Komunitas Terdidik: Belajar dari Jepang
by Romi Satria Wahono
Opini kecil, yang saya tulis sewaktu masih tinggal di Jepang. Pernah dimuat di kolom Opini, Surat Kabar Republika, tanggal 15 Juli 2002.
Tiada hari terlewatkan tanpa membaca surat kabar Indonesia melalui Internet. Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan carut marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah, dari anggota DPR sampai menular ke masyarakat umum. Kemudian kalau kita menyimak berita-berita Internasional, sudah menjadi hal yang lazim, bahwa Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai rendahnya masalah sumber daya manusia (SDM).
Pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang sangat sederhana.
Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa “malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Penulis cermati bahwa di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.
Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Sekitar 8 tahun yang lalu, masa awal-awal mulai kehidupan di Jepang, penulis sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.
Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.
Sifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).
Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?
Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Selama hidup 8 tahun di Jepang penulis belum pernah menemukan analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia. Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.
Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini, sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.
Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban.

Related Articles
- Paypal.Com Masuk Indonesia
- Kado Ultah LIPI dari Jusuf Kalla di Harteknas 2006
- Kemerdekaan Teknologi
- Beri Kami Kebebasan
- Perdjoeangan Baru, Perlu Kampus Baru
- Ngadu Trafik Mahasiswa Yang Kuliah ke Jepang
- Beralihnya Trend ke Jurusan Desain
- Diskusi Lagi MoU Microsoft-Indonesia di Unpad
- Langkah Para Ilmuwan Mempopulerkan Ilmu Pengetahuan
- Berilah Mataharimu Sinar Takwa
- 10 Resep Sukses Bangsa Jepang
- Raih Keunggulan Defacto dan Dejure !
- PNS Tidak Cocok Untuk …
- Evolusi Perdjoeanganku
- Software Engineer Sebagai Sebuah Profesi
- Launching IGOS Nusantara 2006
- Kekuatan Kata Para Pemimpin
- Buku Pelajaran dan Multimedia Pembelajaran Gratis Karya Para Gerilyawan
- Teknik Perangkingan Universitas ala THES-QS
- Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (2): Identifikasi Masalah





















































































February 9th, 2006 at 11:14
Proses penciptaan budaya hingga menjadi refleks sensori-motorik yang dibangun Jepang dibangun tidak mudah -juga tidak sulit juga seharusnya-
Ibarat kereta, lokomotifnya harus punya tenaga ekstra untuk mengangkut gerbong-gerbong yang sudah berkarat dan lapuk oleh tradisi malas dan korup. Jangan ragu untuk membuat gerbong yang memang sudah sangat berkarat dan lapuk karena otomatis akan menghambat kecepatan laju kereta. Gerbong ini bukanlah kepala negara -orang selalu salah menilai pemimpin adalah kepala negara/presiden-. Gerbong itu adalah mental dan keinginan yang kuat dari tiap orang. Jepang bisa maju karena keinginan & dendam yang kuat terhadap Amerika dan Perang Dunia II.
February 9th, 2006 at 12:52
Jepang, dari segi fisik geografis jelas kalah jauh dibandingkan kita. Tapi biar bagaimanapun juga Jepang dibangun atas prinsip dan kebudayaan yang mengakar kuat. Sampai sekarang pun saya masih heran karena tak sampai 35% dari para businessman/woman di Jepang yang menggunakan bahasa inggris untuk pengantar komunikasi mereka. Tinggal bagaimana kita saja dengan kerendahan hati untuk mau/sudi belajar dari mereka yang jauh lebih maju. Tidak terkecuali Jepang.
Just my opinion.
February 9th, 2006 at 13:47
saya, sangat terkesan dengan pengalaman mas tadi. terus terang saya sangat termotivasi pada apa yang mas katakan saat mengadakan kuliah umum di kampus saya, STSN. Waktu itu, mas sempat mengatakan bahwa budaya disiplin di jepang sangat menonjol, tidak seperti di negara kita. Ada juga kisah mengenai mahasiswa jepang yang sangat rajin dan belajar dengan keras. Hal ini yang sangat penting untuk kita tiru dan kita contoh. terimakasih. Semangat dan motivasi melalui kisah-kisah keteladanan sangat kami perlukan sebagai masyarakat indonesia ditengah kondisi masyarakat yang seperti ini.
March 5th, 2006 at 22:32
Rasanya kurang relevan membandingkan budaya kita dengan budaya jepang. Kalau mau melihat ke akar konteksnya, bangsa kita merupakan multikultural, kondisi alam yang gema ripah yang membawa kenyamanan (sekaligus keterlenaan), ajaran agama yang mengutamakan akhirat, efek, dominasi dan pembodohan serta adu domba penjajah 350 tahun plus, rezim orba, dan kemiskinan di awal abad 21. Semuanya saling bersimbiosis sehingga mengaburkan kultur bangsa kita yang sebenarnya. Dan satu lagi, apakah budaya jepang tentang konsep Ketuhanan menjadi acuan mereka. Karena sepengetahuan saya, jikalau suatu budaya tidak mengerti tentang konsep Ketuhanan, maka acuan budaya tersebut adalah konsep humanisme yang akan menjadi jalan hidup yang dipegang oleh masyarakatnya. Dan budaya seperti ini tentu telah terbentuk dalam waktu yang lama.
March 14th, 2006 at 10:46
Hal yang sangat menarik untuk ditiru oleh bangsa kita…
March 14th, 2006 at 11:56
secara pribadi, saya merasa heran juga pada bangsa indonesia ini. ingat carutmarut gaya indonesia mampu mengalahkan kekacauan negara berkembang manapun.
maunya apa, keinginannya apa?. padahal seandainya kita mau menyikapi hal yang sifatnya umum tentu kita mengerti, tapi bila kita menyikapinya disisi yang lain (bersifat pribadi) tentu kita tidak akan tahu jawabnya, karna hanya pribadi masing-masing yang dapat mengerti.
contohnya keegoisan dalam persepakbolaan, pemerintahan korupsi.
masyarakat “Indonesia” merupakan salah satu bangsa yang berkebudayaan tinggi, tapi mengapa koq kebudayaan tersebut malah kita pudarkan begitu saja, budaya maaf sebenarnya dimiliki bangsa indonesia, hanya saja rasa kesadaran itu sendiri sering tidak di praktekkan, teori biasanya yang paling jago. (alasannya prestise-lah, harga diri,atau hal lain yang bersifat psikologis)
March 20th, 2006 at 14:02
Sebenarnya, di masa kecil, entah di TK atau di kelas I SD (aku gak begitu ingat), kita diajarkan beberapa hal seperti sopan santun. Kita diajarkan untuk tidak nyontek. Kita diajarkan untuk menghormati orang lain. Kita diajarkan untuk menyeberang di zebracross atau di jembatan penyeberangan. Kita diajarkan untuk mengucapkan terimakasih kepada orang lain bila dibantu oleh orang tersebut, sekecil apapun bentuknya. Kita diajarkan untuk mematuhi rambu lalu lintas. Kita diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Lalu apa masalahnya?
