Branding University
by Romi Satria Wahono
Menarik membaca buku terbitan Tempo berjudul Panduan Memilih Perguruan Tinggi 2008 [1], khususnya masalah jurusan dan universitas terbaik menurut pandangan masyarakat. Ceritanya Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) membuat penelitian berbentuk survey yang mencoba melihat seberapa jauh branding sebuah universitas terbentuk di kepala masyarakat. Survey ini menjadi menarik karena hasilnya ditampilkan dalam bentuk grafik perangkingan universitas. Jujur saja, hasil perangkingan universitas memang tidak menggunakan pendekatan akademik seperti yang ditempuh oleh ARWU, THES maupun Webometrics. Tapi terpentalnya universitas-universitas besar seperti UI dan ITB menjadi menarik dikaji lebih dalam. Universitas adalah sebuah institusi, institusi yang mencari mahasiswa sebenarnya mirip dengan perusahaan yang mencari pelanggan. Universitas juga pasti memerlukan marketing dan brand (image building). Yang akhirnya institusi menjadi matang dan kuat setelah institution building-nya juga dikerjakan dengan baik. Apakah universitas di Indonesia menuju ke Branding University? Ikuti terus tulisan ini
Ada dua hal yang menarik dari survey yang dilakukan PDAT. Yang pertama adalah tentang tingkat awareness terhadap universitas pada suatu jurusan, sedangkan yang kedua adalah persepsi masyarakat dan dunia kerja tentang universitas terbaik pada suatu jurusan. Karena core competence saya hanya di bidang computing, tentu yang saya bahas dan ambil dari hasil survey Tempo adalah untuk bidang computing atau teknologi informasi saja. Untuk bidang yang lain, silakan baca baca sendiri yah
Pada survey tingkat awareness terhadap universitas digunakan model survey branding seperti umumnya, dimana tingkat awareness diukur dari tiga level:
-
Top of Mind (ToM): Nama universitas yang disebut pertama kali, yang paling menancap di benak responden
-
Spontan (Unaided Awareness): Nama universitas yang dapat diingat spontan dan tanpa bantuan
-
Dibantu (Aided Awareness): Nama universitas yang berhasil disebut karena dibantu atau dipandu
Kita bisa hasilnya dari gambar di bawah. ITB secara ToM tercatat paling tinggi (28%), meskipun ketika dihitung total terpental ke urutan ke-4. Tiga universitas yang menguasai brand untuk jurusan computing dan teknologi informasi di Indonesia adalah Binus, UI, Gunadarma. Sedangkan ITS, UGM dan Unibraw terpental lebih jauh
Universitas Trisakti dan UPH tercatat sebagai universitas swasta yang ikut muncul dalam percaturan brand university wa bil khusus untuk jurusan komputer. Semua data dan grafik diambil dari referensi [1].

Survey kedua dari PDAT adalah persepsi masyarakat dan dunia kerja tentang universitas terbaik pada suatu jurusan, dalam hal ini yang saya kutip adalah jurusan computing atau teknologi informasi. PDAT menggunakan teknik analisis Thurstone untuk menggambarkan fenomena ini. Hasilnya juga cukup mencengangkan
-
Persepsi masyarakat berhubungan dengan universitas terbaik untuk jurusan computing seperti gambar paling kiri. Binus meninggalkan ITB dan UI yang secara jarak relatif dekat. Gunadarma menyusul dibawahnya. ITS, UGM, UPH, Budiluhur, Trisakti, dan Unpad berebut tempat klasemen bawah dengan nilai yang berdekatan.
-
Persepsi dunia kerja menempatkan ITB pada skor tertinggi, disusul Binus, UI dan Gunadarma. Lihat gambar sebelah kanan.
-
Ketika kedua parameter itu digabung, hasilnya adalah seperti pada gambar paling bawah. Binus dan ITB berkuasa, disusul UI dan Gunadarma. Sedangkan ITS, UGM, Trisakti, UPH, Budiluhur, dan Unpad susul menyusul di bawahnya.
Hasil penelitian PDAT ini tentu debatable, karena hampir tidak menggunakan pendekatan dan parameter akademis apapun dalam penentuan rangking universitas. Tapi perlu kita perhatikan bahwa dalam dunia nyata yang semakin fana ini, faktor image building menjadi faktor penting dalam terbentuk dan berjalannya suatu organisasi, selain faktor institution building.
SMA Taruna Nusantara adalah contoh menarik, saya masuk sebagai angkatan pertama tahun 1990. Dari sisi logika tentu tidaklah mungkin sekolah ini akan menjadi sekolah yang baik dan berprestasi di kemudian hari. Masih terekam di kepala, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki ke SMA Taruna Nusantara, bangunan belum banyak yang jadi, status sekolah terdaftarpun mungkin tidak, guru hasil transfer dari SMA lain yang belum tentu siap dengan pendidikan gaya militer, dan kalau kita lihat dari sisi kurikulum pendidikan pun belum tertata dengan baik. Terlepas dari semua itu, brand sekolah dibentuk dengan sangat dahsyat melalui berbagai media massa, bahwa ini adalah sekolah terbaik, berkualitas, bahkan diberi brand sekolah calon pemimpin bangsa. Pembukaan tahun ajaran dilakukan oleh Panglima ABRI dengan diiringi oleh kunjungan para menteri, pengusaha dan duta besar negara asing. Saya yakin ini adalah penerapan konsep image building yang sangat brilian.
