<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Hakekat Penelitian</title>
	<atom:link href="http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/</link>
	<description>Learning, Researching, Entrepreneuring, Teaching, Motivating and Inspiring People</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 13:05:47 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>By: Rani fitriyani</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-397430</link>
		<dc:creator>Rani fitriyani</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 08:01:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-397430</guid>
		<description>Artikel nya sangat seru-seru ya semoga lebih banyak edisi nya lagi ya,,,,,,,,,,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel nya sangat seru-seru ya semoga lebih banyak edisi nya lagi ya,,,,,,,,,,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah &#124; gebbyrobot</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-301216</link>
		<dc:creator>Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah &#124; gebbyrobot</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 10:18:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-301216</guid>
		<description>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (1) &#171; NgeBlog, Cara Pintar Menjadi Pakar</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-230150</link>
		<dc:creator>Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (1) &#171; NgeBlog, Cara Pintar Menjadi Pakar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 10:04:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-230150</guid>
		<description>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sHaR3 &#38; ShAr3 &#187; Blog Archive &#187; Teknik Pencarian Efektif dengan Google</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-227437</link>
		<dc:creator>sHaR3 &#38; ShAr3 &#187; Blog Archive &#187; Teknik Pencarian Efektif dengan Google</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 02:02:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-227437</guid>
		<description>[...] Hakekat Penelitian [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Hakekat Penelitian [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Penelitian Tugas Akhir itu Mudah (1) &#171; Berbagi bersama</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-211858</link>
		<dc:creator>Penelitian Tugas Akhir itu Mudah (1) &#171; Berbagi bersama</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 10:00:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-211858</guid>
		<description>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Murbanto</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-164943</link>
		<dc:creator>Murbanto</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 08:02:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-164943</guid>
		<description>Sampai tahap konsep rekomendasi pehasil penelitian kita sangat piawai sekali. Masalahnya adalah berapa persen hasil penelitian yang telah dilakukan dan menelan biaya sampai ratusan miliar tersebut yang mampu kita imlementasikan bagi kesejahteraan rakyat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sampai tahap konsep rekomendasi pehasil penelitian kita sangat piawai sekali. Masalahnya adalah berapa persen hasil penelitian yang telah dilakukan dan menelan biaya sampai ratusan miliar tersebut yang mampu kita imlementasikan bagi kesejahteraan rakyat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Blog Kang Nugros &#187; Blog Archive &#187; Mencari Hakekat Rasearch</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-164182</link>
		<dc:creator>Blog Kang Nugros &#187; Blog Archive &#187; Mencari Hakekat Rasearch</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 05:39:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-164182</guid>
		<description>[...] Hakekat penelitian, http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Hakekat penelitian, <a href="http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian" rel="nofollow">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Blogos - Blogger Solo &#187; Kudapatkan dari Bang Romisatriawahono, Teryata skripsi itu mudah?</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-152182</link>
		<dc:creator>Blogos - Blogger Solo &#187; Kudapatkan dari Bang Romisatriawahono, Teryata skripsi itu mudah?</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 07:36:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-152182</guid>
		<description>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk &#8220;memecahkan masalah yang dihadapi&#8221;. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk &#8220;memecahkan masalah yang dihadapi&#8221;. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Kudapatkan dari Bang Romisatriawahono, Teryata skripsi itu mudah?</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-152148</link>
		<dc:creator>Kudapatkan dari Bang Romisatriawahono, Teryata skripsi itu mudah?</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 00:23:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-152148</guid>
		<description>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk &#8220;memecahkan masalah yang dihadapi&#8221;. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk &#8220;memecahkan masalah yang dihadapi&#8221;. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bu Prihatin</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-149093</link>
		<dc:creator>Bu Prihatin</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 04:21:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-149093</guid>
		<description>TENGKYU ya om Ono... tulisannya sangat menarik. ada tanggapan dan komentar om yang juga menarik buat saya.
1.  &quot;...sebagian besar mahasiswa, penelitian merupakan hal yang rumit dan sulit. Bagi sebagian kecil yang lain, penelitian dijadikan proyek untuk menangguk untung. Bahkan, tidak jarang demi uang proyek, melakukan plagiarism juga dilakukan...&quot;
2. &quot;....banyak yang plagiarism terhadap karyanya sendiri  Atau kata lain, tahun ini diajukan untuk dapat grant penelitian, tahun depan diajukan lagi dengan judul dan abstrak diubah-ubah dikit, tapi isinya sama&quot;