Masalahnya adalah, karena orang-orang dewasa yang mengajarkan kita, tidak memberi contoh yang baik. Ataupun kalau mereka memberi teladan kepada kita dan kita menirunya, orang lain langsung dicap sebagai “bodoh”, “tidak realistis”, “tidak praktis”, “terlalu kaku”.
Saya pernah berantem dengan seorang teman hanya karena saya ingin menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan sementara teman saya terlalu malas dan ingin langsung menyeberang di bawah.
Saya jadi ingat kritikan teman dari Yaman: “You guys, Indonesians, never say thank you to other people, do you?”
**Jleb..
Hati ini langsung merasa terluka.
Aku jadi ingat, di Australia, ketika orang-orang sana terbiasa mengucapkan terima kasih, komentar teman saya dari Indonesia adalah: “Ah.. orang sini (Australia) kebanyakan terimakasih. Kayak robot”
Aku jadi ingat, bapak saya pernah beberapa kali cerita, betapa ia diejek oleh teman-temannya, hanya karena ia membiasakan diri mengucapkan “terima kasih”, kepada mbak-mbak dan mas-mas yang ada di gardu tol.
Saya ingat, seorang teman dari Jakarta (kuliah di Bandung) pernah tersinggung di warung KAGAMA, UGM Yogya, karena diminta ibu-ibu untuk mengucapkan “terima kasih” (kebetulan.. itu peraturan di warung itu).
Ini bukan masalah budaya… karena nyatanya, apa yang ditulis mas Roni di atas, saya juga menemuinya di Australia (Brisbane), saya juga pernah diajari hal-hal seperti itu di masa kecil saya, dan ibu-ibu KAGAMA di Yogya mencoba mendidik kembali melalui warung-warung mereka.
Ini hanya masalah, kita egois untuk bersikap seperti itu.
March 23rd, 2006 at 0:57
I love indo……
Meski kayak gini keadaannya, kita yang harus bangun dan memulihkan keadaan indonesia tercinta ini. Yang diperlukan oleh bangsa ini adalah pembangunan mental dan karakter.
Saya sangat sedih melihat orang Indonesia pada umumnya berpikir pendek. Seperti yang seperti ini: banyak sekali rakyat kita yang pola hidupnya hanya memikirkan hari ini saja. Masyarakat Papua misalnya, dari mendulang emas liar mereka bisa dapat Rp.800ribu perhari, tapi habis saat itu pula.
Di Pulau Jawa lain lagi, 1 tahun kerja keras, banting tulang. Habis saat lebaran untuk pamer di kampung. Mental “biar tekor asal kesohor”.
Di Manado ada lagi, masyarakatnya malas. Kerjanya mabuk2an dan malas2an.
Di Medan orang Tionghua nya parah, tukang jeblok utang dan ahli tipu2.
Masih banyak sekali deh pokoknya.
Anak mudanya tidak suka dan cinta produk dalam negri. DPR nya sibuk minta naik gaji terus. Hukum diperkosa, rakyat dirampok, anak2 kurang gizi, birokrasi berbelit, korup dimana2. Semuanya sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
Mana mungkin disamain sama Jepang??? Jauh!
Sekarang pertanyaan yang muncul: dimanakah kita berdiri saat ini saat bangsa kita ini terpuruk? Ok, kita sudah tahu ini semua. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki semua ini?
March 23rd, 2006 at 9:11
Tidak ada yang menyamakan dengan Jepang atau bangsa maju lain. Justru kita belajar dari mereka, belajar dari siapapun yang mungkin sistem dan kehidupannya lebih baik. Itu saja intinya
March 30th, 2006 at 15:16
Mulailah dari diri kita sendiri…
Jer basuki mawa bea…. semua itu butuh pengorbanan…..
April 14th, 2006 at 21:29
Hello Romi:
Aku cinta Indonesia! I love Indonesia indeed.
Sangat menarik pengalaman Anda. Saya mengamati hal serupa ketika beberapakali berkunjung ke Jepang. Having lived in Europe and the US, kepala dan batin ini berputar tanpa bisa mengelak ‘perbandingan’ antara bangsa kita dan bangsa lain. Membaca surat kabar Indonesia via internet, seperti yang Anda lakukan, justru membuat hati saya ngeres. Pertama, saya merasa ada yang ‘hilang’. Mungkin saya terlanjur percaya jejalan doktrin di sekolah dulu bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudi luhur, berkarakter mulia, superior dari sisi etika yada yada yada. Kedua, melalui pengalaman pribadi, apabila saya membawa dan menerapkan secara mutlak karakter sebagai orang Indonesia …. aduh, rasanya babak belur di tanah orang. Alhasil, dimana bumi di pijak, di sana langit dijunjung.
Singkat kata, saya berharap ada forum di intenet yang membuat semacam ‘self-analysis’ mengenai bangsa Indonesia. Mari membuka diri dengan mengenali kekuatan dan kelemahan kita. Yang jadi masalah, kalau orang Indonesia yang sedemikian “memandang” pemimpinnya ternyata tidak diberi contoh yang baik oleh sang pemimpin (misalnya gemar naik pitam dan tersinggung besar bila dikritik), this trait just makes things worse!
Last but not least, saya mengamati bahwa bangsa kita perlu memperbaiki kemampuan ‘berbeda pendapat’, bukan hanya dalam rapat dan seminar, melainkan dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan berpolitik. Sifat terlalu ‘mudah tersinggung” dan dendam tidak akan membantu dalam mengakali perbedaan pendapat, kan?
Lapangkan isi dadamu, Indonesia!
