20 Gaya Posting Blog

Kebetulan hari ahad kemarin (7 Maret 2010) diminta mas Vavai, atas nama teman-teman komunitas blogger bekasi untuk ngisi acara Amprokan Blogger 2010. Yang pasti Amprokan Blogger 2010 ini acara seru sekali. Saya salut dengan kegigihan panitia yang berhasil meng-arrange acara, yang mensinergikan acara komunitas dengan kegiatan pemerintah pusat dan daerah. Mudah-mudahan bisa terus berlanjut ke tahun-tahun berikutnya … Amiiiin 🙂  Saya satu sesi bareng mas Budi Putra dan mas Mabrur, meskipun akhirnya berbeda topik hihihi. Baru konfirmasi harus ngisi tentang apa dengan mas Vavai sekitar pukul 11 malam sebelumnya. Sebenarnya tema besarnya tentang Green Cyber City, hanya jujur, lagi nggak pengen ngomongin yang sulit-sulit 😀 Akhirnya saya bawakan tema diskusi masalah virus “ogah posting” yang melanda para blogger akhir-akhir ini. Virus yang menggerogoti produktifitas para blogger ini di satu sisi memang buruk, tapi di sisi lain sebenarnya ada hikmahnya, karena blogger ingin menjaga kualitas tulisannya. Tapi tentu antibiotiknya harus segera kita siapkan, khususnya bagi blogger yang sudah masuk ke fase kritis dan berslogan “mending ga usah nulis, daripada nulis ga berkualitas” 🙁 Ada banyak gaya nulis posting blog yang bisa kita kombinasikan di posting blog kita, tanpa mengorbankan karakter dan brand blog kita. Sekali lagi harap dipahami, yang saya bahas adalah gaya postingan blog, dan bukan jenis, genre atau topik artikel blog. Gaya postingan tidak akan mengubah karakter dan topik bahasan blog kita, hanya membuat variasi untuk mempertahankan “kekuatan” nulis kita 🙂 Tulisan saya olah dan adaptasi dari presentasi menarik Rohit Bhargava berjudul 25 Basic Styles of Blogging yang dibuat di sekitar tahun 2007. Saya rangkumkan bahwa ada sekitar 20 gaya posting blog yang bisa kita gunakan pada blog kita. Supaya tidak bingung memahami tips yang ada pada tiap gaya, penjelasannya adalah seperti berikut: Maksimal Posting Per Pekan: Jumlah maksimal posting artikel per pekan yang dianjurkan, supaya orang tidak menjadi bosan (1, 2, 3,4,5+) Popularitas: Tingkat  popularitas dari gaya posting blog ini (1-5) Kesulitan: Tingkat kesulitan...

10 Kiat Mengurus Administrasi KPR 06 Feb2010

10 Kiat Mengurus Administrasi KPR

Melanjutkan artikel sebelumnya tentang 10 Kiat Membeli Rumah di Komplek Perumahan, artikel ini akan fokus ke kiat mengurus administrasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ribetnya mengurus KPR di bank sudah bukan menjadi rahasia lagi. Meskipun jujur, saya sendiri merasa bahwa tidak ada proses yang rumit dari administrasi KPR, asalkan kita persiapkan segala sesuatu dengan baik dan rapi. Setelah semua persyaratan kita siapkan dengan baik, waktu yang kita butuhkan dari pengajuan sampai ter-approve hanya sekitar 1-2 minggu saja. Proses konfirmasi dari pihak bank juga tidak sulit, kita hanya perlu menjawab dengan jujur semua kondisi finansial kita, dan dokumen tambahan yang diperlukan cukup di-scan dan dikirimkan via email ke pihak bank. Jadi saya yakin tidak ada yang perlu ditakutkan dari proses pengurusan administrasi KPR. Yang paling menakutkan justru angsuran bulanan setelah KPR kita diterima 🙂 Apabila Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diurus oleh developer perumahan yang kita ambil, setelah uang tanda jadi dan Down Payment (DP) dibayarkan, maka biasanya proses berikutnya adalah pengumpulan persyaratan untuk administrasi KPR Marketing perumahan biasanya akan mengajukan KPR ke dua atau tiga bank sekaligus (paralel). Tujuan utamanya adalah membuat backup bila pengajuan KPR ke suatu bank tidak berhasil, dan juga memberi pilihan penawaran program KPR yang lebih menarik dari beberapa bank. Ingat bahwa developer perumahan juga menginginkan pengajuan KPR kita diterima oleh bank, karena hal itu artinya proses penjualan rumah telah closing 🙂 Persyaratan administrasi KPR berbeda untuk orang dengan status: Karyawan [K], wiraswasta [W] atau profesional [P]. Dokumen yang diperlukan untuk mengurus administrasi KPR adalah seperti di bawah. Saya beri tanda [K], [W] dan [P] untuk menunjukkan syarat pada tiap status. Fotokopi KTP Suami dan Istri [K][W][P] Fotokopi Surat Nikah [K][W][P] Fotokopi Kartu Keluarga [K][W][P] Fotokopi Kartu NPWP [K][W][P] Rekening Koran atau Tabungan Bank (3 Bulan Terakhir) [K][W][P]: Dokumen yang dikeluarkan oleh oleh...

