RomiSatriaWahono.Net

e-Learning | Software Engineering | Networking | Internet Marketing | Opensource | Knowledge Management
January 24th, 2008

Memilih Sistem e-Learning Berbasis Open Source

by Romi Satria Wahono

lms.gifSetelah berpusing-pusing ria dengan definisi dan terminologi e-Learning, kali ini kita akan membahas komponen e-Learning terutama berhubungan dengan pengembangan sistem Learning Management System (LMS). Sering disebut LMS ini disebut dengan dengan platform e-Learning atau Learning Content Management System (LCMS). Intinya LMS adalah aplikasi yang mengotomasi dan mem-virtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik. Memilih LMS jujur saja gampang-gampang susah, karena banyak faktor yang harus kita perhatikan. Kita bahas yuk gimana teknik memilih LMS yang baik, tentunya yang berbasis open source :)

LMS secara umum memiliki fitur-fitur standard pembelajaran elektronik antara lain:

  1. Fitur Kelengkapan Belajar Mengajar: Daftar Mata Kuliah dan Kategorinya, Silabus Mata Kuliah, Materi Kuliah (Berbasis Text atau Multimedia), Daftar Referensi atau Bahan Bacaan
  2. Fitur Diskusi dan Komunikasi: Forum Diskusi atau Mailing List, Instant Messenger untuk Komunikasi Realtime, Papan Pengumuman, Porfil dan Kontak Instruktur, File and Directory Sharing
  3. Fitur Ujian dan Penugasan: Ujian Online (Exam), Tugas Mandiri (Assignment), Rapor dan Penilaian

LMS PROPRIETARY DAN OPEN SOURCE

Ok lha terus LMS ini dapatnya dari mana? Instalasinya seperti apa? Dan apakah gratis atau berbayar?

Sabar ;) Seperti juga aplikasi lainnya, LMS ada yang bersifat proprietary software dan ada yang open source. Yang proprietary diantaranya adalah seperti di bawah. Meskipun saya yakin teman-teman sekalian nggak nafsu untuk gunakan :)

Sedangkan LMS yang open source diantaranya adalah:

PILIH LMS YANG MANA?

Ok banyak banget daftar aplikasi LMS-nya ;) Harus pilih yang mana nih? Pada hakekatnya pemilihan LMS disesuaikan dengan kebutuhan dan business process yang ada di sekolah dan universitas masing-masing. Yang fiturnya terlalu sederhana mungkin nggak pas untuk sekolah dan universitas yang ingin menerapkan e-Learning secara penuh. Di lain pihak LMS yang kompleks dan fiturnya banyak belum tentu sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Beberapa sekolah dan universitas bahkan ada yang tercukupi hanya dengan menggunakan CMS blog semacam wordpress ;) Sekali lagi jangan mengejar teknologi, kejarlah solusi untuk memecahkan masalah yang ada.

Menarik mempelajari hasil penelitian dari Sabine Graf dan Beate List [Graf, 2005] yang dibiayai oleh European Social Fund (ESF) tentang evaluasi dan komparasi LMS berbasis open source. Graf menggunakan satu metode evaluasi produk software bernama QWS (Qualitative Weight and Sum). QWS menghitung bobot (weight) menggunakan enam simbol kualitatif berdasarkan tingkat kepentingannya (importance level). Simbol-simbol kalau diurutkan dari yang paling penting: E (Essential), * (Extremely Valuable), # (Very Valuable), + (Valuable), | (Marginally Valuable), 0 (Not Valuable). QWS memungkinkan kita menetapkan maximum value sendiri, jadi tidak harus “E (Essential)” yang paling tinggi, bisa juga “# (Very Valuable)” misalnya. Sistem pengukuran kualitas software seperti Graf ini adalah berdasarkan “Product” dan bukan “Process“. Oh ya, saya juga pernah membahas masalah pengukuran kualitas software secara lengkap di artikel berjudul “Teknik Pengukuran Kualitas Perangkat Lunak“ 

Bagian apa saja yang dievaluasi oleh Graf? Ada 8 kategori yang dievaluasi yaitu: Communication Tools, Learning Objects, Management of User Data, Usability, Adaptation, Tehnical Aspect, Administration dan Course Management. Masing-masing kategori memiliki subkategori, misalnya di Communication Tools akan dilihat fitur Forum, Char, Mail/Message, Announcements, Conferences, Collaboration, dan Synchronous/Asynchronous Tools. Subkategori lain bisa dilihat dari gambar di bawah.