Cheers, Uberswot
June 29th, 2006 at 15:19
Salut buat Jepang. Memang Jepang dikenal sama kedisiplinan & adat istiadat Jepang yang selalu hormat dengan kata2nya gomennasai. Justru kita bisa belajar dari mereka.
Akhir – akhir ini bangsa Indonesia benar – benar mengalami degradasi moral & kehilangan keteladanan. Nah bagi kita yang sudah tahu & mengerti, kita bisa memulainya dari kita sendiri. Kita setia dalam perkara -perkara kecil. Misalnya saja kalau mau buang sampah ya harus di tempatnya donk. Kalau tidak kita yang memulainya siapa lagi. Artikel ini bener2 membangun kita semua. Gambatte Indonesia!!!!!!!!!
July 11th, 2006 at 21:28
Wah, saya juga sangat salut terhadap Jepang. Sebagai mahasiswi Indonesia yang sekarang sedang belajar di Jepang, saya sangat merasakan perbedaan2 seperti yang diceritakan Mas Romi. Betapa orang Jepang itu disiplin, saling hormat, dan ekonomis. Sesama tetangga biarpun tidak begitu kenal, tapi kalau bertemu selalu saling sapa. Kalau di jalan, hampir tidak ada mobil yang saling berebutan. Kalau lampu merah, mobil2nya langsung berhenti benar2. Pokoknya teratur dan waktu itu sangat dihargai.
Saya juga ikut terbawa dengan perilaku mereka itu. Saya jadi sering berpikir, entah kapan Indonesia bisa jadi seperti Jepang ini. Sepertinya akan makan waktu yang lama sekali ya. Tapi memang pada intinya, semua harus dimulai dari diri sendiri.
Indonesia mo dekiru yo! Makenai de!
July 23rd, 2006 at 17:55
Luar biasa..
Saya sangat terpengaruh dengan sikap dan kedisiplinan orang Jepang. Bagaimana tidak, sikap-sikap seperti menghargai waktu, orang lain, budaya dan lainnya, adalah modal utama pembentukkan karakter individu suatu bangsa. Kita lihat bagaimana majunya kondisi perekonomian di sana, Luar biasa! Pendidikan (Ilmu) benar2 sangat dijunjung tinggi. teknologi maju dengan pesat dan bisa melebihi negara2 maju lainnya, dan di bidang2 atau sektor lainnya, mereka lebih unggul. luar biasa!!
bukan berarti bangsa kita lebih jelek darinya, namun jadikanlah ini sebagai cerminan untuk kita semua, agar terus menginstrospeksi diri dengan lebih baik! Mulai dari individu yang memiliki karakter disiplin, menghargai dan menghormati orang lain, siafat seorang pembelajar sejati, dan sifat kerja keras dan cerdas, ulet, pantag menyerah.Sudah saatnya bangsa ini bangkit..!
July 31st, 2006 at 11:05
Saya kira Indonesia akan maju, insyaAllah.
Tanpa harus belajar dari Jepang.
Tidak perlu belajar dari Jepang. Orang jepang itu tolol, bodoh, porno dan tidak aturan.
Pelajari dari jepang teknologinya saja.
Masalah etika, akhlak dan budaya. Agama saya (Islam) dan budaya saya (Jawa) lebih baik dari apa-apa yang mereka punyai.
Use your systemic thinking….. jangan seperti Kura-kura dalam perahu…..
August 3rd, 2006 at 11:47
mr.ali akbar anda benar
wassalam…
August 3rd, 2006 at 18:41
Mas Ali dan mas Ibrahim,
Kebenaran dan kebaikan bisa keluar dari siapa saja. Dan selama itu positif Insya Allah tidak ada ruginya kita belajar dari siapapun di dunia ini
> Tidak perlu belajar dari Jepang. Orang jepang itu tolol, bodoh, porno dan tidak aturan.
Mohon maaf, saya pikir terlalu naif kita mengatakan hal diatas. Kalau ada kebaikan mari kita ambil, dan kalau ada keburukan mari kita buang.
Salam,
RSW
August 5th, 2006 at 14:43
Apa yang Pak Romi katakan sama seperti perkataaan ayah saya yang pernah tinggal di Jepang.memang bangsa jepang bangsa yang benar2 sangat disiplin, mempunyai sifat ekonomis dan juga sangat patuh terhadap norma2 dan adat istiadatnya, dan saya salut thd orang Jepang.Ini perlu kita contoh! tetapi bagaimanapun juga sebagai orang Indonesia kita tidak usah sedih dan tetap berjuang untuk negeri ini. Watashi wa Indoneshia ga suki desu.
and the last, i just want to say,
Let’s together make changes to our love country Indonesia,
begin from ourself and then other people,
Now or Not at all.
August 13th, 2006 at 8:24
Buat mas Ali dan mas Ibrahim,
Maaf sebelumnya.. saya cuman mau nanya, pendidikan terakhir mas Ali dan mas Ibrahim apa yach?
(apakah SD, SMP, SMU/sederajat atau udah Sarjana)
Makasih, Salam.
KSP
September 2nd, 2006 at 19:57
Sumimasen, watashi wa Maruli desu. Yonnensei no gakuseide, kita sumatora no daigaku.
Chotto, shitsumon ga arun da..
Shigoto wa nihon de Indonesiajin ni dou desuka?
Muzukashi desuka?
Kotaeru no wa, doumo arigatoo gozaimasu.
October 2nd, 2006 at 5:39
klo boleh tau om saya mau tau tentang kehidupan di jepang?? coz saya mau ikut lomba mengarang, bls ke email ya oM! thx
November 20th, 2006 at 7:52
tulisan yang bagus, meski saya belum dan mungkin gak pernah tau kapan bisa ke jepang,tapi saya tau jepang negara yang super disiplin,klo pun ada yang tidak,nilainya jauh lebih sedikit dibanding yang disiplin,
klo diindonesia bisa saya bilang kebalikan dari jepang,sedikit yang disiplin banyak yang enggak,
tanya kenapa?
mari belajar dari yang ada….
November 25th, 2006 at 15:15
aq memang setuju dengan kata mas romi karna saya tau sendiri jepang itu secara dekat ,dan saya pernah tinggal di jepang selama 3 tahun memang jauh perbedaannya ma indo jepang maju karna cuman modal ganbatennya aja gak gampang putus asa,deskara indonesiya jin wa mina de cikara o awasete indonesia no tameni sikari canto nan no koto mo yate kudasai akiramenaide kudasai……ganbarimassssssssss….
