Mengkritisi Budaya Plagiat Kita
Berawal dari komentar mas Ardiansyah di artikel yang saya posting dua tahun lalu (24 Pebruari 2006), berjudul Arah SDM TI: Dari Spesialis ke Versatilis. Sahabat saya ini menemukan artikel yang mirip dengan tulisan saya di majalah BISKOM Edisi April 2008 halaman 63, yang ditulis oleh Tata Sutabri S.Kom, MM, dengan judul Perubahan Arah SDM TI Tahun 2010. Sebenarnya saya tidak terlalu menganggap penting masalah seperti ini karena sudah biasa artikel-artikel saya di-plagiat alias di-copy paste oleh adik-adik mahasiswa untuk tugas mandiri atau bahkan tugas akhir
. Nah kebetulan hari minggu ini ada janji nganter Irsyad dan Hasan ke toko buku. Lewat counter majalah, kok jadi teringat lagi komentar om Ardi. Saya cari majalah BISKOM Edisi April 2008 itu, ehm … ketemu! Jujur saja, kaget dan trenyuh, karena kali ini yang meng-copy paste tulisan saya bukan mahasiswa, tapi pendidik alias dosen yang memiliki jabatan cukup tinggi sebagai Deputy Chairman of STMIK INTI Indonesia. Lebih trenyuh lagi, kenapa yang di-plagiat artikel itu? Itu bukan termasuk artikel terbaik yang pernah saya tulis lho … hehehe
Delay penerbangan pesawat adalah menyebalkan, harus nunggu lebih dari dua jam adalah
Mulai 15 Agustus 2007 lalu saya tidak bisa lagi melakukan koneksi Internet menggunakan nomor Fren (
Papan petunjuk sesuai namanya adalah untuk memberi petunjuk dan informasi kepada orang lain sehingga tidak salah dalam berjalan atau bergerak. Sayangnya di Indonesia ini, banyak papan petunjuk atau papan informasi yang tidak memberi petunjuk. Kebetulan 1 September 2006 kemarin, saya terbang ke Banjarmasin karena diundang teman-teman STMIK Indonesia untuk mengisi seminar tentang Opensource di sana. Setelah check-in di Bandara Soekarno Hatta, dan seperti biasa nyari buku untuk di baca-baca 





















































