Terus bagaimana dengan institution building? Gaya Pendidikan dengan theraphy positive khas militer diterapkan untuk membentuk disiplin dan mental. Beberapa spesialis pembimbing mental (bintal) Taruna Akabri didatangkan. Jargon-jargon yang tersebar dalam proses image building digunakan dan dikemas dalam bentuk lagu dan mars, yang dinyanyikan setiap siswa pada saat baris berbaris, lari, konvoi, apel atau kalau perlu pada acara makan
Semua untuk memacu adrenalin siswa, mengajak semua siswa untuk belajar lebih keras dan keras lagi. Berbagai metode influence tactic diterapkan oleh guru (pamong) dan pengajar. Tidak sampai 1 tahun setelah itu semua, hasil proses institution building ternyata mulai bisa mengiringi hasil image building. Media massa mulai menampilkan berbagai prestasi siswa yang bukan hanya klaim dan brand semata, tapi terbukti dalam berbagai kompetisi nasional maupun international.
Kembali ke masalah branding di universitas, dari berbagai data PDAT yang kita bahas diatas, harus diakui secara jujur bahwa brand Binus menancap cukup lekat ke dalam benak masyarakat dalam bidang computing. Ini adalah buah sukses keberhasilan proses marketing dan branding yang digarap serius oleh Binus. Dan ini harus diikuti oleh proses institution building, memperbaiki kualitas dosen dan mahasiswa. Binus harus mulai mengembangkan investasi ke SDM, meningkatkan kesejahteraan dosen, memberi insentif dan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke S2 dan S3, dsb. sehingga cap comot SDM sana sini tidak ada lagi
Rasio mahasiswa-dosen di kelas juga mulai harus diperhatikan, tidak hanya mengejar kuantitas mahasiswa saja tapi juga kualitas belajar mengajar.
Di lain pihak, untuk universitas negeri yang selama ini merasa berada di comfort zone, mulai harus bergerak dan memikirkan kembali strategi branding dan marketing yang efektif dan efisien. Jaman sudah berubah total, kefavoritan ITB, UI, ITS, UGM, dsb sudah mulai tergerus oleh kekuatan branding yang dilakukan secara profesional oleh universitas-universitas swasta. Menunggu mahasiswa mendaftar adalah kuno, mengenalkan diri, berpromosi dan proyek jemput bola harus mulai digulirkan untuk mendapatkan mahasiswa-mahasiswa yang berkualitas.
Time will tell, siapa yang akan menjadi pemenang dari kompetisi ini. Yang pasti, dari sudut pandang (calon) mahasiswa, tentu ini arah yang positif, karena sudah diposisikan sebagai pelanggan. Universitas juga tidak bisa semena mena terhadap mahasiswa seperti dulu lagi. Infrastruktur harus dilengkapi, perpustakaan, internet, komputer harus banyak disediakan untuk memberi layanan yang baik kepada mahasiswa. Dosen juga harus mulai berpikir bagaimana menyampaikan mata kuliah yang diajar dengan baik dan benar serta “terang benderang” kepada mahasiswa. Dosen yang sak karepe dewe dan pinter untuk dirinya sendiri akan tergerus oleh dosen-dosen muda yang enerjik, terampil dan punya berbagai teknik untuk memahamkan mata ajar ke mahasiswa :)
Untuk sahabat-sahabatku sivitas akademika universitas dimanapun berada, jalan yang kita pilih mungkin sukar, gelap dan mendaki
. Tapi mudah-mudahan kita semua tetap dalam perdjoeangan …
REFERENSI:
[1] Sri Indrayati et al, Sri Malela et al (editor), Panduan Memilih Pergurauan Tinggi 2008, Pusat Data dan Analisa Tempo, 2008
Related Articles
- UI dan UPI Melejit di Rangking Webometrics Juli 2008
- Online Personal Branding dan Kampanye Pemilu
- Kompetisi Software Bee-ICTA 2007
- Seminar dan Workshop eLearning di Jogjakarta
- eLearning, Research dan Blogging di STIE Perbanas Surabaya
- ePUP: 3 Pilar Strategi Branding di Internet
- 10 Kiat Menjadi Entrepreneur untuk Mahasiswa Lugu (Versi Seminar)
- Memperkuat Branding Media Massa Elektronik
- Teknik Perangkingan Universitas ala THES-QS
- Romi Satria Wahono eUniversity
- Menang di e-Learning Award 2008 Kategori Blog Edukatif
- Facebook Personal Branding: Pakai Friends, Group atau Pages?
- 6 Tahap Membangun Komunitas Maya
- Teknik Perangkingan Universitas ala ARWU
- Konsentrasi Game Technology
- Beralihnya Trend ke Jurusan Desain
- Tampilan Baru IlmuKomputer.Com
- Sehari Keluyuran di PENS ITS
- Kreatifitas Kampus, Kesalehan Sosial dan Open Content: Oleh-Oleh Penjurian INAICTA 2008
- IlmuKomputer.Com Sebagai Blog Teknologi Terbaik di Pesta Blogger 2007
Silakan gunakan berbagai jalur di bawah untuk menghubungi saya. Mohon maaf kalau saya kadang lama baru bisa menjawab, please don't give up, believe me I will come to you :)


























































































July 9th, 2008 at 18:25
Ah…itu khan hanya survey aja.