January 10th, 2007 at 4:04
kira-kira berapa tahun lagi yah kita bisa kayak jepang??
May 21st, 2007 at 14:40
saya adalah mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas swasta di bandung.berdasar dari pengalaman n pengetahuan yang ada saya sangat kagum dengan budaya jepang, disini hal yang paling menonjol adalah sifat rajin dan mau bekerja keras menghargai waktu.Berdasar pengalaman yang pernah saya dengar dari beberapa orang yang mengerti n pernah belajar mengenai kebudayaan jepang khususnya mereka yang pernah tingggal di jepang n belajar beradaptasi dengan situasi dan kondisi masyarakat jepang.Dan berdasar suatu arikel yang pernah saya baca tentang Jepang, dari situ saya membaca n mengerti bahwa budaya jepang sangat kuat hal ini pada dasarnya dipengaruhi oleh keadaan geografis alam jepang yang secara langsung mempengaruhi sikap dan pola berpikir mereka.Sebagai contoh jpeng memiliki 4 musim yaitu musim bunga,gugur,semi, dan musim hujan.Dari situ mereka memiliki pemikiran yang dituntut untuk bekerja keras untuk mempersiapkan diri menghadapi musim yang datang dan mempersiapkan diri untuk musim yang akan datang selanjutnya.Wilayah geografis jepang yang tidak terlalalu luas menjadikan mereka memiliki rasa kekeluargaan n rasa malu yang sangat besar..mereka menjadi bangsa yang maju n memilki kualitas sumber daya manusiaa yang sangat maju karena pada dasarnya mereka sadar apa yang menjadi kelemahan merika dan menjadikan kelemahan itu menjadi motivasi ke arah sikap pembentukan yang lebih baik.n itulah yang saya dapat saya berikan komentar.everything in this thing its start with little thing n from the little thing we know the huge things.
Thanks
May 28th, 2007 at 12:19
aq mo tanya brp harga apartemen yg termurah di Jp ya? trus kebutuhan apa aja yang dibutuhin klo belajar di sono.
June 13th, 2007 at 21:32
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
July 1st, 2007 at 17:49
hajimemashite, Watashi wa henra desu, dozoyoroshiku. saya mau tanya berapa pengeluaran rata-rata untuk hidup di nippon? saya ingin mengetahuinya. Arigato.
July 1st, 2007 at 17:56
Dan juga bagaimana cara berkomunikasi dengan orang jepang dengan sopan, apa yang saya harus lakukan agar saya tidak menyinggung perasaan mereka, dan juga soal tatakrama dengan mereka?
July 2nd, 2007 at 10:40
# Tan: Biaya hidup tergantung wilayah, agak susah kalau anda tidak menyebut di kota mana akan tinggal. Saya dulu hidup di Saitama-ken, sepertinya sekitar 80-100.000 yen/month bisa hidup pas-pasan. 150.000 yen/month bisa sedikit lega, dengan apartemen yang agak baik
# Karin: Ini juga sama, tergantung di mana kita tinggal. Kalau di daerah apartemen ada yang cuman 20.000 yen/month. Cuman di area kanto, sepertinya diatas 40.000 yen/month untuk agak normal.
July 12th, 2007 at 11:57
[...] July 12th, 2007 Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
July 28th, 2007 at 21:04
saya kira jepang memang sudah memiliki sifat yang mendarah daging dalam dirinya.sifat yang pantang menyerah dan disiplin serta disiplin yang tinggi membuat negara mereka maju. sejak zaman dahulu mereka selalu menjaga dari pengaruh dari luar jepang yang membuat mereka tidak kehilangan jati diri mereka.dan untuk era modern dekarang ini mereka tetap menjaga kelestarian budaya mereka .lain halnya dengan indonesia yang sangat terpengaruhi oleh dorongan globalisasi tanpa peduli dengan negara mereka sendiri. sebenarnya indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang bisa membuat maju bukan hanya kebudayaan tapi kepribadianya juga sangat bagus dan diakui oleh penjajah indonesia tapi setelah merdeka indonesia lupa dengan jati diri nya sendiri. kebudayaan ading malah di sanjung tinggi
August 4th, 2007 at 13:40
[...] 10 Resep Sukses Bangsa Jepang Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
August 21st, 2007 at 18:27
budaya kita sejak kita sekolah adalah budaya lapo-lapoan yaitu budaya kalo kita melakukan sesuatu yang sifatnya agak maju sedikit saja orang tidak terima dan mengucapkan lapo-lapoan atau apa-apaan itu. entah sejak kapan itu mulai dan herannya ketika korupsi terjadi, orang yang menentang dikatakan lapo-lapoan. bagaimana bisa maju kalo begini budaya itu demikian kuat di benak masayarakat indonesia. jadi solusinya kita balik saja lapo-lapoan kamu kok lapo-lapoan. pasti romo satria kalo ngomong masalah jepang gini tanggapan bawah sadarnya bilang lapo-lapoan kata bawah sadar masyarakat kita. kalo sadarnya sih membetulkan
August 23rd, 2007 at 13:19
beginilah budaya kita bukan harus dibuang atau ditiru tapi harus meniru juga dari budaya baik negara lain
November 6th, 2007 at 16:11
sy tertarik sekali dengan paparan mas romi ttg jepangnya. hal serupa juga saya dengar dari kakak saya yang baru tiga bulan lalu pulang dari jepang, setelah tiga tahun menjadi kenshusai (bener khan nulisnya) di prusahaan daerah nagoya!!! dari sini saya tertarik untuk membuat penelitian skripsi saya tentang kehidupan “buruh” (atau apalah terjemah dari kenshusai) indonesia di Jepang. mungkin mas romi bisa bantu saya menyelesaikan skripsi saya.kajian skripsi saya nantinya adalah komunikasi antarbudaya!! barangkali mas romi punya cerita bagaimana kehidupan orang indonesia di jepang, khususnya para kenshusai.
bila berkenan mohon dibalas ke alamat e-mail saya!!domo arigato gozaimashita…
November 14th, 2007 at 19:32
Pak Romi,
Terima kasih atas berbagai artikelnya yang sangat bagus dan bermanfaat. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari blog ini. Dalam kesempatan ini saya juga minta ijin untuk me-link blog Bapak dan juga beberapa artikelnya. Semoga berkenan dan semoga panjang umur. Salam
November 19th, 2007 at 23:24
hhmmm….
yg salah sapa yah…
klo saya takjub sama org jepang tu klo mereka nyusun sandal ato sepatu pada tempat2 yg dilarang mengenakannya, berjajar rapi dan kadang tersusun menghadap pintu keluar ga kek susunan sandal yg sering saya jumpai ketika solat jumat.
yg spt itu bukan budaya, melainkan sikap dan prilaku.klo menurut saya masalah di indonesia itu sepele kita tidak bisa menjadi contoh bagi orang lain.guru melarang siswa merokok, tapi didalam kelas dia sendiri merokok.dosen melarang mahasiswa menyalakan ponsel, di kelas sang dosen dgn arogan ber sms-an dihadapan mahasiswanya. Orang tua menyuruh anak2nya solat, namun mrk sendiri jarang solat.