Ok bagaimana hasilnya? Lengkapnya di gambar dibawah (klik untuk memperbesar). Secara umum Moodle boleh dikatakan merajai kompetisi ini, unggul terutama di kategori Communication Tools, Learning Objects, Management of User Data, Usability, dan Adaptation. ILIAS dan Dokeos di urutan kedua dan ketiga, sedangkan urutan keempat adalah Atutor, LON-CAPA, Spaghettilearning dan Open USS. Sakai dan dotLRN ada di posisi terakhir.

komparasilms-besar.gif
Komparasi dan Evaluasi LMS Open Source (Source: [Graf, 2005])

Harus diakui bahwa Moodle termasuk yang terbaik secara kelengkapan fitur dibandingkan dengan software LMS lain. Tercatat lebih dari tiga puluh ribu institusi pendidikan menggunakan Moodle sebagai engine dasar LMS mereka. Termasuk sebagian besar Sekolah dan Universitas di Indonesia menggunakan Moodle. Salah satu yang menarik di Moodle adalah proses customization yang relatif tidak merepotkan, bahkan meskipun kita tidak memahami skill pemrograman dengan baik. Template dan theme yang disediakan Moodle juga banyak, dan mendukung 40 bahasa termasuk bahasa Indonesia. Fitur “Lesson” Moodle juga menarik dan tidak ada di LMS lain. Fitur “Lesson” ini memungkinkan mengarahkan siswa dan peserta e-Learning diarahkan secara otomatis ke halaman lain sesuai dengan jawaban dari pertanyaan di suatu halaman. Salah satu kendala Moodle adalah penuhnya fitur yang diembed ke Moodle membuat time executionnya jadi tinggi, alias sangat berat dijalankan :) Kendala kecil lainnya misalnya error blank screen pada saat instalasi seperti yang pernah saya tulis di artikel ini.

Untuk keperluan e-Learning yang high traffic dan tidak memerlukan fitur e-Learning yang kompleks, saya merekomendasikan LMS lain seperti ILIAS, Dokeos atau Atutor. Saya menggunakan Atutor untuk e-Learning Braintutor dan terbukti handal mengelola puluhan ribu user dengan tingkat akses yang sangat tinggi. Atutor juga menarik diterapkan ke e-Learning perusahaan yang lebih mementingkan efisiensi pengaksesan LMS, user-friendly dan pemahaman terhadap bahan ajar daripada fitur chat, forum, tracking pengguna, dsb. Atutor jg termasuk pioneer dalam mengadopsi berbagai standard e-Learning. Disamping mengadopsi standard W3C WCAG, secara pemaketan konten juga memenuhi standard IMS/SCORM Content Packaging Specifications. Sebagai informasi, saat ini Moodle juga sudah mengadopsi standard SCORM di enginenya.

Bagaimanapun juga pilihan akhir ada di kita, pertimbangkan kebutuhan dan kultur sekolah dan universitas kita, sebelum memutuskan LMS mana yang mau dipakai. Ujicoba dengan berbagai LMS menarik dilakukan untuk melihat mana yang menurut kita pas. Tidak semua e-Learning yang saya implementasikan untuk berbagai sekolah, universitas dan perusahaan menggunakan engine Moodle, tapi kadang juga Atutor, ILIAS, Dokeos dan bahkan dotLRN.

STANDARISASI LMS

Dengan semakin banyaknya vendor mengembangkan LMS beserta kontennya, timbul suatu kebutuhan untuk menyusun standard sehingga meningkatkan interoperabilitas dan kerjasama antar vendor. Perjalanan pembuatan standard dalam eLearning sebenarnya sudah dimulai sejak era tahun 1988, dan mulai terimplementasikan dengan baik di era tahun 2000 keatas. Beberapa organisasi dan konsorsium yang mengeluarkan standard dalam dunia eLearning adalah:

