Jakarta dan Bahasa Lalu-Lintasnya 04 Apr2007

Tags

Related Posts

Share This

Jakarta dan Bahasa Lalu-Lintasnya

jakartamacet3.jpgJakarta memang fenomenal! Agresifitas kompetisi kehidupan membuat manusia-manusia daerah yang dulu lembut menjadi keras baik fisik maupun mental. Jangankan masalah kantor, sebelum masuk kantorpun kita sudah harus mengarungi jalanan yang ganas, liar dan tak kenal ampun. Salip kanan, salip kiri, pindah jalur, senggolan spion pun menjadi kebiasaan sehari-hari motor atau mobil kita. Metromini dan bus umum kadang juga sangat tidak manusiawi ketika mengambil penumpang, bisa tiba-tiba berhenti di tengah jalan atau tiba-tiba ke kiri tanpa tanda terlebih dahulu. “Kota yang kutinggali kini tak ramah lagi. Orang-orang yang lewat beri senyumpun enggan” … kata mas Iwan Fals 😉

jakartamacet2.gifPertumbuhan bahasa terutama kosa-katanya juga kadang tidak terkendali dan tidak terkenali 😉  Kalau di daerah lain cukup punya satu kata macet untuk lalu-lintas, Jakarta tidak puas karena menggunakan sekitar 8 9 10 kata untuk menggambarkan hierarki kemacetan lalu-lintas. Paling tidak yang sering keluar dari mulut petugas Tol, penyiar Radio maupun tulisan di media massa lokal ada beberapa di bawah.

  1. Macet Total
  2. Macet
  3. Padat
  4. Padat Merayap Tanpa Harapan (Pamer Paha)
    (tambahan dari Andri dan Aespe)
  5. Padat Merayap Susul Menyusul (Pamer Susu)
    (tambahan dari Sweedia dan Snydez)
  6. Padat Merayap
  7. Merayap
  8. Ramai Lancar
  9. Lancar
  10. Sangat Lancar

Ada yang terlewat?

BTW, meskipun mas Iwan selalu berteriak sewaktu menceritakan tentang Jakarta di konser-konsernya, “Sombongnya engkau berjanji, kau lambungkan anganku, mimpiku singgah di langit, kau bohong”. Tetap saja di akhir lagu dia mengatakan, “Namun aku tak kuasa lepas dari rayuanmu”. Seperti kita semua yang masih tetap tinggal di Jakarta dan tak kuasa lepas dari rayuannya 😉

ttd-small.jpg