Dunia kerja sekarang tidak membutuhkan nama besar universitas dimana dia mengenyam pendidikan walaupun ada juga namun kecil sekali.
Di IT segala sesuatu dinilai dari Knowledge dan Skill.
Walaupun seseorang pemrogram atau web desain di perusahaan, walauapun dia S1,S2 atau S3 sekalipun, kalau tidak bisa mengembangkan aplikasi, administrasi database atau maintenance sistem. Tidak lama juga pasti akan ditendang dari perusahaan.
Jadi kami rasa nggak pengaruh survey itu.
July 9th, 2008 at 18:35
wekssss, PT saya kok gak masuk ya kekekke? gpp saya juga berencana untuk menjadi entreprenaur (betul apa g tulisannya ya?) bukan menjadi bawahan ….
July 9th, 2008 at 18:42
#Rio: Mantab mas. Yup aku setuju kok. Aku melihatnya dari sisi kualitas layanan university ke mahasiswa. Kalau tentang kesuksesan seseorang memang nggak ada hubungannya dengan sekolah atau universitas kan. Juga memang posting ini tidak diarahkan ke sana. Masalah pengembangan diri (SDM), aku bahas beberapa topik khusus misalnya masalah keunggulan defacto dan dejure.
July 9th, 2008 at 19:38
Kalo PT sdh berlaku spt perusahaan komersial, apa nanti biaya pendidikan tdk akan jadi lbh mahal? Ujung2nya masyarakat tak mampu makin susah dpt pendidikan bermutu.
July 9th, 2008 at 20:24
time will tell…bagaimana univ2 negeri bisa bertahan dengan univ2 swasta yg dikelola lebih profesional…
July 9th, 2008 at 20:37
institut saya ndak disebut..
gpp lah. saat kita berada dalam suatu organisasi, jangan sampai kita mengandalkan nama besar organisasi tersebut. Yang penting kita manfaatkan keadaan yang ada untuk pengembangan diri kita… Salam buat Mas Romy… ^^
July 9th, 2008 at 21:33
#Anis: Itu salah satu PR penting Universitas mas. Fak Kedokteran kayaknya dah menjelma menjadi fakultas untuk orang kaya … heheh
#Fisto: Yup. Alhamdulillah ada yang berhasil menangkap inti dari posting ini … hehehe
#Asfarian: Setuju mas. AKu juga bukan dari univ besar kok hehehe
July 10th, 2008 at 1:02
saya sepakat dengan pak romi, bahwa branding sebuah kampus baik itu negeri sangat perlu dilakukan. jangan sampai gara2 bawa nama negeri akhirnya ngak usah branding nanti datang sendiri, pola fikir kampus seperti itu kayaknya perlu diubah apalagi kampus swasta semakin menunjukkan taringnya.
Kampus saya (ITS) sekarang sudah melakukan CSR (Corporate Social Responsibility) yang biasanya company melakukannya, saya rasa salah satu branding image yang baik di masyarakat.
July 10th, 2008 at 6:47
emang sih klo saya liat univ swasta branding-nya bagus dibanding negeri, karena mereka ada anggaran untuk itu, mereka harus berjuang untuk melawan ke-swastaan itu, tau sendiri nama besar NEGERI masih menancap dibenak masyarakat pada umumnya (baca daerah).
Yang jadi persoalan di beberapa swasta, banyak yang melakukan branding dengan baik, tapi melupakan kualitas (binus, gunadarma dkk perkecualian kali yah). selain itu banyak juga Univ swasta mengejar branding dengan transaksi nilai, siapa bayar mahal maka dapet nilai bagus, maka berbondong2lah orang kaya masuk swasta karena pasti nggak akan jemblog nilainya.
sedangkan persoalan NEGERI, branding awal bagus, orang dalam lebih mikirin pemasukan, pemerintah cuek, dan jadilah kampus seadanya. kualitas melempem, branding melorot tahun per tahunnya.
Intinya, klo PTN di-re-branding maka akan tak terkalahkan oleh swasta
July 10th, 2008 at 10:53
Kalo menurut saya survey diatas malah cerdas sekali. Karena saat ini memang brand yang paling berpengaruh. Untuk orang yang penah duduk disisi manajemen perusahaan pasti tahu kalau asal universitas sangat mempengaruhi cara perusahaan menghargai seorang pekerja (maksudnya dari segi gaji dan perlakuan)
Walaupun kesuksesan ditentukan pribadi masing-masing, tapi pekerja yang berasal dari universitas yang brand-nya bagus punya posisi awal yang baik sehingga menguntungkan untuk karier kedepan.
July 10th, 2008 at 12:06
brarti image PTN lbh baik dr swasta mungkin udah gak berlaku ya, mas Romy?
tp klo biaya kuliah mungkin PTN lbh murah dr swasta
July 10th, 2008 at 12:27
kampusku kagak pernah masuk hitungan,
terdengar sayup-sayup…kqkqkqk
…biaya kuliah mungkin PTN lbh murah dr swasta
belum tentu juga Mas Toim.