December 19th, 2007 at 4:29
[...] December 18, 2007 Mungkin anda pernah dengar, baca, tulis atau bahkan menyadur judul dari postingan ini? akan tetapi anda lupa dimana anda mendengarnya, membacanya, menulisnya dan menyadurnya. kata-kata ini tenar di antara belantara syair lagunya Iwan Fals. Iya lebih baik daripada kau menangis. saya pernah baca satu postingan mas romy tentang karakteristik orang jepang yang tidak pernah berkata tidak, kata tidak dianggap sangat tabu, akan tetapi saya tidak pernah ke jepang, saya hanya tau Indonesia dan melihat dari mata Indonesia saya. [...]
January 1st, 2008 at 6:50
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
January 30th, 2008 at 21:03
[...] <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–> [...]
January 30th, 2008 at 21:05
[...] <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh <!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–> [...]
February 8th, 2008 at 2:27
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
February 10th, 2008 at 8:02
Buat Mas Ali dan Mas Ibrohim
Pendapatmu syah syah aja,tapi tolong jangan cuma omomng doang ! buktikan kamu bisa jadi tauladan minimal untuk diri sendiri !
February 27th, 2008 at 19:39
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
March 11th, 2008 at 11:54
mungkin rektor ilmukomputer punya teman(mahasiswa jepang dan mahasiswa indonesia: paling khusus) yang ada s2 s3 di jepang bisa saya minta E-mailnya
March 11th, 2008 at 13:29
#Basyir: Banyak om, gabung saja ke milis ppijepang
March 19th, 2008 at 10:28
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
March 31st, 2008 at 21:40
[...] Resep Suskes Bangsa Jepang Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh. Explore posts in the same categories: Uncategorized [...]
April 12th, 2008 at 8:57
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
April 20th, 2008 at 4:13
Aq sangat setuju ma bung Romi, bangsa Jepang memang luar biasa,orangnya sangat ulet,sopan santun masih dijaga,yang terpenting rasa MALU itu, coba kita bandingkan dengan kita, sebagai contoh kalo tidak salah pernah pejabat Jepang yang diindikasikan KORUPSI, beberapa kemudian pejabat tsb bunuh diri karena rasa Malu yang tidak terhingga, gara-gara malu sampai bunuh diri, beda dinegara kita, sudah ketahuan korupsi masih aja cari dalih pembenaran, gak tau malu, gak weruh isin, mari korupsi moro mungga haji, sungguh memalukan sekali
April 21st, 2008 at 23:51
Assalamu’alaikum Wr Wb
Aku sangat kagum dengan keberhasilan bangsa Jepang, bahkan aku punya impian untuk kuliah S2 dan bekerja disana dengan maksud menimba ilmu sekalian mempelajari rahasia keberhasilan mereka.Tetapi itu hanya impian yang jauh dari kenyataan.
Dari orang yang ingin maju dan berjuang melawan kemalasan diri sendiri.
April 28th, 2008 at 10:58
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
May 6th, 2008 at 17:40
Adalah tugas bagi kita masing – masing untuk berinstrospeksi diri sudah sejauh mana kita mempunyai budaya memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya. Waktu bagaikan pedang yang runcing yang dapat membunuh kita kapan saja. Dengan waktu yang diberikan itu, alangkah baiknya kita melakukan perbaikan berupa kerja keras, mulai dari kita sendiri setelah itu baru kita merubah budaya masyarakat agar lebih baik lagi. Insya Allah Pasti Kita juga dapat bisa berubah menjadi lebih baik. Terima Kasih.
May 11th, 2008 at 16:32
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
May 15th, 2008 at 20:46
Aku ga kagum dengan Jepang..malahan dendam.
Dendam karena Mereka lebih baik daripada Indonesia..
Dendam ini yang akan membakar semangatku untuk mnjadi lebih baik daripada mereka..Insya Allah!
May 16th, 2008 at 17:50
Buat Mas Ali dan Mas Ibrahim….
Jangan ngaku beragama Islam(MUSLIM) kalo gak bisa berkata bijak mass… Indonesia emang negara yg mayoritasnya adalah seorang muslim..tapi…mengapa indonesia berprestasi dalam hal KORUPSI…bukankah korupsi itu dilarang agama.
Apa yg dituliskan mas Romi Satrio Wibowo tentang bagaimana jepang itu emang benar…karena saya merasakan sendiri bagaimana hidup di jepang.tiap hari bergaul sama mereka, betapa baiknya org jepang pada saya.Mereka sgt menghormati saya sbg seorang muslim yg tidak makan butaniku(daging babi),tidak munum bir, dan sake.selama bergaul sama mereka ada hal yg baik yg aku ambil yaitu….
Org jepang sgt benci pada pembohong,..org jepang sangat membenci org yg Tidak menepati janji,..dan jg org jepang sgt membenci pengkhianatan.
Bukan hal itu sama dengan apa yg diajarkan nabi Muhammad kepada kita. Bukankah Allah SWT jg akan melaknat org2 Munafik…!