10 Kiat Membeli Rumah di Komplek Perumahan 27 Jan2010

10 Kiat Membeli Rumah di Komplek Perumahan

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga proses pembelian rumah yang menyita energi, biaya dan waktu sekitar 2-3 bulan terakhir ini 🙂 Saya mencatat setiap detail proses yang saya jalani dalam proses pembelian rumah ini. Saya berharap pengalaman ini bisa menjadi suatu tacit knowledge yang bermanfaat untuk rekan-rekan semua dimanapun berada. Karena terlalu banyak hal yang saya catat, saya bagi menjadi dua artikel, yang pertama saya beri judul 10 Kiat Membeli Rumah di Komplek Perumahan, dan yang kedua berjudul 10 Kiat Mengurus Administrasi KPR. Sebenarnya sebelum dua artikel terakhir ini, saya juga membahas proses review rumah, khususnya yang saya bidik di wilayah Cibubur. Mudah-mudahan tiga seri artikel ini bermanfaat untuk rekan-rekan semua yang kebetulan sedang bingung dan ragu untuk membeli rumah, khususnya di komplek perumahan. Lakukan survey secara mendetail tentang perumahan yang akan kita beli. Survey bisa dilakukan baik melalui Internet atau survey lapangan. Buat komparasi, scoring, dan analisa berdasarkan parameter dan spesifikasi rumah yang kita inginkan. Pemilihan rumah sendiri bisa menggunakan beberapa parameter, misalnya seperti di bawah. Atau bisa juga dengan parameter yang lebih lengkap seperti yang saya tulis di artikel berjudul Rumah Ideal di Jabodetabek: Review Wilayah Cibubur. Posisi di dalam atau di luar cluster. Untuk keluarga muda yang masih memiliki anak kecil, pilihan rumah di dalam cluster lebih memudahkan dalam manajemen anak. Di dalam cluster juga relatif lebih aman karena biasanya ada satpam cluster yang menjaga arus keluar masuk mobil dan barang. Kedekatan dengan taman Arah hadap rumah (timur, selatan, barat, utara). Ingat matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat. Sesuaikan apakah kita ingin mendapatkan matahari pagi atau sore, demikian juga dengan matahari dari depan, belakang, samping kanan atau kiri rumah kita. Posisi di hook yang ada kelebihan tanah atau tidak. Ketersediaan sisa tanah dan letak rumah di hook (pinggir) memungkinkan kita dengan mudah merenovasi rumah. Konsekuensinya adalah...

Gap Akademi dan Industri: Masalah dan Pemecahan 23 Dec2009

Gap Akademi dan Industri: Masalah dan Pemecahan

Saya mengangkat kembali masalah gap akademi-industri, sebagai tema pada orasi ilmiah acara wisuda di STMIK Inti, hari ini (23 desember 2009). Materi yang sama saya bawakan sewaktu menjadi keynote speaker di SNASTI 2008 dan orasi ilmiah di acara wisuda STMIK Eresha. Makalah saya revisi, saya perbaiki di sisi redaksional dan saya perkuat bagian referensi. Termasuk tema diskusi penting, yang bisa menjawab pertanyaan mengapa industri software kita terpuruk, meskipun  jumlah pengembang profesional kita mencapai angka diatas 70 ribu orang, menurut hitungan Gartner dan IDC. Gap harus dikurangi, karena tantangan ke depan teknologi informasi semakin besar. Di satu sisi, industri membutuhkan sumber daya manusia yang kuat secara teknis dan tersertifikasi, di sisi lain universitas harus melahirkan lulusan yang kuat secara karakter, mental dan kemampuan analitis. Tren sumber daya manusia ke depan yang arahnya membentuk para versatilist yang memiliki keseimbangan keunggulan defato (kreatifitas) dan dejure (degree, sertifikasi), menambah berat beban para akademisi dalam mendidik para mahasiswanya. Saya mengusulkan empat strategi, yaitu: memperbaiki kurikulum dan proses pendidikan, memperbaiki kualitas penelitian, meng-encourage sivitas akademika untuk menempuh jalan technopreneurship, dan mencoba memasarkan produk penelitian kita dengan bahasa yang mudah ke masyarakat. Untuk mempelajari secara lengkap pemikiran saya, silakan langsung download makalah lengkapnya di bawah. Download artikel lengkap (pdf): romi-industriakademisi-stmikinti-23desember2009 Tetap dalam...