July 10th, 2008 at 13:39
Dipungkiri atau tidak standar kompetency perguruan tinggi saat ini sudah menjadi tolak ukur, sebagai karyawan di instasi swasta PMA, kredibilitas kampus sangat memengaruhi dalam perekrutan karyawan.
benar pula anggapan soal enggak perlu nama besar perusahan, tapi aku punya pengalaman di tolak masuk kerja karena bukan lulusan universitas terkemuka
dan di tolak karena setalh di tijou secara administratif kampus masih akreditas “D”.
maaf mas kita hanya menerima akreditas A, B, C hal yang menyakitkan di tengah manjamurnya perguruan tinggi swasta dengan kelas extention atau di beri kemudahan untuk bagi karyawan tapi setelah lulus, ijazahnya tidak laku.
harusnya memanga harus ada DMAIC tentang perguruan tinggi dan uji kompetency jadi tolak ukurnya bukan pada nama kampus tapi kualitas pendidikanm,
July 10th, 2008 at 14:40
Ups! Ilmu Komputer IPB kok belum terdengar ya pak romi…?
July 10th, 2008 at 16:36
masa’ kampusku ga masuk. padahal di kompetisi smacam Pimnas, atopun Imagine Cup -nya Microsoft, kampusku slalu jadi finalis. huhuhuhu.. :crying:
July 10th, 2008 at 17:16
wah, sayang yang dibranding cuma yang PTN aja,,, coba yang swasta juga ya…
whehehe… sy suka kalimat terakhirnya mas…
July 10th, 2008 at 22:09
Membaca postingannya Pak Romi, saya jadi berfikir bahwa perguruan tinggi sudah semestinya segera menerapkan teknik-teknik pemasaran modern untuk melakukan repositioning dan image building serta brand management.
July 11th, 2008 at 1:53
#Rafki: Yap intinya seperti itu mas
#Dhedhi: Selama ini yang bagus brandingnya kan justru malah swasta mas
July 11th, 2008 at 11:27
ahh sial, PT gw juga ga masuk.
tapi kalo kerja yang ditanya (kalo IT) paling2:
“ipk berapa?” atau “bisa ini ga?” atau “bisa itu ga?”
buat yang PT nya ga masuk, SEMANGAT !!!
yang penting bisa koding ampe mampus trus bikin bos lu ngangguk2 kegirangan itu lebih dari cukup…
July 11th, 2008 at 13:12
memang kalau ilmu komputer dan informatika..UI tuh gak ada apa-apanya dibanding Binus dan Gundar. tetapi kalo MIPA-nya bisalah bersaing….(mungkin karena Univ Swasta jarang yang membuka Fakultas MIPA….:D)
memang sekarang paradigma harus berubah, dahulu memang PTN merajai, sebab jarang Perguruan Tinggi di Indonesia. tetapi sekarang dengan berjubel-nya sarjana di Indonesia, terutama Jakarta. kayaknya latar belakang PT hanya mumpuni buat di depan calon mertua…
July 11th, 2008 at 13:53
bagaimanapun survey cukup berguna untuk menarik minat mhs
tetapi, tetep aja ..life is contributed
jadi..alumni mana yg memberi banyak solusi
IT di Indonesia???
saya masih percaya ITB, UI dan universitas lain yg dah lama…tetep mengambil peran signifikan.
Ubinus? Gunadarma?
masih sebatas kuda hitam,
July 11th, 2008 at 17:31
Apa pernah ada survai mengenai berapa persen dari tamatan universitas yang bekerja atau membuka lapangan kerja atau malah jadi pengangguran intelektual yah ?
July 11th, 2008 at 17:59
#Khalid: Sayangnya saat ini belum ada survey tentang itu om
July 11th, 2008 at 22:19
Ilmu Komputer IPB ga masuk
July 11th, 2008 at 23:33
# ben saya suka sekali statement anda ” kayaknya latar belakang PT hanya mumpuni buat di depan calon mertua…”
# Khalid Mustafa saya juga pengen tahu tuh survey nya mas….
July 12th, 2008 at 7:47
Saya kira perangkingan ini, lepas dari seperti apa input dan output mahasiswanya,sangat perlu dilakukan.jelas karena ini bisa menjadi semacam mirror reflection bagi kampus itu sendiri untuk lebih meningkatkan lagi kualitas imagenya di mata masyarakat,khususnya adik2 yang ingin masuk ke kampus tersebut.
sudah saatnya emang pihak kampus mengemas kampusnya dengan teknik marketing yang revolusioner mengingat untuk orang indonesia sendiri keputusan untuk menilai sebuah kampus menurut saya masih sangat dipengaruhi oleh ‘kata orang lain’,'isu yang beredar’,'kata pakar’ dan kata-kata lain yang sifatnya masih mendisobjektifkan realita output mahasiswa yang dihasilkan oleh kampus tersebut dibanding dengan kampus lain.ini menurut saya yang menarik.dan bisa dimanfaatkan oleh kampus2 untuk memulai strategi marketing yang lebih efektif.
July 12th, 2008 at 13:07
Wah…, hasil surveynya tidak valid nih, yang melakukan survey dan yang disurveynya siapa dulu? jangan2 karena Sri Indrayati et al, Sri Malela et al (editor), tidak pernah kenal Ilmu Komputer IPB atau memang anti IPB?
