Perjalanan Darat 1826 km itu Nikmat 24 Oct2007

Tags

Related Posts

Share This

Perjalanan Darat 1826 km itu Nikmat

lebaran0.jpgSudah lama sekali tidak mudik waktu lebaran. Selama 10 tahun di Jepang juga pulang bukan pas lebaran. 8-22 Oktober 2007 lalu saya benar-benar off, meninggalkan komputer dan dunia internet, pulang kampung ke Semarang. Jam 5 pagi saya memulai perjalanan panjang nan nikmat itu. Perjalanan besar karena bawa istri dan 5 anak beserta koper-koper baju untuk 2 minggu 🙂 Jalanan pantura masih lancar banget, paling di kanan kiri Escudo hitamku tersayang hanya ada rombongan pemudik berspeda motor. Siang jam 1 lebih dikit sudah nyampe kota Semarang tersayang, muter-muter simpang lima sedikit, nunjukkin ke anak-anak kota Semarang, terus istirahat di rumah mertua di Kinibalu.

11 Oktober, pagi-pagi sudah harus siapkan kendaraan lagi untuk keliling jawa timur dan tengah. Kali ini rombongan lebih besar lagi karena ada 3 mobil iring-iringan 🙂 Tujuan utamanya adalah ke Madiun, tempat kelahiran saya. Di sana saya masih punya nenek dan pakdhe yang masih punya komitmen mengelola pertanian di desa Tulungrejo, masuk lewat jalan kecil di Balerejo, Madiun. Seharusnya kalau lebaran jatuh tanggal 12 Oktober, mau sekalian sholat Ied di sana, tapi keluarga memutuskan ikut pemerintah dan berlebaran tanggal 13. Tanggal 12 siang jalan lagi ke arah Jogja, karena masih banyak saudara dari bapak yang tinggal disana. Nggak lupa mampir Gudeg Yu Jum, dan bawa pulang 3 kendil gudeg 😉 Oh ya sebelumnya mampir juga di Solo, pasar Klewer, berburu batik.

Puas ngubek-ngubek Solo dan Jogja, jalan lagi ke arah Magelang, nggak lupa mampir di Muntilan, beli ulekan dan beberapa oleh-oleh kerajinan batu. Setelah itu ngebut ke Semarang supaya nggak terlalu malam nyampe. Jalanan mulai sedikit macet, H-1 memang kejam 🙂 Alhamdulillah jam 10 malam sudah bisa istirahat di rumah dan menikmati malam takbiran di Semarang.

Setelah Idul Fitri, waktunya wisata kuliner di Semarang. Yang pasti jadi “kelangenan” dan wajib makan sewaktu di Semarang adalah bakmi jowo dan cap cay gorengnya bu Tarno. Lokasi di Lamper Tengah (dekat gerbang Mrican), langganan sejak SD, silakan dicoba, ini benar-benar maknyus jempol dua. Setelah itu, tahu gimbal dan es campur depan SMA 1, ini tempat romantis saya dan istri sejak jadul, ini juga dijamin maknyus. Saya sisir juga Pecel Madiun dan juga beberapa warung di area simpang lima. Di sekitar rumah orang tua (Tlogosari), ternyata sekarang juga tumbuh jadi wilayah makan yang rame. Rumah saya di Semarang dekat dengan Jembatan Dua Tlogosari, banyak yang legendaris di sana, es kelapa muda yang terkenal, soto bu ismi yang murah, soto pak No, Gudeg bu Wina, bebek dan burung dara goreng, dsb. Heboh pokoknya!

Oh ya, saya juga sempatkan rekreasi bersama keluarga ke Ngrembel, Goa Kreo, Sam Po Kong (klenteng peninggalan laksamana Cengho), Pantai Marina, Pantai Maron, dsb. Banyak lokasi di Semarang yang bisa jadi tempat rekreasi menarik, sayangnya banyak yang nggak tergarap dengan baik.

lebaran5.gif lebaran4.gif
lebaran1.gif lebaran3.gif

Selain acara jalan-jalan, saya banyak tidur, ngumpulin energi untuk berdjoang lagi. Cuman karena jarang istirahat panjang, jadinya malah badan nggak enak, capek, sempat kena flu dan batuk. Ini mungkin karena efek ketagihan komputer dan Internet kambuh … hehehe. Balik ke Jakarta tanggal 22 Oktober, hampir berhenti di setiap kota jalur pantura, pekalongan, pemalang, brebes, indramayu, dsb ada saja tempat yang menggoda untuk berhenti 🙂 Nggak kerasa meteran kilometer mobil selama dua minggu itu mencapai 1826 km. Weleh panjang juga perjalanan yang ditempuh dalam dua minggu itu, capek tapi puaslah liburan dan pulang mudik lebaran kali ini.

Tak lupa saya ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin”.

Mudah-mudahan kita semua bisa refresh kembali dan tetap jalur perdjoeangan membangun republik tercinta ini.

ttd-small.jpg