Konflik Dunia, Perang dan Gap Sosial 25 Apr2006

Tags

Related Posts

Share This

Konflik Dunia, Perang dan Gap Sosial

timurtengah.jpgKonflik dan perang telah terjadi dimana-mana di seluruh dunia ini. Bumi yang terkotak-kotak menjadi 192 negara dimana lebih dari 6 milyar manusia hidup didalamnya, ternyata penuh dengan konflik. Konflik antar manusia, antar golongan, antar etnis dan antar negara. Steven D. Strauss dalam bukunya menyatakan bahwa dalam setengah abad terakhir, tidak ada dari 192 negara di dunia ini yang tidak pernah terlibat konflik. Setiap negara pernah mengalami konflik baik dalam negeri maupun luar negeri, satu kali atau bahkan lebih.

Konflik politik di Rwanda tahun 1994 telah menyebabkan 1 juta penduduk etnis Tutsi tewas mengenaskan karena dibantai lawan politiknya yang beretnis Hutu. Di belahan bumi yang lain lagi, konflik di Korea juga menyebabkan jutaan orang tewas. Lebih dahsyatnya lagi, konflik ini menyebabkan terbelahnya Korea (yang sama sekali sama dalam bahasa, budaya, geografi dan agrikultur) menjadi dua negara (Korea Utara dan Korea Selatan).

Kalau ditanya negara manakah yang paling banyak terlibat dalam masalah konflik luar negeri setengah abad terakhir ini. Tidak mengejutkan bahwa jawabannya adalah Amerika Serikat. Disamping terlibat dalam 5 konflik dan peperangan penting abad ini, antara lain dalam perang di Korea, Vietnam, Perang Dingin, Irak dan Afganistan. Amerika juga terlibat dalam 3 invasi dan serangan mendadak ke negara lain yaitu ke Laos, Kamboja dan Libya. Kemudian juga terlibat dalam paling tidak 6 operasi keamanan, yaitu ke Dominika, Lebanon, Somalia, Kosovo, dan beberapa negara teluk. Terlibat dalam 2 misi penyelamatan di Iran dan Mayagues, dan juga misi pengusiran pemerintah nasional di Panama.

Negara berikut setelah Amerika, yang banyak terlibat dalam masalah konflik antar negara adalah Israel. Setelah perang dunia kedua selesai, paling tidak Israel terlibat dalam 6 peperangan dan konflik. Yaitu perang kemerdekaaan (1948), perang Suez (1956), perang 6 hari (1967), perang Atrisi (1967-1970), perang Yom Kippur (1973), perang Lebanon (1982), dan yang sampai belum terpecahkan adalah konflik dengan palestina (1987-sekarang).

Menyusul kemudian Mesir, Iraq dan negara-negara lain dalam wilayah Timur Tengah. Bagaimanapun juga, saat ini tidak ada konflik dunia yang sedahsyat konflik di Timur Tengah [Strauss-2002]. Baik dari perspektif akar permasalahan yang menyebabkan konflik, tingkat kesulitan dalam mempertemukan pemimpinnya, dan juga dari perspektif bagaimana metode yang tepat untuk memecahkan masalah. Konflik di Timur Tengah juga merupakan konflik yang paling berdarah, paling berbahaya dan paling banyak dipublikasikan oleh media massa. Campur tangan Amerika dalam konflik di Timur Tengah semakin memperparah keadaan.

PENYEBAB KONFLIK

Ada beberapa faktor yang bisa kita analisa sebagai penyebab atau paling tidak bisa pemicu terjadinya suatu konflik.

Faktor pertama adalah karena ambisi untuk menunjukkan eksistensi dan pamer kekuatan (power showing). Kalau Woodrow Wilson mengatakan pada saat perang dunia pertama bahwa perang yang dia lakukan ini bertujuan untuk mengakhiri semua peperangan (war to end all wars). Dan George W. Bush mengatakan bahwa perang melawan terorisme adalah perang untuk menghapuskan kejahatan (wipe out evil). Pada hakekatnya semua ingin mengakselerasi eksistensi diri dan identitas politik (identity politics) di mata dunia internasional. Kemudian mengklaim bahwa tindakan (negara) mereka sendirilah yang benar. Faktor ini juga termasuk faktor penting penyebab konflik politik (revolusi, kudeta) ataupun fenomena ethnic cleansing dan genocide yang beberapa dekade ini cukup marak di dunia (Serbia-Bosnia, Serbia-Kosovo, Tutsi-Hutu di Rwanda).