Ubinus? Gunadarma? bisa apa? fasiliti mungkin OK, tapi mahasiswanya? lulus UMPTN atau via USMI aja mungkin kagak bisa. Pokoknya seperti konsep DBMS, garbage in garbage out. Kualitas output di tentukan kualitas input. Jangan mentang2 masuknya mahal trus dibilang bagus, buktikan dulu lulusannya. Nama universiti mungkin boleh mudah diucap, tapi klo kemampuannya nggak ada gimana?
UI dan ITB sih OK, jelas qualified.
July 12th, 2008 at 15:12
#Khalid
Saya tertarik ingin melihat hasilnya kalau ada survey semacam itu
July 12th, 2008 at 16:37
#Arief: Sabar mas, njawab riset valid dan tidak ya dengan riset yang lain dong … hehehe. Coba pahami paragraf pertama, dan kenapa saya beri judul Branding University, pasti akan tahu inti dari tulisan ini …:)
July 12th, 2008 at 17:45
Yup, kualitas dari sebuah perguruan tinggi hanya beberapa persen saja yg dipengaruhi oleh brand image yg telah tumbuh. Sebuah survey pun hanya mengambil sample dari beberapa bagian saja, walaupun terkadang mampu memetakan opini tentang suatu hal namun kadang jg tak dapat dijadikan pembenaran terhadap suatu hal.
Tergantung bagaimana ke”Arief”an anda menyikapinya
-Students of IT Telkom (d/h STT Telkom), Bandung-
July 12th, 2008 at 18:33
@khalid mustafa
Sebenernya ada survey seperti itu,cuma mungkin untuk internal kampus tertentu aja…saya punya data tentang hasilnya (dari kampus saya tentunya).kalo mau bisa saya emailkan!:)
July 12th, 2008 at 22:29
#Dito: Dipublikasikan di mana mas penelitiannya? Object penelitiannya alumni dari satu universitas saja atau lebih luas?
July 12th, 2008 at 23:58
Perekrut dari luar negeri (PdLN): Saya cari nama anda kok gak ada di Google? Katanya sarjana komputer dari Indonesia, kok gak ada tanda-tanda aktivitas anda yang bisa terekam di rana internet?
Sarjana Indonesia Pencari Kerja (SIPK): Tapi saya sarjana komputer dari universitas XXX, itu ternama lho di Indonesia?
PdLN: Hmm maaf saya gak pernah dengar itu sama sekali. Hmm kamu pernah nerbitin jurnal gak, soalnya kampus di Indonesia gak ada yg punya standar baku dan direkomendasikan disini.
SIPK: Hmmm..
PdLN: Kami lebih percaya sertifikasi internasional, kamu punya gak? Hmm.. kami lebih percaya sertifikasi internasional, maaf, soalnya kami masih belum tau jaminan standar satupun universitas di negara Anda.
SIPK: Hmmm..
July 13th, 2008 at 0:36
#Subair: hehehe … mantab ilustrasinya om
July 13th, 2008 at 16:44
he..he.. harus terekam di google ya nama kita kalau mau masuk kerja
July 13th, 2008 at 21:26
Top markotop…
SIPK: Hmmm..
PdLN: Gimana?… Kamu tau perusahaan ini dari mana?
SIPK: Dari google pak…
PdLN: Apa yg membuat kamu tertarik dengan perusahaan ini?
SIPK: Gak tau pak, profilnya sih bagus..
PdLN: Sstt… ini rahasia lho,… gak sebagus itu sebenarnya, perusahaan ini banyak utang,.. biar keliatan keren ya kami tulis aja bagus2 di internet..
SIPK: Ah, masa sih pak?
PdLN: Ya, semua perusahaan banyak utang, semakin besar perusahaannya, semakin besar hutangnya. Kalau dipikir2 perusahaan itu jadi milik bank. Wong operasionalnya utang melulu ke bank, mau berkembang juga ngutang ke bank. Kalau kreditnya macet, ya disita toh sama bank. Ya artinya punya bank itu perusahaan.
SIPK: Oh, gitu ya pak?
PdLN: Ya, mendingan kamu buka perusahaan sendiri saja, coba deh gak usah ngutang.. pasti gak bisa..
SIPK: ????… Kamu lulusan mana toh pak?
PdLN: PT luar negeri lho, XXX
SIPK: sebentar saya searching…
PdLN: gmn?
SIPK: Kok gak ada pak?..
PdLN: Lha wong gak terkenal kok.. gimana mungkin ada
SIPK: Lha? sama donk pak?
PdLN: Lha iya, kamu itu goblok mau ngelamar ke perusahaan yang gak jelas..
SIPK: Ya mana saya tau,.. wong saya cuma pingin cari kerja kok
PdLN: Makanya belajar yang bener. Kalau dari sananya bodoh, ya mau diapain. Buka perusahaan saja sendiri dari pada gak laku, wong kamu bodoh gara-gara sering melakukan riset sendiri toh? sampai pelajaran kampus susah nyangkut.
SIPK: iya sih pak, thanks atas sarannya.
PdLN: Ya,..
SIPK: Ada modal gak pak?
PdLN: Lha, utang saya aja numpuk. Pinjam sana ke bank..
SIPK: Lha, katanya tadi jangan ngutang pak? saya jual sawah saja deh pak..