Rumah Ideal di Jabodetabek: Review Wilayah Cibubur 11 Dec2009

Rumah Ideal di Jabodetabek: Review Wilayah Cibubur

Mencari rumah, termasuk hal yang pelik dalam hidup. Melibatkan semua elemen kehidupan, baik internal maupun eksternal. Memperhatikan masalah kemampuan finansial, lokasi sekolah anak-anak, lokasi tempat ibadah, lokasi pasar dan tempat belanja, lokasi taman bermain dan tempat rekreasi, gaya kehidupan sosial, sampai masalah kondisi air/listrik/gas, dsb. Melanjutkan tulisan saya dua tahun lalu ( halah, lama amir om! 🙂 ) yang berjudul Lokasi Rumah Ideal di Jabodetabek, saya mencoba membagi hasil review yang saya lakukan sejak november 2009. Lha kenapa kok tiba-tiba jadi survey rumah lagi om? Kebetulan anak-anak sudah mulai banyak dan gede-gede, butuh kamar baru, butuh space yang agak luas. Merenovasi rumah yang ada di Puri Gading ada keterbatasan waktu, space dan kerepotan harus kontrak rumah selama renovasi. Jadi pindah dan membeli rumah siap huni adalah pilihan terbaik 🙂 ALGORITMA PENILAIAN RUMAH Saya mulai dari bagaimana alur berpikir atau algoritma saya dalam melakukan survey dan penentuan rumah. Menetapkan requirement specification dari rumah yang saya inginkan, yaitu: Posisi rumah dekat dengan tol (TOL) Posisi rumah tidak terlalu jauh dari Jakarta (JAKARTA) Fasilitas perumahan lengkap (sport center, tempat belanja, convenience store, tempat rekreasi) (FASILITAS) Posisi dekat dengan Sekolah dan lebih baik ada sekolah Islam Terpadu (TK/SD IT) (SEKOLAH) Posisi rumah di dalam cluster dan tanpa pagar (tidak di boulevard utama atau di pinggir jalan besar) (CLUSTER) Perumahan asri dan banyak pepohonan (ASRI) Jalan depan rumah lebar minimal 11 m (ROW) Kesiapan huni (HUNI) Isu-isu buruk tentang perumahan tidak banyak (ISU) Harga murah (HARGA) Mencari dan mengumpulkan isu yang muncul tentang perumahan lewat milis dan forum di Internet Menetapkan target perumahan dan memulai survey langsung ke pemasaran perumahan. Isu yang dikumpulkan pada tahap 2 dikonfirmasi ke pemasaran atau penduduk sekitar. Kali ini saya menetapkan review untuk lima kompleks perumahan di Cibubur. Mengkuantifikasi parameter dalam bentuk skor (1-3) dan membuat komparasi dalam bentuk tabel Kembali ke tahap 2-3 apabila informasi dirasa kurang lengkap  IMPLEMENTASI DAN PENGUKURAN Secara...