Salah satu standard yang diterima banyak pihak adalah yang dikeluarkan ADL, yaitu Shareable Content Object Reference Model (SCORM). Spesifikasi SCORM mengkombinasikan elemen-elemen dari spesifikasi standard yang dikeluarkan oleh IEEE, AICC dan IMS. SCORM memungkinkan pengembang dan penyedia konten eLearning lebih konsisten dan mudah dalam implementasi karena sifat SCORM yang reusable. Standard SCORM berkembang dari versi SCORM 1.0, SCORM 1.1, SCORM 1.2, SCORM 2004. Saat ini sudah banyak Learning Management System (LMS) yang mendukung SCORM, termasuk didalamnya adalah aTutor dan Moodle untuk yang opensource, dan intraLearn untuk produk komersial. Dengan SCORM memungkinkan kita melakukan import dan export konten (bahan ajar) yang sudah kita buat di sebuah LMS ke LMS lain dengan mudah.

REFERENSI 

  1. Sabine Graf and Beate List, An Evaluation of Open Source E-Learning Platforms Stressing Adaptation Issues, 2005

ttd-small.jpg

32 Responses to “Memilih Sistem e-Learning Berbasis Open Source”

  1. Wah panduan Yang luamayan lengkap, Keren :)

  2. Lgho kok nggak muncul commentnya :)

  3. #Arrohwany: moderasi mas untuk komentator baru, setelah ini diapprove langsung bisa masuk kok

  4. Thanks infonya, Pak!

    *bergegas instal Moodle di hosting*

  5. Terimakasih infonya Mas, sangat berguna.

    Saya udah coba juga membundle moodle dan atutor ke dalam CD, ternyata dapat sebagai media belajar walaupun tidak ada internet atau LAN.
    Teknik bundlingnya saya dapat dari artikel mas Romi tentang Bundling.., Sekali lagi terimakasih banyak.

    Mas, tolong dibahas juga mengenai teknik membuat content LMS yang menarik dan freeware yang dapat untuk membuat content yang menarik untuk LMS. Soalnya LMS saya banyaknya kontent yang berupa file text aja, jadi kurang menarik.

  6. Ggal comment terus :P

  7. #Pak Romi: Ok coba analisa permasalahan di kampusnya apa. Intinya MENGAPA kita harus bangun e-Learning itu yang faktor signifikan sebelum bikin TA

    Sulit juga sih tetapi kebanyakan dari kami yang mengambil dari program D2 TI ke program Politeknik D3 sebagian besar sudah bekerja jadi kuliah untuk D3 untuk regular di lakukan pada malam hari dari ba`da magrib sampai setengah sembilan sedangkan yang tidak bisa perkuliahan regular bisa di lakukan pada hari sabtu minggu tetapi kebanyakan dari kami banyak yang tertinggal materi mata perkuliahan karena faktor waktu kerja dan lokasi kalau saya sih peduli dengan mata kuliah karena saya bayar kuliah dengan hasil kerja saya ga tau kalau teman-teman saya pemikirannya :mrgreen:

    Intinya kebanyakan dari kami cuma sekedar datang ke kampus ketemu sama temen kampus, ngobrol ngomongin unek-uneknya selama kerja curhat masalah pekerjaan gitu ;) trus belajar mata kuliah yang ga tau di pelajari karena udah cape abis pulang kerja di suruh belajar, trus pulang begitu saja.

    Jadi intinya setelah kuliah nanti saya ingin jadi manusia yang berguna seperti Pak Romi ;) ilmu yang saya dapet di kuliah bisa saya terapkan jadi ga hanya membawa gelar, karena image di Indonesia pangkat tuh di hargai untuk menunjang karir :(

    Emang susah kalau fasilitas pendidikan tidak di dukung oleh pemerintah misalnya internet yang masih di kenakan biaya yang relatif masih mahal :(

    Padahal itu salah satu faktor pendukung e-learning wong orang pengen tau dunia informasi seperti apa qo masih di sendat-sendat :(

    maap Pak pemikirannya agak kritis kalau ga begini saya ga bakalan dewasa

    Kira-kira bisa di jadikan rujukan untuk TA saya mumpung masih ada waktu 8 bulan lagi ;)

    Terima Kasih Pak

    -Bayu-

  8. #Zulharman: Mudah-mudahan nanti semua komponen e-Learning bisa saya jelaskan di sini

    #Arrohwany: Ada comment lain selain yang sudah muncul? Sebab di akismet nggak ada tuh :)

    #Bayu: Ok great, kayaknya itu bisa jadi masalah penelitian :)

  9. Sudah pernah kembangkan dengan moodle.. lagi-lagi masalah pada knowledge sharing (pengajar malas isi content)..sebenarnya kalau buat e-learning opensource waktu pilih hosting yang dilengkapi fantastico cpanel dah ada moodle dkk. tinggal lheb (eh .. klik) instal langsung jadi..
    numpang tanya pak : :)
    1.terus kalau topik penelilitian elearning yang menarik akhir-akhir ini apa ya pak ?
    2.login braintutornya gratis ya pak?