June 19th, 2008 at 17:21
jepang sekarang tidak seperti itu. sekitar stasiun kereta api tampak sampah berserakan. bau pesing pun sering menyeruat. menunggu lampu merah?tidak juga…..kalo gak ada kendaraan mereka nyelonong aja, sama kayak di indonesia…minta maaf? saya pernah ditabrak orang di jalan, orang itu bahkan menoleh pun tidak. soal kejahatan….bahkan hanya di jepang saya menemui banyak kasus orang membunuh dg motif ingin tahu rasanya membunuh. sopan? mereka juga suka kebut-kebutan di jalan dengan sangat berisik tak ubahnya raly liar di indonesia. maaf kalo saya menuliskan yg buruk-buruk saja. orang jepang benci dg pembohong?bahkan mereka juga pembohong…..apa yg ada di hati dan di mulut beda. tersenyum tapi membenci…. jepang tidak seindah yg tampak. rumput tetangga selalu lebih hijau ya….indonesia memang bukan negeri yg baik kalo boleh dikatakan begitu.maka tugas bersama untuk memperbaikinya. mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang. desyou…
August 22nd, 2008 at 18:28
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
August 29th, 2008 at 19:53
Untuk mas Wahyudi…apa yang anda tulis banyak yang benar
Untuk dwi@tokyo…di beberapa media di jepang juga banyak dibahas tentang mulai hilangnya ‘rasa malu’ dari diri masyarakat Jepang dan hal ini dicemaskan oleh kaum tua yang dahulu membangun negeri ini dari kekalahan PD II.Dari saya ‘hanya’ mahasiswa yang Insya ALLAH masih di Jepang, berkelana mempelajari bahasa, budaya, gaya hidup & tabiat orang sini tanpa kehilangan dan malu mengakui sebagai orang MUSLIM dan warga INDONESIA.Silahkan bersilaturahmi di v4njapan@yahoo.co.jp
September 13th, 2008 at 13:34
buat sdr Wahyudi….
komentar yang saya baca kebanyakan tentang Jepang, memang Jepang masih bagian dari ASEAN, sangat menjunjung tinggi akan budaya Timur hampir sama dengan budaya di negara kita Indonesia, tapi tetap beda misalkan Jepang apabila MALU mereka tidak segan2 melakukan BUNUH DIRI (harakiri) nah kalau orang Indonesia merasa MALU apa kira2 yang dilakukan ya?
salam manis sama orang2 Jepang!….he
September 16th, 2008 at 14:33
[...] Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh [...]
September 30th, 2008 at 20:50
ini lebih dikenal dgn kecerdasan otak kanan ya om….
kecerdasan pada sikap dan sifat kebiasaan
om padahal orang jepang mayoritas bukan islam yang dianjurkan tahajud ya om…..
ini perlu untuk direnungkan ya om….juga segera berbenah ya om….
thanks ya om..
October 10th, 2008 at 12:46
Ambil yang positifnya daRI jepang dan buang jauh2 yang negatifnya, jangan terbalik …. budaya2 luar yang negatif diambil dan masuk ke Indonesia tapi yang baik dan positifnya nggak …
Wassalam
Hendra Leonar
http://www.ubb.ac.id
October 22nd, 2008 at 12:37
emmm….. agak janggal juga sih, ngebandingin Indonesia hampir smua bidang sama Jepang.
Liat aja dari segi sejarah, bangsa Indonesia yang dijajah selama 350 tahun + 3,5 tahun, membuat bangsa kita berada dalam kemiskinan dan kebodohan berkepanjangan, ( Walaupun Jepang juga dulu seperti itu )..
Ditambah lagi, adanya agresi dari negara lain stlah merdeka, lalu gejolak politik dan ekonomi, berbagai pemberontakan-pemberontakan, dan yang penting adalah masyarakat kita yang multikultural … yang mempunyai persepsi masing-masing dan tujuan masing-masing mengenai keadaan di ngeri kita ini, terutama yang berhubungan sama budaya asing( Barat )….. Jepang juga walaupun pernah punya sengketa sama barat waktu tahun 1600-an, tapi mereka punya persepsi sendiri mengenai masalah tersebut, yakni berhenti memusuhi dan belajar dari musuh.. coba klo’ hal itu terjadi di Indonesia, pastinya yang memutuskan agar bersikap bagaimana pada musuh pastinya masih diputuskan oleh orang2 berpengaruh di daerahnya masing-masing berarti masih bersifat kedaerahan.. ya’ gak….
Terus kita juga harus bangga kok jadi Bangsa Indonesia,bangsa yang beragama….. dan itulah yang paling penting yang bakal membimbing kita pada pencerahan dan cahaya ( ceilaahh… )
Beda sama Jepang, mungkin dulu mereka mengagung-agungkan Dewa Matahari mereka ( Amaterasu ), tapi seiring masuknya ilmu pengetahuan dan arus rasionalitas yang dibawa Barat, apakah mereka masih mengagungkan Amaterasu mereka? ga’ , sekarang mereka cuman nganggep Shinto atawa ke kuil-kuil gitu cuma sebagai kebudayaan… dan bukti kosongnya iman dan spiritualitas Bngsa Jepang adalah data bahwa sekitar 3000 orang bunuh diri tiap tahunnya…
October 24th, 2008 at 14:37
ini lah semua,informasi tentang negeri sakura/matahari terbit yang sebenarnya !yg mungkin kita perlu ambil sebagai panutan hidup,utk lebih bisa menjadi bangsa yang baik!
November 14th, 2008 at 16:59
Assalamu’alaikum….
Watashiwa cucun desu…
Saya masih kelas 2 SMA,, tapi sebagai bangsa indo cukup kecewa ya lah,, bagaimana tidak negeri kita wah prah, korupsi dimana2, free sex, narkoba, wah parah deh…
beda dengan jepang yang teknologi dan pendidikannya maju…..
Anak2 di sana udah pada bisa bwt robot, Anak2 indonesia???? boboraah dehh…
mangkanya dari itu saya pengen ngerubah semua itu, saya pengen sekolah ke Jepang…….
Dan saya pengen tahu sendiri bagaiman orang-orang disana. Dan pengen tahu juga Nuklir Di Jepang…..
I Will Go Study In Japan in 2010…. InsyaAllah…
Gambatte indonesia………
Allahu Akbar Bangun indonesia jadi lebih baik…
Arigato Gozaimasu
November 14th, 2008 at 17:21
Watashiwa cucun desu…
gambatte indonesia engkau pasti bisa bangkit…….
Malah melebihi Jepang…….
Aku akan membantumu wahai indonsiaku….
I love Indonesia…
I Will Study in Japan For Change Indonesia better than before……..
AllahuAkbar,,,,,
December 4th, 2008 at 13:37
#cucun: massa kalah teknologi to…
yg aku th Jepang ga pernah juara kontes robot mahasiswa se-Asia (Abu Robocon)~
07 China(juara 1) Indonesia(juara 2)
08 China(juara 1) Indonesia(juara 3) tp runner up bukan Jepang..
09 moga2 Indonesia sang Juara di Tokyo
Inilah Secuil dari Sebongkah kebanggaan yg terpendam selama ini…
Walaupun fasilitas kurang mencukupi tapi tetap berkarya anak Indonesia!!