Hal itu sering terjadi lho om... saya kerja di Balitbang om, banyak pendapat yang mengatakan hasil penelitian tidak memberi kontribusi dan tidak memiliki nilai jual. Padahal sudah sangat banyak anggaran yang dikeluarkan. Kalau saya kira-kira nih om... Saya melihat ketidakmampuan SDM penelitiannya, bahkan ya om jangankan memanfaatkan internet sebagai bahan referansi penelitian mereka, ada peneliti yang gak bisa pake komputer. Memprihatinkan ya om Ono!!??. Kebetulan nih saya lagi mo nyusun tugas akhir, rencana tema yang saya angkat tentang pemanfaatan internet sebagai sumber informasi guna menunjang karya ilmiah di Balitbang. Bisa bantu saya ya om, tentang jurnal, teori pendukungnya. Saya perlu masukan atau pendapat Om Ono.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>TENGKYU ya om Ono&#8230; tulisannya sangat menarik. ada tanggapan dan komentar om yang juga menarik buat saya.<br />
1.  &#8220;&#8230;sebagian besar mahasiswa, penelitian merupakan hal yang rumit dan sulit. Bagi sebagian kecil yang lain, penelitian dijadikan proyek untuk menangguk untung. Bahkan, tidak jarang demi uang proyek, melakukan plagiarism juga dilakukan&#8230;&#8221;<br />
2. &#8220;&#8230;.banyak yang plagiarism terhadap karyanya sendiri  Atau kata lain, tahun ini diajukan untuk dapat grant penelitian, tahun depan diajukan lagi dengan judul dan abstrak diubah-ubah dikit, tapi isinya sama&#8221;</p>
<p>Hal itu sering terjadi lho om&#8230; saya kerja di Balitbang om, banyak pendapat yang mengatakan hasil penelitian tidak memberi kontribusi dan tidak memiliki nilai jual. Padahal sudah sangat banyak anggaran yang dikeluarkan. Kalau saya kira-kira nih om&#8230; Saya melihat ketidakmampuan SDM penelitiannya, bahkan ya om jangankan memanfaatkan internet sebagai bahan referansi penelitian mereka, ada peneliti yang gak bisa pake komputer. Memprihatinkan ya om Ono!!??. Kebetulan nih saya lagi mo nyusun tugas akhir, rencana tema yang saya angkat tentang pemanfaatan internet sebagai sumber informasi guna menunjang karya ilmiah di Balitbang. Bisa bantu saya ya om, tentang jurnal, teori pendukungnya. Saya perlu masukan atau pendapat Om Ono.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Leonard</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-147461</link>
		<dc:creator>Leonard</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 16:03:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-147461</guid>
		<description>Menarik nich Mas tulisannya..
Benar sekali sekarang ini banyak mahasiswa yang masih belum memahami apa yang harus dikerjakan dalam proyek penelitiannya, padahal secara teori mereka sudah mendapatkan materinya cukup lengkap.
Kira-kira ada masalah dimana yach?
Mudah-mudahan ada cara lain yang bisa dilakukan agar para mahasiswa bisa mengerjakan penelitian-penelitiannya dan mungkin bahkan bisa berkarya di tingkat yang lebih tinggi...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik nich Mas tulisannya..<br />
Benar sekali sekarang ini banyak mahasiswa yang masih belum memahami apa yang harus dikerjakan dalam proyek penelitiannya, padahal secara teori mereka sudah mendapatkan materinya cukup lengkap.<br />
Kira-kira ada masalah dimana yach?<br />
Mudah-mudahan ada cara lain yang bisa dilakukan agar para mahasiswa bisa mengerjakan penelitian-penelitiannya dan mungkin bahkan bisa berkarya di tingkat yang lebih tinggi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-126869</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 23:36:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-126869</guid>
		<description>(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.    

Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya,  memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya. 

Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah.  Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

JIKA  Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu. 

Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun? 

KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang  tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam. 

Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu  serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium. 

TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain  sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami. 

Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat. 

KARYA seorang  ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau). 

Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh  monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

 Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa  ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134).  Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.  

Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres?  Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu)  sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

BAGAIMANA strategi Anda? 
*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)</p>
<p>Strategi Filsafat Penelitian Milenium III<br />
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).</p>
<p>APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.    </p>
<p>Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya,  memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya. </p>
<p>Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah.  Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).</p>
<p>JIKA  Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).</p>
<p>Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?</p>
<p>Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu. </p>
<p>Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun? </p>
<p>KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).</p>
<p>Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang  tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam. </p>
<p>Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu  serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium. </p>
<p>TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).</p>
<p>TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain  sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami. </p>
<p>Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat. </p>
<p>KARYA seorang  ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau). </p>
<p>Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh  monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.</p>
<p> Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa  ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134).  Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.  </p>
<p>Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres?  Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu)  sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.</p>
<p>LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?<br />
*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rida</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-122956</link>
		<dc:creator>rida</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 11:24:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-122956</guid>
		<description>ketika penelitian yang asli sulit untuk terselesaikan
maka yang instan-pun jadi pilihan..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ketika penelitian yang asli sulit untuk terselesaikan<br />
maka yang instan-pun jadi pilihan..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sarah</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-80466</link>
		<dc:creator>Sarah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 03:06:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-80466</guid>
		<description>mahasiswa saat sekarang ini sangat disayangkan karna banyak yang ingin cepat tamat kuliah dia mencoba untuk membuatkan tugas akhirnya ma orang lain. alasannya malas... gmn ne para penerus bangsa... ingat lo apa yang kita lakukan nantinya dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. majunya sebuah nega tergantung kepada qt lo... rusaknya negara qt jgn salahkan pemerintah dulu. lihat diri qt. bagaimana qt kuliah? bagaimana kita belajar? bagaimana qt bergaul sesuaikah sebagai mahasiswa?? nah qt mulai dari diri qt, keluarga qt, masyarakat di sekitar qt dan nantinya negara qt. qt berusaha untuk lebhbaik lagi. insyaalloh.. semangat u semua mahasiswa...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mahasiswa saat sekarang ini sangat disayangkan karna banyak yang ingin cepat tamat kuliah dia mencoba untuk membuatkan tugas akhirnya ma orang lain. alasannya malas&#8230; gmn ne para penerus bangsa&#8230; ingat lo apa yang kita lakukan nantinya dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. majunya sebuah nega tergantung kepada qt lo&#8230; rusaknya negara qt jgn salahkan pemerintah dulu. lihat diri qt. bagaimana qt kuliah? bagaimana kita belajar? bagaimana qt bergaul sesuaikah sebagai mahasiswa?? nah qt mulai dari diri qt, keluarga qt, masyarakat di sekitar qt dan nantinya negara qt. qt berusaha untuk lebhbaik lagi. insyaalloh.. semangat u semua mahasiswa&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mooi</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/comment-page-1/#comment-74757</link>
		<dc:creator>mooi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 08:36:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://romisatriawahono.net/2007/03/06/hakekat-penelitian/#comment-74757</guid>
		<description>saya kuliah semester 6 ngmbil D3 manajemen infomatika. saat ini sya sedang mengerjakan tugas akhir. saya sedang meneliti pertumbuhan penduduk dikab,bangkalan. saya sangat butuh banyak literatiur mengenai regresi linier karna saya menggunakan metode itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya kuliah semester 6 ngmbil D3 manajemen infomatika. saat ini sya sedang mengerjakan tugas akhir. saya sedang meneliti pertumbuhan penduduk dikab,bangkalan. saya sangat butuh banyak literatiur mengenai regresi linier karna saya menggunakan metode itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