  10. Bener nih Pak
    Oyeeeeeeeeeee…… :mrgreen:

    Kira-kira mulainya dari mana yah Pak ;) ~_~!

    Sebelum Pak Romi membuat e-learning, hal-hal apa sih yang pertama kali di lakukan padahal permasalahnya sudah di temukan. Apakah harus mempelajari Kurikulum semua mata kuliah dari setiap Jurusan yang ada di kampus. kira-kira persiapannya seperti apa yah ?

    Menurut data penelitian yang dipublished di berbagai jurnal, banyak implementasi eLearning gagal karena masalah requirement (kebutuhan) yang tidak sesuai dan juga human factor (beratnya perubahan kultur kerja).

    Makin Puyeng ~_~!

    Mohon Di bimbing Pak Dosen kalau perlu saya datang ke rumah Bapak deh mumpung saya

  11. Tinggal Di Bekasi

    qo ga keluar yah Bekasinya ~_~!

    Comment ini di hapus saja

    Terima Kasih

    -Bayu-

  12. Dalam dunia e-learning istilah yang paling saya ngga ngerti tuh istilah SCORM. pusiiinggg…

  13. #Bambang: Padahal SCORM itu cuman berbicara masalah formating content … hehehe. Kayak header email seperti itu. Hanya ini untuk e-Learning content.

  14. setuju dengan zeitgeist, sering kali kita dah pusing-pusing nyiapin LMS, tapi pengajar malah males mo ngisi contentnya.
    Gimana neh pak romi solusinya :)

    Selamat berdjoeang dan tetap semangat

  15. #Cakbud: hehehe ya ini yang saya sebut masalahnya bukan di teknologi, tapi di manusianya :)

  16. great topic,
    saya juga telah mengimplementasikan elearning untuk perusahaan saya. Dan ternyata mendapat sambutan positif dari pihak manajemen. Apalagi dengan LMS yang bersifat opensource menjadi sumber daya yang murah tapi bisa bermanfaat buat perusahaan.

  17. wah saya baru tau, ternyata ada juga ya cms untuk e-learning. hmm, discovering dulu ahhh..
    terima kasih pak romi atas artikelnya..

  18. pak Romi, saya butuh bantuan tentang Moodle, ada nggak ya use case diagram moodle? dimana saya bisa cari UML diagram buat moodle? atau gimana caranya buat UML dari kode php…pake tool apa?…terima kasih…

  19. […] Memilih Sistem e-Learning Berbasis Open Source […]

  20. assalamu alaikum wr.wb.

    bener pak…
    ternyata hanya pake wordpress ato blogger aja sudah cukup.
    di sekolah kita lagi demam buat blog, pak…
    mulanya siswa buat blog dan friendsteran. eee… guru-guru juga mulai tertarik buat blog. yg bingung kita di TIM IT, mau diajarkan buat blog sendiri-sendiri ato disatukan dlm satu blog / web. Lha kalo guru-guru buat sendiri-sendiri, trus kita juga mesti buat network antar blog…
    kesannya nggak ada integrasi sistem…

    tapi ada sisi positifnya pak…
    guru-guru lebih familier pake’ blog, dibanding pake’ yg sdh terintegrasi. guru bertanggung-jawab atas blognya sendiri.
    dan yang terpenting mulai ada minat menggunakan pembelajaran berbasis ITC…

    maturnuwun
    wassalam.