Science 2.0 dan Paradigma Baru Research Life Cycle

Science 2.0? makhluk apalagi nih? 🙂 Ini adalah tema bahasan yang saya angkat untuk seminar yang diadakan oleh Pusat Penelitian Politik (P2P), Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI) tanggal 10 Desember 2009. Seminar mengambil tema Dilema Antara Hak Kekayaan Intelektual dan Penyebaran Ilmu Pengetahuan. Saya sempatkan menyusun makalah ilmiah secara lengkap untuk memberikan gambaran komprehensif tentang Science 2.0. Makalah lengkap bisa didownload lewat link di bagian akhir tulisan ini. Web 1.0 bergerak menjadi Web 2.0, yang intinya memberi hak pengguna untuk berpartisipasi aktif  (O’Reilly, 2004) (O’Reilly, 2005). Perkembangan Web 2.0 ternyata kemudian memberi pengaruh ke bidang lain selain bidang computing dan Internet. Hal ini ditandai dengan kemunculan berbagai movement di bidang lain yang membawa ruh dan karakteristik Web 2.0. Identity 2.0, Library 2.0, Law 2.0, Media 2.0, Advertising 2.0, Democracy 2.0, Diplomacy 2.0, dan Government 2.0 (Hinchcliffe, 2006) (Wahono, 2008). Dion Hinchcliffe (Hinchcliffe, 2006) dalam analisanya tidak secara eksplisit menyebutkan istilah Science 2.0. Akan tetapi kita bisa melihat suatu fenomena dimana peneliti semakin banyak yang mempublikasikan tulisan ilmiah, berkolaborasi ide penelitian, melakukan webinar dengan menggunakan fasilitas Web 2.0. Dan inilah yang disebut dengan Science 2.0 (Waldrop, 2008, January). Ilustrasi menarik datang dari Barret (Barret, 2008), yang menggambarkan Science 2.0 seperti pada gambar di awal tulisan ini. Konsep utama dan permasalahan ide dari Science 2.0, seperti yang dijelaskan oleh Waldrop (Waldrop, 2008, May) adalah sebagai berikut: Science 2.0 secara umum merefer ke praktek baru para peneliti yang mempublikasikan hasil eksperimen yang relatif belum matang, teori baru, klaim suatu penemuan dan draft makalah ilmiah melalui Web, blog atau jalur protokol lain (Science 2.0, 2007), supaya bisa dikomentari dengan cepat oleh peneliti lain. Hal ini berbeda dengan konsep Science 1.0 yang mengandalkan kegiatan conference untuk mendapatkan respon dan komentar peneliti lain. Pendukung Science 2.0 sepakat bahwa praktek keterbukaan akses (open...

Defragmentasi Otak 10 Aug2009

Defragmentasi Otak

Mas, saya mahasiswa jurusan teknik informatika semester 4, saya kok merasa otak saya bebal banget, nggak bisa nangkep mata kuliah dengan sempurna. Gimana caranya supaya saya bisa cerdas dan pinter? (Ahmad, Depok) Hmm, supaya pinter ya belajar mas hehehe. Kalau dosen jawab seperti itu  pasti disebut basbang alias basi banget 🙂 Diskusi masalah kecerdasan manusia, tentu tidak bisa tanpa menyinggung masalah otak manusia, karena disini awal segala kisruhnya. Kapasitas otak manusia sangat besar, bahkan ada yang menyebut tidak terbatas. Hanya sayangnya orang biasanya hanya menggunakan 1% dari otaknya, sedangkan orang jenius berhasil menggunakan 4-5% otaknya.  Lha kok bisa? Dan bagaimana supaya kita juga bisa jadi cerdas? Ikuti terus tulisan ini. Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer. Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi  tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer.  Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya. Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte. Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya. Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka...