PdLN: Ya, itu lebih bagus, lebih bagus lagi kalau kamu jual beli tanah, lebih nyata hasilnya daripada buka software house. HAhHAHSAHSashasah
SIPK: (Dasar Gila ini orang…)….
July 14th, 2008 at 0:23
Mas Romi, sayangnya ga disebutkan responden survey itu dari daerah (kota) mana? itu penting untuk pemetaan, karena sebagian besar universitas yang disebut dr Jakarta (kecuali beberapa univ negri).
univ swasta di daerah ga ada yg disebut, apa karena ga terkenal, atau respondennya warga ibu kota semua????
July 14th, 2008 at 10:49
#Heri TL: Coba nanti njenengan cari dan baca bukunya … hehehe. Aku harus dapat royalti nih karena ngelarisin buku PDAT …
July 14th, 2008 at 10:56
Mas Romi, saat ini adalah era globalisasi yang 3. Kenapa? Karena kita tidak melihat lagi dari mana atau sekolah mana atau dengan kata lain “menjual merk sekolah” namun yang terpenting adalah apa yang dapat kita jual dari diri kita sendiri alias kompetensi pribadi. Bagimana, setuju?
July 14th, 2008 at 11:28
#Arif: Yap setuju, baca tulisan saya di blog yang mengupas buku Thomas Friedman (The World is Flat). 3 versi globalisasi itu adalah ungkapan dari friedman. Terus masalahnya apa yah?
Sebenarnya gak di luar konteks dari inti diskusi yang ada di posting ini sih. Saya membahas dari sisi institusinya, bukan dari personal mahasiswa, dosennya, atau kreatifitas maya yang mereka buat
July 14th, 2008 at 11:42
salam kenal mas.
saya aja dr kampus ga terkenal tp sering dapat tawaran buat desain web dan desain baleho. kadang juga suruh bantu dalam EO. jadi menurut saya, kebanyakan mahasiswa sekarang masih memikirkan nilai padahal dunia kerja sekarang lebih mementingkan untuk mencari tenaga baru yang mempunyai skil, kemampuan dan kreatifitas.
July 14th, 2008 at 19:45
Kok ga ada branding universitas yang paling murah yah..meskipun top tapi yang kuliah orang-orang itu saja ya kapan roda akan berputar.
July 15th, 2008 at 10:52
dari UGM kok, tenang2 aja. Padahal ada yang menang Google Summer Of code lo
July 15th, 2008 at 13:43
#Aziz: Harusnya prestasi temen-temen seperti itu digunakan untuk branding mas
July 15th, 2008 at 14:25
Sekolah lagi, ah. Kampusku gak dianggap.
Ayo, semangat!!!
July 15th, 2008 at 18:11
Wuiihh……..
makin banyak Univ, makin banyak referensi, makin banyak saingan dan makin banyak yang lainnya deh……..
Di otakku msh nempel kalimat begini….
“Sekolah swasta fasilitas oke tapi murid belum tentu oke. Sekolah negeri fasilitas belum tentu oke tapi murid yang bisa dibilang oke.”
Ini pengalamanku yang pernah belajar di SD swasta, tapi masuk SMA negeri, yang mo protes ya silakan…
Bingung nih aku mo kul di mana………..??!!
July 16th, 2008 at 10:20
Om katanya mau ke acara pembukaannya TI Unsoed kapan????
bner ga sih????kok di scedule nya ga ada????
July 16th, 2008 at 10:38
sory mas belum saya llihat bln agustusnya….
maaf… ternyata masih lama kan???
July 16th, 2008 at 11:07
#Ven: hehehe yap masih lama. Aku dukung penuh lah perdjoeangan om Nurul dan temen-temen di Unsoed
July 17th, 2008 at 15:28
Om Romi, panduan yang pas nih buat calon mahasiswa baru, hehe suatu penelitian jika diadakan secara independent kemungkinan besar hasilnya tidak akan bias, dengan sampling error yang besar. Sama ketika saya masih kecil, ditanya ingin mau jadi apa? sebagian besar menjawab ingin menjadi dokter , atau tidak ingin menjadi insinyur . Karena apa? kebanyakan dari orang tua seperti memberikan stigma kepada anaknya, agar jika ingin sukses raihlah cita-cita dengan menjadi dua pilihan tersebut, meskipun pada realisasinya seseorang dapat mampu berkembang bukan hanya dari bangku kuliah saja, dapat juga berkembang dari lingkungan sekitarnya , bangku kuliah hanya sebagai kebanggaan formalitas saja.(woops)
.. Go Netpreneur, Entrepreneur…
July 17th, 2008 at 23:12
Menarik pak Romi, saya jadi ingat sebuah buku yang berjudul “Perang Merek”, kayaknya paham ekonomi kapitalis udah mulai masuk ke kita gitu. Kalau nanti brandnya laku, ntar apa?, paling uang kuliahnya naik gitu, hehe…
Yang pasti, ini merupakan perubahan paradigma perguruan tinggi, sebelum masuk perguruan tinggi, mereka melihat bentuk perguruan tingginya dulu, jadi berharap akan ditempat, paradigma masuk perguruan tinggi “untuk mengubah pola pikir” sudah diubah. Tetapi untuk menjadi lulusan dari PT ini, lulusan dari PT itu.