Kedua, konflik dan perang adalah bisnis model baru yang sangat menguntungkan. Cukup mencengangkan bahwa Amerika sebagai negara yang paling banyak terlibat konflik dan perang, ternyata juga sebagai penjual senjata paling banyak di dunia. Iraq sebagai musuh tetap Amerika dalam beberapa dekade ini mencatatkan diri sebagai negara pengimpor senjata terbesar di dunia. Tak bisa kita pungkiri bahwa perang adalah merupakan bisnis besar.

Negara Pengekspor Senjata
(milyar dolar/tahun)

Negara Pengimpor Senjata
(milyar dolar/tahun)

Amerika Serikat ($18) Irak dan Iran  ($6)
Rusia ($4.5) Arab Saudi ($3)
Perancis ($4) India ($3)
Kuba ($2) Vietnam ($2)
Cina ($2) Libya ($2)

Selain keuntungan dari penjualan senjata, kekayaan alam bisa jadi daya tarik lain. Bukan suatu rahasia lagi bahwa Amerika juga mengagendakan eksplorasi minyak dalam setiap keterlibatan konflik dengan negara lain, khususnya negara dalam wilayah Timur Tengah. Demikian juga dengan Australia yang “ada maunya” dibalik dukungan terhadap kemerdekaan Timor Timur. Kini pemerintah baru Timor Timur pusing dengan tuntutan Australia perihal penentuan ulang batasan maritim dalam Timor Gap Treaty 1989, dan juga pembagian royalti masalah minyak di celah timor.

Faktor ketiga adalah faktor kemiskinan, ketidakadilan dan gap sosial yang terlalu besar. Anthony Georgieff berargumentasi bahwa pada era diatas tahun 1990, lebih dari 80% konflik dan peperangan di dunia disebabkan karena faktor kemiskinan dan krisis perekonomian [Georgieff-2000]. Negara miskin lebih besar memiliki peluang konflik dibandingkan dengan negara kaya (dengan perbandingan 3 banding 1). Sekjen PBB Kofi Annan menambahkan dalam salah satu pidatonya bahwa selain faktor kemiskinan, adanya ketidakadilan dan gap sosial-ekonomi yang cukup besar termasuk penyebab konflik yang penting.

Saya cukup terkejut dengan tulisan seorang jurnalis New York Times bernama Barbara Crossette sekitar 4 tahun yang lalu [Crossette-1998]. Dia menyatakan dalam laporan tentang human development bahwa 20 persen orang terkaya di dunia mengkonsumsi 86 persen semua barang-barang dan servis yang ada di dunia. Sementara kebalikannya 20 persen orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi 1,3 persennya. Dan lebih dahsyatnya lagi ditambahkan bahwa, 20 persen orang terkaya di dunia tersebut juga menkonsumsi 45 persen dari seluruh daging dan ikan, 85 persen dari seluruh energi, 84 persen dari seluruh kertas, menguasai 74 persen dari seluruh jaringan telepon dan 87 persen seluruh kendaraan yang ada di dunia.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa tiga orang terkaya dunia memiliki aset yang sekurang-kurangnya jumlah total dari GDP (Gross Domestic Product) 48 negara berkembang. Kemudian Swedia dan Amerika memiliki 681 dan 626 line telepon untuk setiap 1000 orang. Di lain pihak Afghanistan, Kamboja, Republik Kongo hanya memiliki 1 line telepon untuk 1000 orang.

Disamping menjadi masalah serius di Indonesia, ternyata besarnya gap kaya-miskin ini juga merupakan pekerjaan rumah bagi dunia. Kenyataan ini terus terang membuat pertanyaan tentang kapan konflik di dunia ini akan berakhir semakin susah terjawab.

REFERENSI:
[Crossette-1998] Barbara Crosette, Kofi Annan’s Astonishing Facts!, The New York Times, September 27, 1998.
[Georgieff-2000] Anthony Georgieff, World: Swedish Report Emphasizes Role Of Poverty In War, Radio Free Europe, Radio Liberty, 2000.
[Strauss-2002] Steven D. Strauss, World Conflicts, Alpha Books, 2002.

ttd-small.jpg