Penjurian Final Imagine Cup Indonesia 2009

Senin 11 Mei 2009, alhamdulillah mendapat kesempatan bareng Mark Glikson (GM, D&PE Lead Asia Pacific) dan Tony Seno Hartono (National Technology Officer Microsoft Indonesia) untuk menjadi juri di final Imagine Cup Indonesia 2009. Thanks to sohib saya om Norman Sasono (jabatan loe apaan sih om?)  dan om Julius Fenata (Academic Developer Evangelist) yang sudah mengundang saya untuk ikutan duduk di bangku Juri ;). Mohon maaf terlambat sampai ke Shangri-La H0tel, karena ada kecelakan di tol JORR yg menahan laju innova hitamku lebih dari satu jam 🙁 Kompetisi dan lomba software selalu menjadi acara meriah. Sejak kepulangan saya ke tanah air  pada tahun 2004 sampai tahun 2009, puluhan lomba dan kompetisi saya ikuti. Sayangnya saya jarang mendapat kesempatan menjadi peserta, selalu diminta untuk menjadi juri. Hmm nggak ngerti ini kutukan atau nikmat 🙂 Padahal jujur saja, pingin lebih banyak portfolio menjadi pemenang daripada juri hihihi. Sebagai informasi, Imagine Cup adalah ajang kompetisi teknologi untuk mahasiswa. yang diadakan oleh Microsoft. Imagine Cup diadakan secara rutin setiap tahun, dan saat di tahun 2009 ini memasuki tahun ke 7. Tema Imagine Cup untuk tahun 2009 ini adalah Imagine a world where technology helps solve the world’s toughest problems. Tema Imagine Cup mengambil pemikiran dari 8 Millenium Development Goals dari United Nations (PBB), yaitu: Mengentaskan Kemiskinan dan Kelaparan Pendidikan Dasar yang Merata Emansipasi Wanita Mengurangi Kematian Anak Meningkatkan Kesehatan Ibu Hamil Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit-Penyakit Lainnya Memelihara Kelestarian dan Keberlangsungan Lingkungan Mengembangkan Kerja Sama Global Okeh, langsung saja, ada tiga tim yang berhasil masuk ke final Imagine Cup Indonesia 2009, yaitu: Kabayan (IT Telkom) dengan project Demeter (Food Monitoring and Control System) Pusaka (ITB) dengan project  Galaxy (RFID based Integrated Donation System) Big Bang (ITB) dengan project MOSES (Malaria Observation System and Endemic Surveillance) Seluruh tim dengan projectnya...

Wajibnya Skill Coding Bagi Mahasiswa Computing

Mas Romi, saya mahasiswa jurusan teknik informatika, semester akhir dengan peminatan software engineering. Karena saya lemah di coding, kira-kira nanti kesulitan ga ya untuk mengerjakan tugas akhir? (Taufik, Universitas Swasta di Jakarta) Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, segera lakukan taubat dan perbanyak  istighfar 🙂 Jurusan teknik informatika semester akhir, peminatan software engineering pula, ga bisa coding? Selama ini kemana aja om? 🙁 Lemahnya skill coding mahasiswa di Indonesia adalah penyakit gawat, menular, mematikan dan secepatnya harus diberantas tuntas :). Mungkinkah ini juga yang membuat produksi software kita secara kuantitas dan kualitas dibawah negara tetangga kita? Ingat bahwa menurut laporan IDC dan Gartner, jumlah developer professional Indonesia mencapai 71.600 orang di tahun 2008. Jumlah developer kita tiga kalinya malaysia dan empat kalinya singapore loh 🙁 Wahai para mahasiswaku, andai kau tahu, jurusan computing di Indonesia mengambil acuan kurikulum IEEE Computing Curricula 2005. Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer alias APTIKOM, yang menjadi wadah universitas yang memiliki jurusan atau prodi computing, membuat kurikulum inti yang mengacu ke IEEE Computing Curricula 2005, meskipun di beberapa sisi tidak konsisten 🙂 Tidak konsisten karena Information System (Sistem Informasi)  dan Computer Engineering (Teknik/Sistem Komputer) saja yang direkomendasikan jadi jurusan atau prodi. Computer Science (Ilmu Komputer), Information Technology (Teknologi Informasi) dan Software Engineering (Rekayasa Perangkat Lunak) disuruh tumplek beg di satu wadah namanya Teknik Informatika 🙁 Padahal sebenarnya pembobotan materi yang dibidik berbeda-beda. Silakan cek dari gambar di bawah, target kemampuan yang diharapkan dari lulusan masing-masing cabang ilmu computing menurut IEEE Computing Curricula 2005. Secara IEEE Computing Curricula 2005, mahasiswa prodi/jurusan/fakultas/ dibawah disiplin ilmu computing, boleh tidak mengerti masalah sistem informasi atau teoritika database (mahasiswa CE misalnya), boleh juga nggak ngerti arsitektur komputer (mahasiswa IS dan IT  misalnya). Tapi seluruh mahasiswa wajib hukumnya, dan ini wajib ain sifatnya 🙂 punya...