Seharusnya sang calon mahasiswa memikirkan pengembangan dirinya, kampus merupakan salah satu bentuk dukungan untuk mendapatkan media dan sumber belajar. Tapi intinya ya tetap saja pengembangan diri, lihat saja enterpreneur sukses, ndak perlu lulus dari Binus atau ITB kan?, malah ada yang ndak tamat S1, tapi bisa jadi raja dibidangnya.
Saya jadi ingat dengan iklan Sampoerna yang produk rokok A-Mild itu, pendidikan digambarkan sebagai sebuah mesin penjual Toga otomatis, tinggal tentukan harga dan pencet tombolnya. Arahnya nanti, kita tidak lagi memikirkan proses, mau hasilnya sajah…
wallahualam
July 18th, 2008 at 4:23
hm…..
tulisan yg menarik mas….
buat calon mhs : jadi tau mana univ yg brandingnya bagus tapi kualitasnya juga bagus… tapi biaya pasti mahal..
klw bisa cari cari kualitas yg bgs, branding lumayan, harga juga ga mahal…
buat PTN : hati2 klw ga segera di branding dg bagus dan fasilitasnya juga di update nanti kebalap PTS. sayang dah di atas, tp kurang brandingnya.
trus buat PTS ga terkenanal, kesulitan biaya, mahasiswa sedikit, kualitas pas-pasan pie????
haruskan tetap dlp perdjoangan terus….
July 19th, 2008 at 16:31
wahh…tapi sayang kampusQ gak disebut disana…UIN
July 19th, 2008 at 17:01
salam kenal ya pak…
July 21st, 2008 at 13:15
Di paragraf terakhir ttg “tidak semena-mena pada mhs”, saya teringat kata Pak Budi Frensidy, dia bilang untuk bidang Finance kita terlalu berkiblat ke barat yang pada akhirnya materinya ga sesuai dengan kultur indonesia Ct: Indonesia Bank-base, US market-base. Yang dipelajari banyakan saham, obligasi, derivtive dibanding transaksi perbankan, padahal perusahaan di Indonesia lebih banyak menggunakan bank. Sama juga dosennya, keluarin buku mirip2 dari US. yang ada ngga membumi.
Btw,kalo dibuat Ivy Leaguenya Indonesia, kira2 PTS mana aja yang bisa masuk kategori ini Mas Romy??
July 21st, 2008 at 16:29
Kenapa 10 PT tersebut dipilih dunia kerja..? -> karena lulusannya memiliki karakter
Karakter seperti apa yg dinilai penting oleh Dunia Kerja..?
10 karakter yg dinilai berdasarkan ranking :
1.Mau bekerja keras
2.Kepercayaan diri tinggi
3.Mempunyai Visi kedepan
4.Bisa bekerja dalam Tim
5.Memiliki kepercayaan matang
6.Mampu berpikir analitis
7.Mudah beradaptasi
8.Mampu bekerja dalam tekanan
9.Cakap berbahasa Inggris
10.Mampu mengorganisasi pekerjaan
Bagaiman agar lulus PT dengan berkwalitas. .?
6 Tips dari dunia kerja berdasarkan rangkingnya :
1.Aktif berorganisasi
2.Mengasah bahasa Inggris
3.Tekun belajar
4.Mengikuti perkembangan informasi
5.Memiliki pergaulan luas
6.Mempelajari aplikasi komputer
Bagaiman Dunia kerja menjaring pekerjanya.. ?
Inilah 8 syarat yg harus dipenuhi (berdasarkan rangking):
1.Indek prestasi komulatif
2.Kemampuan bahasa Inggris
3.Kesesuaian program studi dengan posisi kerja
4.Nama besar Perguruan Tinggi
5.Pengalaman kerja/magang
6.Kemampuan aplikasi komputer
7.Pengalaman organisasi
8.Rekomendasi
sumber : Majalah mingguan Tempo, 20 Mei 2007
bagaimana dengan PT kita?
July 22nd, 2008 at 14:49
*horee… budi luhur masuk nich*
terlepas dari hasil survey di atas valid atau tidak, memang branding-image suatu institusi pendidikan (dari sd sampai universitas) cukup berpengaruh terhadap keberhasilan institusi tersebut dalam mendapatkan “pelanggan”. mungkin sudah saatnya institusi pendidikan memanfaatkan konsep cyberpreneurship spt yang dilakukan google, yahoo, amazon, dsb.
July 22nd, 2008 at 15:12
brand menurut aku harus dibangun dari akar, dalam hal ini adalah dari mahasiswa pegawai dan pengajar/dosen
kedisiplinan, kerja keras, jujur, keyakinan akan masa depan yang cemerlang harus ditanamkan dari awal.
kalo universitas negeri sih memintarkan orang pinter itu gampang
tapi memintarkan orang yang dianggap bodho ini yang sudah dan penuh tantangan
belum ada perguruan tinggi yang memberi visi” menjadi lahan yang subur untuk pendidikan” dan ini artinya bibit yang belum tentu baik akan menjadi tumbuh berkembang dan subur dengan sempurna setara dengan bibit yang istimewa…..
ini baru namanya sekolah heeeeee
iya ngak ya…….
salam
yoga
July 23rd, 2008 at 13:45
ga peduli ah…
soalnya universitas saya ga disebut-sebut..
lagian menurut saya mending subjek aja nilainya.dilihat nya dari individual itu sendiri.
bisa dilihat juga kan banyak buku-buku IT yang penulisnya juga ternyata ga dari perguruan2 di atas.