  21. […] Materi saya gabungan dari beberapa artikel yang sudah saya tulis di sini dan di sana. Saya mengisi bareng mas Tosa dan pak Rusmanto sebenarnya. Hanya pak Rusmanto sepertinya ada acara mendadak di Surabaya. Mas Tosa memberikan materi tentang teknik membangun eLearning dengan opensource (Moodle). Diskusi dan pertanyaan kebanyakan di seputar masalah keengganan pengajar (guru, dosen) untuk sharing materi di eLearning system yang sudah dibangun, masalah eLearning yang belum ada peraturan dari pemerintah, atau sekitar bagaimana teknik meningkatkan motivasi pengguna supaya mau menggunakan eLearning. […]

  22. asep sufyan Says:
    April 14th, 2008 at 16:40

    Assalamualaikum
    Salam kenal..

    Mas, contoh dari SCORM seperti apa? berbentuk file ya? ada contohnya?

    syukron

  23. #Asep: Install LMS (misal moodle), buat contentnya, nanti export as SCORM. Nah itu dia content berstandard scorm :) Kalau mau lihat contohnya ada di atutor.ca, lihat sample modulenya.

  24. erwinAbdulrahman Says:
    April 15th, 2008 at 9:57

    bermanfaat sekali site anda, saya akan hub anda lagi

  25. irfan di Polipera Says:
    April 19th, 2008 at 21:56

    Saya tengah membuat suatu pelatihan interaktif dengan menggunakan software multimedia, tetapi ketika ingin mengumpulkan data ditanyakan pilihan pengumpulan data dengan menggunakan SCROM dan dinyatakan membutuhkan aplikasi berbasis LMS…mohon diterangkan maksudnya pak…rencananya saya akan memberikan pelatihan ini kepada rekan sekerja di politeknik dan guru smu sederajat….terima kasih pak atas bantuannya

  26. Mas Romi,

    Kami sedang cari programmer yang bisa set up moodle, kira2 bisa dibantu enggak mas

    Thanks

    Rudi
    0813 213 82 162

  27. aslmwrwb

    pak Romi, kampus saya pake Claroline (opensource juga)
    sederhana, namun cukup baik dgn di ubah-ubah dikit.
    Coba pak Romi review, kira2 ok ga pak.

    Moodle memang bener cukup berat sih,
    dgn ukuran file yang besar karena fiturnya juga banyak bagt yg akadang membuat pemula pusing duluan.
    apalagi untuk (ssekolah2) daerah yg ifrastrukturnya masih nyicil.

    trims pak
    +62 856 951 982 16

  28. Asslm. Wr. Wb

    Apa bedanya CMS dengan web template, khan sama-sama hanya comot kemudian di edit, trus apa boleh/mungkin kalo kita pake cms/lcms yang sudah jadi (misalnya:moodle) jadi topik TA kita?

    maaf masih newbie

  29. Pak Romi,
    saya bekerja di salah satu perguruan tinggi, sejak tahun lalu saya diberikan kepercayaan untuk membuat e-learning.
    Sudah saya buat dengan menggunakan moodle dan sudah dilaksanakan training untuk dosen-dosen, namun setelah training dosen2 hanya 1 atau 2 orang yang mau menggunakan.

    Mohon saran bapak untuk kondisi yang saya ceritakan?

    Terimakasih.

  30. wah pak romi hebat nech panduannya saya juga sedang dipercayamembangun elearning

    Kami di Bimbel LCC Rawamangun juga sedang membangun sistem bimbel berbasis IT.

    jadi semua siswa selain dapat bimbingan dari tutor bimbel juga bisa melalui internet, sms, phone.

    Saya harap pak romi mau berbaik hati untuk memberikan panduan untuk memodifikasi LMS opensource sehingga tidak terkesan website yang membosankan tetapi menarik perhatian siswa kami.

    Terima KAsih
    Guntoro Budhi Kusumo
    IT/ ASS. LAb
    LCC RAWAMANGUN
    Jl. Balai Pustaka Timur Blok B22
    No. 39 Rawamangun Jkt. 13220
    Tlp: (021) 47869635
    www.LCC-PTC.com

  31. Nih Pak Romi, kami share LMS yg mengklaim lebih bagus dari semua LMS open source yg sudah bapak sebutkan di atas, baik dari segi performance, feature maupun kemudahannya. Kalau Moodle cuma untuk Small University, Docebo ini untuk Big University atau Goverment.
    http://www.docebo.org/doceboCms/index.php?mn=docs&op=docs&pi=5_4&folder=12

  32. maaf pak OOT, cuma mo tanya plugins untuk calendar di My Schedule itu apa ya Pak. terima kasih…

Leave a Reply