negara pengarang Naruto ini.
kyaknya menarik belajar disana,,,