Teknik Memahami Paper Ilmiah

Saya sedang dapat tugas dari dosen untuk membaca banyak paper ilmiah. Katanya penting untuk membangun landasan teori dari penelitian yang saya lakukan. Tapi pusing setengah mati mas, ga paham-paham 🙁 Mas Romi bisa ajari saya nggak, teknik membaca paper ilmiah dengan baik, supaya cepat paham? Thanks. (Anto, ITS Surabaya) Musim mengerjakan tugas akhir, artinya musim membaca makalah alias paper ilmiah alias scientific paper. Banyak yang beranggapan bahwa konsentrasi membaca paper ilmiah adalah pada aspek teknis (technical aspect). Padahal ngotot fokus ke aspek teknis dari paper ilmiah akan membuat kita pusing, puyeng, mual, ngantuk, dan ga ngerti juntrungnya 🙂 . Meskipun ada juga mahasiswa yang nekat memahami satu paper ilmiah sampai perlu waktu berbulan-bulan. Padahal sebenarnya kekuatan paper ilmiah bukan hanya dilihat dari aspek teknis. Nah lho, terus di bagian mana sebaiknya kita konsentrasi membaca sebuah paper ilmiah? Pada hakekatnya ada empat hal utama yang perlu kita pahami dari sebuah paper ilmiah, khususnya paper di bidang computing (computer science). Empat hal utama tersebut adalah masalah penelitian, kontribusi (solusi), substansi dan kesimpulan. Kita tidak perlu langsung masuk ke substansi alias aspek teknis yang bikin pening kepala.  Bahkan ketika kita menemukan bahwa masalah penelitian tidak berkualitas, maka kita tidak perlu melanjutkan lagi membaca paper tersebut. Bahasa mahasiswa kasmaran-nya, lupakan aku kembali padanya 🙂 Kembali ke masalah memahami paper, empat hal utama tersebut kalau dijabarkan adalah seperti di bawah. Penjabaran saya rangkumkan dari tulisan menarik dari Philip W. L. Fong, Amanda Stent, dan William G. Griswold (paper lengkap ada di referensi). Pahami Masalah Penelitian:  Pahami, sebenarnya masalah penelitian apa yang sedang dibidik oleh paper tersebut.  Pertanyaan lain untuk mengecek masalah penelitian di paper adalah seperti tertulis di bawah. Apa motivasi  mengerjakan penelitian itu? Apakah ada hal penting (kritis) dalam bidang yang digarap yang ingin diselesaikan oleh paper tersebut?...

Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (3): Menetapkan Tema dan Judul...

Mas Romi, saya mahasiswa jurusan ilmu komputer semester akhir, dan sudah harus masuk ke pembuatan tugas akhir. Bagaimana menguji tema dan judul penelitian yang saya buat, bahwa itu sudah ada di jalur yang benar. Mohon pencerahannya. Terima kasih (Budi, Universitas Indonesia) Melanjutkan penjelasan tentang penelitian untuk tugas akhir yang sudah saya bahas sebelumnya di sini dan di sana, kali ini saya mencoba membahas teknik mudah menguji dan menetapkan tema penelitian. Sebelumnya perlu saya ingatkan kembali, bahwa masalah penelitian yang kita ambil akan menentukan kualitas penelitian secara keseluruhan. Masalah penelitian harus objective (tidak boleh subjective), dan harus dibuktikan secara logis dan valid bahwa itu benar-benar  masalah. Ingat bahwa masalah yang kita menyebutkan dengan, “menurut saya”, “menurut pengalaman saya”, “menurut tetangga saya”, “menurut teman saya”, dsb adalah subyektif. OBJEKTIFIKASI MASALAH Nah proses untuk membuktikan bahwa masalah kita logis dan valid biasa kita sebut dengan Objektifikasi Masalah. Proses Objektifikasi Masalah adalah proses melandasi masalah dari dua sudut pandang: Studi Literatur. Masalah yang kita ambil tertulis secara explicit atau implicit di literatur ilmiah (journal, prosiding, dsb). Langkah ini sering saya sebut bahwa masalah kita itu globally accepted as a problem. Pengamatan Lapangan. Sering juga disebut penelitian pendahuluan, yaitu menyebar kuesioner atau wawancara ke target penelitian. Tujuannya bahwa masalah yang tadinya bersifat subyektif (saya rasa, menurut saya, menurut kawan saya), menjadi masalah yg obyektif dan diakui oleh banyak orang. Langkah ini sering saya sebut supaya masalah kita locally accepted as a problem. Letakkan keduanya di Bab Pendahuluan, pada Sub Bab Latar Belakang Masalah, maka itu lebih dari cukup untuk membuat masalah penelitian kita logis, valid, kuat dan tidak ngoyoworo alias dibuat-buat 🙂 SYARAT JUDUL TUGAS AKHIR YANG BAIK Setelah kita berhasil menetapkan masalah, sekarang kita masuk ke tema dan judul penelitian. Judul penelitian yang baik biasanya memuat 4 hal:...