July 25th, 2008 at 10:39
Posting menarik Pak Romi, sayang sampelnya hanya 1 prodi (komputer science) saja, mungkin lebih menarik hasil surveynya. Karena Universitas itu besar, dan analisa image building vs institution building lebih variatif
July 25th, 2008 at 12:58
#Ahmad: Beli bukunya mas, lengkap di sana … hehehe
August 3rd, 2008 at 21:29
wew,, bahasannya berat nih mas romi hehe,,, saya kuliah 2 tahun molor, baru tahun ini masu ckck,,ke binus tapi ga ketemu mas romi sich hehe,,,
August 11th, 2008 at 14:18
Menurut saya sih, asal usul PT Juga perlu walaupun itu gak mutlak, biar gimana nama besar suatu KAMPUS kadang menunjang fasiltas yang dibutuhkan mahasiswa untuk maju seperti sarana lab, sarana sertifikasi (spt CCNA MCSE dll), dengan adanya sarana pendukung tersebut sangat membantu mahasiswa untuk maju dibandingkan dengan kampus kampus yang hanya menyediakan fasilitas seadanya untuk mahasiswanya.
Sekali lagi NAMA BESAR PT tidak menjamin kualitas MAHASISWANYA kembali ke MAHASISWANYA sendiri mau maju atau tidak, dengan fasilitas lebih memadai tentu mahasiswa yang keinginan majunya tinggi lebih bisa mengembangkan keahliannya.
Thanks
August 12th, 2008 at 16:41
Kalo misalnya hanya dompleng universitasnya aja tanpadibarengi dengan kemauan yang keras dari mahasiswa itu sendiri, bisakah si mahasiswa itu maju? yang penting kemampuan dan kemauan untuk belajar keras,dimana pun dia berapa,bukan universitas mana dia belajar….
October 22nd, 2008 at 19:53
Halah, gw lulusan gunadarma, di comment gw liat2, ada yang bilang UMPTN aja belom tentu bisa??? ha? apa hubungannya, KEAHLIAN JURUSAN ama UMPTN??? di dunia kerja, yang penting skill, lo gak bisa apa2, out!!! lo bisa melakukan apa2, in!!! gak penting universitas mana, semuanya bisa, individual skill men!!! klo ada perusahaan yang liat via akademik, itu perusahaan yang cuma gak mau ambil susah, dengan persepsi umum, nih orang kuliah di PTN terkenal, dianggap berskill tinggi.., IPKnya tinggi, dianggap berskill tinggi.., padahal, gak bener…, IPK tinggi cuma textbook? mana bertahan… (kebanyakan di gundar, IPK tinggi cewe2 yang texbook, wakakakakak)
November 6th, 2008 at 13:49
(#
/*
Arief Says:
July 12th, 2008 at 13:07
Wah…, hasil surveynya tidak valid nih, yang melakukan survey dan yang disurveynya siapa dulu? jangan2 karena Sri Indrayati et al, Sri Malela et al (editor), tidak pernah kenal Ilmu Komputer IPB atau memang anti IPB?
Ubinus? Gunadarma? bisa apa? fasiliti mungkin OK, tapi mahasiswanya? lulus UMPTN atau via USMI aja mungkin kagak bisa. Pokoknya seperti konsep DBMS, garbage in garbage out. Kualitas output di tentukan kualitas input. Jangan mentang2 masuknya mahal trus dibilang bagus, buktikan dulu lulusannya. Nama universiti mungkin boleh mudah diucap, tapi klo kemampuannya nggak ada gimana?
UI dan ITB sih OK, jelas qualified.
*/)
#arif= sori gw cuman ngebelain almamater gw!,
lo sirik aja kalee…ngaku dari kampus negeri, tapi omongnya ga intelek banget,gw bales ga intelek juga ye…
gw cuman balik nanya kemampuan anak IPB itu kaya apa?, di programming, networking? mana ada yang terkenal dari ipb?…namanya juga pertanian
kalo yg namanya survey om? ya memang seperti itu…lo kalo mau survey yang valid.. lo bikin aja lembaga survey ndiri…:)
kalo mahasiswa (binus-gunadarma )ya jelas ajalah maju…, bukanya ga mampu UMPTN ke IPB tapi ga ada minat banget ke IPB, ya karena dari IPB itu IT-nya ga ada yang top-markotop, coz ipb aksesnya kebanyakan di kebon… sori kalo lo kesinggung…
February 18th, 2009 at 18:27
surveynya kurang valid karena hanya dilakukan pd masyarakat jakarta saja. pantas aja IT binus yg di Jakarta mengalahkan IT ITB yg di Bandung. untuk jurusan lain, UI juga jauh mengalahkan univ-univ lain karena berada di luar jakarta
February 18th, 2009 at 22:24
yak setuju dengan mahasiswa itb, penilaian grafiknya gak objektif. di unikom sekalipun baru dan cuma swasta, IT nya cemerlang, ga banyak orang yang tau. implementasi ke dunia real, misalkan ke dunia kerja harus dinilai juga. karena ilmu anak kuliahan reguler berbeda dengan anak kuliahan yang udah kerja. mari berkunjung ke UNIKOM, kamu tunjukkan teknologi yang kami miliki
Thanks