Walaupun Jepang maju kita harus bisa lebih baik
No defense, it’s reality..
December 16th, 2008 at 15:59
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
January 16th, 2009 at 18:10
Di perusahaan tempat saya bekerja menggunakan tools TPM (Total Productive Maintenance) yang diambil dari Jepang. Menarik melihat konsep tersebut di mana setiap tahap perbaikan (improvement) selalu dimulai dari hal-hal kecil.
TPM bagi saya sangat mewakili kebiasaan atau budaya Jepang yang ekonomis, tekun, teliti dan senantiasa melakukan perbaikan dari waktu ke waktu. Tidak peduli apakah itu perubahan kecil atau besar.
January 28th, 2009 at 10:43
Om romi, thanx for inspiration artikelnya yupz..
jadi semangt buat jadi orang yang lebih baik n berguna setidaknya bagi keluargaku.. nuhun pisan..
February 2nd, 2009 at 21:43
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
February 9th, 2009 at 12:29
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
February 11th, 2009 at 17:05
maaf….mas..
saya mau ngasih komentar nih, negara kita tuh bukan bangsa yang bodoh dan tidak berpendidikan, tapi pemerintahnya saja yang kurang respon terhadap perkembangan dunia pendidikan. apalagi ditambah pejabat-pejabatnya malah kontes korupsi…. juara lagi se dunia.
indonesia masih yang is the best kang……
February 23rd, 2009 at 16:01
Jepang merupakan salah satu peta kekuatan asia yang akhir2 ini sangat disegani oleh benua lain.citra diri yang sangat menghormati akan kebudayaannya sendiri,cinta akan bahasa ibu pertiwinya,dan yang sangat diakui adalah sikap disiplinnya.
sikap itulah yang harus kita tiru untuk negara yang katanya kental akan kulturisasi,agar kedepan negara ini dapat lebih dihargai paling tidak di kawasan asia
March 27th, 2009 at 11:42
setuju mas…
saat Jepang sudah sibuk dalam pengembangan teknologi – teknologi terbaru, masyarakat Indonesia justru sibuk mengejar ketertinggalan didalam pemakaian teknologi terbaru.
Saat Jepang sudah berkerjasama dengan negara – negara maju. Indonesia masih sibuk dengan birokrasi dan tetek bengeknya, belum lagi uang – uang suapnya yang sudah sangat terang terangan….ancur dehhh
Gimana bangsa kita akan maju…??
any solution for that??
March 27th, 2009 at 11:49
Berkaca dengan Jepang, mungkin negara(Jepang) ini memang sudah tertempa dengan berbagai cobaan.
Contoh, gempa bumi, tsunami telah berkali – kali menggoyah Jepang, sehingga dengan pengalaman yang tidak mengenakkan itu, menjadikan Jepang negara kuat dan meningkatkan teknologi yang maju untuk menghadapi hal-hal seperti itu. Belum lagi bom nagasaki yang telah meluluhlantakkan negara mereka. Tapi justru dengan hal itu mereka menjadi semakin maju.
Sedangkan Indonesia yang dari geografis cukup aman dibanding Jepang, menjadi negara yang malas karena kurangnya ancaman seperti itu. Walaupun akhir – akhir ini kena juga:P
negara kita emang cuman pintarnya analisa, tapi action NOL..
NATO-No Action Talk Only-
March 30th, 2009 at 10:53
Fondasi dasar bagi kemajuan sebuah bangsa/negara bukan lebih terletak pada seberapa besar pertumbuhan PDB yg mampu dicapai, seberapa banyak kaum intelek yg kita cetak.”Attitude”…. Contohlah kesadaran Mahatir Muhammad, kegalauan yg masih menggelayut di sanubarinya saat dia melengserkan diri adalah pada bagaimana “Orang Melayu memiliki budaya kerja #1″, bukan pada siapa nanti penerusnya, bagaimana ekonomi Malaysia kedepan, etc yang semuanya hanya sekedar2 angka2 statistik ekonomi kapitalis. Maka pasca lengser yang dia didirikan adalah sebuah NGO untuk membangun “Nation Character Building” Malaysia, bukan lembaga think thank ekonomi dan politik kayak Habibi Center misalnya. Sekali lagi, kalau keyakinan kita masih selalu ekonomi dan politik sebagai panglima pembangunan, maka cita2 Indonesia gemah ripah loh jinawi selama-lamanya hanyalah utopia. Selama kita tidak pernah mau membentuk dan membangun ‘budaya-budaya unggul Indonesia”, yang terjadi dalam perjalanan pembangunan bangsa hanyalah selalu bongkar pasang dan penghacuran sistem sesuai selera presiden, menteri dan partai baru yang menang, hanya untuk atas nama kebencian dan dendam sejarah, pokoknya bukan yang lama.Seberapun banyaknya kita akan invest di pendidikan, ICT, infrastruktur, dsb; mungkin yang kita dapatkan hanya sekedar beli barang dan kita tetap tdk akan pernah mencapai kemajuan itu sendiri.
April 17th, 2009 at 14:13
q kagum,heran,setiap kali membaca tulisan berita dari jepang,….????
April 20th, 2009 at 14:48
orang melayu kena bersatu, baru kita boleh berjaya.melayu boleh.sapa kata tak boleh.
May 2nd, 2009 at 15:02
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
May 16th, 2009 at 0:23
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
June 14th, 2009 at 11:48
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
June 22nd, 2009 at 10:29
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
July 1st, 2009 at 10:55
ada baiknya , kita bangsa indonesia meniru hal2 (+) dr pola pikir bangsa jepang
July 28th, 2009 at 19:56
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
August 14th, 2009 at 15:17
Mas Romi.. mau nanya lebih lanjut mengenai pembentukan karakter dan sikap orang jepang sono.. bagaimana bisa terbentuk? yang paling berpengaruh sistem sekolah mereka atau sistem masyarakatkah? kalau ya, dari mana ya saya bisa mendapatkan informasi tentang kehidupan yang mereka jalani..ya sistem sekolahnya seperti apa, sistem masyarakatnya seperti apa..
saya soalnya sangat tertarik dengan proses pembentukan karakter orang-orang di luar negeri sono, yang mungkin bisa dikatakan lebih maju dari pada di negeri kita sendiri ..^^..
August 20th, 2009 at 16:54
saya baru ketemu website bagus buat belajar bahasa jepang
http://www.japaneseclass.jp
ada Bahasa Indonesianya juga di bagian practice!
September 11th, 2009 at 17:02
Salam atmosfer civitas akademika,Pak!
Saya mahasiswi Universitas Bangka Belitung Pak, mau masuk semester 5, fak. Teknik Sipil rencananya saya ingin masuk penjurusan Transportasi, boleh ga’ Pak saya minta liputan ttg transportasi disana( monorel, Kereta Api, Highway(jl raya) ,jembatan dan dsb), Pak, boleh ndak saya minta juga 10 resep sukses Bangsa Jepang Pak… Thanks ya Pak. Pak. send by my email ya.. (NADYA SILVIA ANANDA A. Fak.Tek.Sipil ang.07 )
September 29th, 2009 at 21:47
Salam buat Mas Romi…
Saya masih ingat Mas Romi waktu studi dijepang.
Dimana pada waktu itu sering menjadi pembicara
disetiap pengajian didaerah tokyo dan sekitarnya.
Kami dijepang tentulah sangat haus akan siraman
rohani karena sibuk bekerja setiap hari.
Dengan adanya kegiatan seperti itu tentunya kami sangat terbantu sekali.
Kami mendoakan Mas Romi semoga sukses selalu.
Dan tentunya pengalaman2 pada saat dijepang bisa
menjadi batu lonjak untuk berprestasi lebih tinggi
lagi
Salam kami diJepang
Abdul Hakim
October 1st, 2009 at 17:50
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
October 12th, 2009 at 13:31
Mohtar Lubis, budayawan besar Indonesia dalam bukunya: “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban”. Mengungkapkan sifat2 Manusia Indonesia:
1. Hipokritis alias munafik. Berpura-pura, lain di muka – lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak meraka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya,putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. “Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.
3. Berjiwa feodal. Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisasi isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri Komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.
4. Masih percaya takhyul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.
5. Artistik. Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinyam warna-warninya.
6. Watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.
7. Tidak hemat, dia bukan “economic animal”. Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.
8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.
9. Manusia Indonesia kini tukang menggerutu tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.
10. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia. 11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok. Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus. 12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru. Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Banyak nyang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.
October 14th, 2009 at 3:33
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
October 19th, 2009 at 8:07
Ada milisnya ppi Jepang ya.
October 21st, 2009 at 19:30
wah keren banget…..ngiri nih…
November 21st, 2009 at 9:37
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
December 8th, 2009 at 13:22
sebagai bangsa indonesia sebenarnya aku malu…apalagi dari dulu aku sangat mengagumi jepang …..,tapi kalau kita terus menghina negara sendiri,sementara yang salah dibaca:(bejat) orangnya…,kapan kita maju …,saya yakin indonesia bsa maju bahkan lebih dari jepang,erofa,amerika..,kalau kita mau merombak seluruh lapisan masyarakatnya…,agar kebudayaan kita yang negatif tidak mendarah daging keanak cucu kita nanti……
December 9th, 2009 at 8:20
Wah jadi pengin sekolah di jepang, semoga suatu kedepan bisa terwujud, amien
March 11th, 2010 at 20:34
Orang jepang memiliki kualitas yang bagus baik dalam hal sdm ataupun teknologi.
May 9th, 2010 at 17:58
selama 1 tahun di jepang, saya terkagum-kagun dengan cara hidup mereka, mereka sibuk tapi tidak boros, mereka buru-buru tapi sangat menghormati orang lain, bagi mereka tidak ada yg namanya masalah kecil dan besar, semuanya adalah sesuatu yg harus di perbaiki sebelum terjadinya kehancuran..
salah satu contoh antri, kadang di sini budaya antri sudah ada namun budaya mendahulukan belum ada, dan hampir sama sekali tidak perduli dengan sekitar dengan befikir gue sudah bayar..:(
June 4th, 2010 at 20:42
terima kasih semuanya…..jadi terharu masih ada orang yang melihat dan berfikir untuk kemajuan Republik ini…….tulisan ini sangat memotivasi saya untuk selalu lebih baik. tx
August 10th, 2010 at 10:30
Tak ada salahnya kita mencoba belajar dari negara jepang akan sebuah nilai nilai yang sebelumnya kita tidak punya, atau bahkan terabaikan,
Tapi Semangatlah untuk bangsaku Indonesia.
August 16th, 2010 at 11:57
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
August 17th, 2010 at 8:19
Ya ambillah yang baik (positif), buang jauh-jauh semua yang buruk, dan perbaiki dengan segera….keburukan itu.
BANGKITLAH NEGERIKU, HARAPAN ITU MASIH ADA!!!
September 2nd, 2010 at 12:26
Miris sekali rasanya mendengar comment tentang Indonesia
sementara kita sendiri ini adalah bagian dari Bangsa Indonesia …
Semoga Bangsa Indonesia mau bercermin dan belajar dari kesalahan. Semoga Bangsa ini bisa lebih maju dan lebih baik lagi suatu saat nanti amin
September 25th, 2010 at 12:24
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
November 9th, 2010 at 21:08
Etos kerja orang Jepang patut dicontoh dan diteladani.. Tetapi menurut saya, bangsa Indonesia masih punya keunggulan yang lain. Tetap harsu bangga menjadi bangsa Indonesia
December 16th, 2010 at 14:49
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
June 17th, 2011 at 9:49
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]
June 25th, 2011 at 15:37
kunjung…..
August 9th, 2011 at 13:46
makasih ya,,,
September 12th, 2011 at 15:33
mudah-mudahan bisa mengamalkan dengan sebaik-baiknya,,
ilmu yang bapak dapatkan dari negara japan itu..
December 12th, 2011 at 17:06
[...] BY : Romi Satria Wahono Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this [...]
February 28th, 2012 at 21:25
jepang bisa seperti itu, kata kuncinya adalah attitude/sikap/prilaku.
yang perlu kita cari sekarang ini adalah solusi, agar keluar dari krisis ini.
salah satunya yaitu : mari kita lakukan yang terbaik dibidang kita masing-masing dan saling bersinergi.
untuk bidang pendidikan, saya merekomendasikan pendidikan karakter yang mengoptimalkan otak kanan, lebih lanjut kunjungi : http://antontenera.wordpress.com
salam
May 13th, 2012 at 14:30
[...] 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti [...]