<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.0" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Hakekat Kebenaran</title>
	<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/</link>
	<description>e-Learning | Software Engineering | Networking | Internet Marketing | Opensource | Knowledge Management</description>
	<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 21:24:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0</generator>

	<item>
		<title>by: Nasir Syar'an</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-103345</link>
		<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 01:34:01 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-103345</guid>
					<description>kebenaran indrawi adalah kenyataan yang ditangkap indra. tangkapan indra juga punya karakteristik dan batas.kita tidak bisa menyimpulkan kenyataan sebagaimana tangkapan indra tersebut. warna bukan pantulan cahaya dengan spektrum tersendiri, bukan karakter yang melekat pada benda berwarna tersebut</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kebenaran indrawi adalah kenyataan yang ditangkap indra. tangkapan indra juga punya karakteristik dan batas.kita tidak bisa menyimpulkan kenyataan sebagaimana tangkapan indra tersebut. warna bukan pantulan cahaya dengan spektrum tersendiri, bukan karakter yang melekat pada benda berwarna tersebut
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: syifa oktora</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-89787</link>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 04:11:48 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-89787</guid>
					<description>saya minta izin untuk mengutip tulisan bapak sebagai referensi tugas mata kuliah filsafat. terimakasih sebelumnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya minta izin untuk mengutip tulisan bapak sebagai referensi tugas mata kuliah filsafat. terimakasih sebelumnya
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah &#171; Hendra-Nusa Weblog</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-72849</link>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 08:38:12 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-72849</guid>
					<description>[...] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. [&#8230;]
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: mh.ridwan</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-60116</link>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 03:16:33 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-60116</guid>
					<description>Salam hormat...!
aku salut dengan hasil analisa yang begitu mendalam dengan pendekatan yang rasional dalam thema utama yang bapak paparkan. dengan berbagai pendekatan yang digunakan dalam klasifikasi/kategori kebenaran antara manusia dan tuhan, sekaitan dengan realitas yang ada dalam hakekat kebenaran. dengan demikian tidakkah kebenaran Tuhan menjadi &quot;terbatas&quot; dengan adanya kebenaran Manusia. Ataukah manusia dengan subjektivitas yang melekat pada dirinya mengakui ada-nya kebenaran dari manusia!terima kasih.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam hormat&#8230;!<br />
aku salut dengan hasil analisa yang begitu mendalam dengan pendekatan yang rasional dalam thema utama yang bapak paparkan. dengan berbagai pendekatan yang digunakan dalam klasifikasi/kategori kebenaran antara manusia dan tuhan, sekaitan dengan realitas yang ada dalam hakekat kebenaran. dengan demikian tidakkah kebenaran Tuhan menjadi &#8220;terbatas&#8221; dengan adanya kebenaran Manusia. Ataukah manusia dengan subjektivitas yang melekat pada dirinya mengakui ada-nya kebenaran dari manusia!terima kasih&#8230;..
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (1) &#171; ~A.P.E.R.T.A~</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-55781</link>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 19:42:52 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-55781</guid>
					<description>[...] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. [&#8230;]
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Penelitian tugas akhir &#171; KULIAH ON-LINE</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-53052</link>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 14:59:20 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-53052</guid>
					<description>[...] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk “memecahkan masalah yang dihadapi”. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris “research” yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. [&#8230;]
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: RomiSatriaWahono.Net &#187; Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (1) &#124; e-Learning &#124; Software Engineering &#124; Networking &#124; Internet Marketing &#124; Open Source &#124; Knowledge Management</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-52797</link>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2007 14:59:38 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-52797</guid>
					<description>[...] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk &amp;#8220;memecahkan masalah yang dihadapi&amp;#8221;. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris &amp;#8220;research&amp;#8221; yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah &amp;#8220;studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut&amp;#8221;. [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] Sedikit mengulang dari apa yang saya tulis di artikel tentang hakekat kebenaran dan hakekat penelitian. Hakekat penelitian bagaimanapun juga adalah untuk &#8220;memecahkan masalah yang dihadapi&#8221;. Penelitian adalah terjemahan dari bahasa Inggris &#8220;research&#8221; yang secara bahasa mengandung makna: re (kembali) dan to search (mencari). T. Hillway merangkumkan definisi penelitian adalah &#8220;studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut&#8221;. [&#8230;]
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: rosa sari dewi</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-36484</link>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 02:06:36 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-36484</guid>
					<description>pak saya mahasiswa semester 5,perbedaaan penelitian dasar dengan terapan itu apa dan juga kalo contoh penelitian dibidang komp itu kayak gimana ato kayak perubahaan komp dulu ukurannya besar dan sekarang menjadi kecil......tolong ya pak habis bingung pak...........GBU</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak saya mahasiswa semester 5,perbedaaan penelitian dasar dengan terapan itu apa dan juga kalo contoh penelitian dibidang komp itu kayak gimana ato kayak perubahaan komp dulu ukurannya besar dan sekarang menjadi kecil&#8230;&#8230;tolong ya pak habis bingung pak&#8230;&#8230;&#8230;..GBU
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: cicillia</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-24287</link>
		<pubDate>Thu, 24 May 2007 12:22:35 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-24287</guid>
					<description>dalam pandangan filsafat ada bermacam-macam kebenaran.ada kebenaran agama,kebenaran ilmiah,kebenaran filsafat.mengapa demikian?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dalam pandangan filsafat ada bermacam-macam kebenaran.ada kebenaran agama,kebenaran ilmiah,kebenaran filsafat.mengapa demikian?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Dre</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-24188</link>
		<pubDate>Wed, 23 May 2007 09:04:50 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-24188</guid>
					<description>temen2 semua...Oh ya mas Romi pa kabar?

Boleh tambah komentarnya nih, mas ? Bersumber dari teman sy juga di http://www.rotogu.blogspot.com/ Sy sependapat bahwa kebenaran yg diungkapkan oleh setiap orang berbeda, tergantung dari mana kita memandang..sangat relatif. Padahal sebagaimana kita semua tahu bahwa sebenarnya di Dunia ini terdapat sebuah aturan alam yang sama. Dimanapun kita berada di muka bumi ini, baik itu di eskimo, eropa, amrik, asia maupun di Cengkareng sekalipun, tetap, Batu yg kita lempar ke atas pasti akan jatuh ke bumi.

Jadi, bagaimanapun cara orang sedunia melempar dgn gaya masing2 pasti hasilnya akan sama juga...batu jatuh ke bumi juga. Nah yg jadi pertanyaan adalah ini hukum alam buatan Siapa sih ? Siapa lagi kalau bukan Tuhan...(ada juga yg tak percaya existensi Tuhan, padaha dia mau tak mau terikat oleh 'aturan alam' tsb...tul ga?). Intinya adalah bahwa Kebenaran itu harus bersumber pada sesuatu yg membuat makhluk Kebenaran itu sendiri...yaitu Tuhan yg memiliki kebenaran Absolute.

Dan Tuhan telah memberikan aturan 'hukum alam' kepada manusia di Dunia ini. Akan terlihat sesuatu itu Benar dan Salah jika berpatok padaNya...

Terimakasih lagi mas Romi...:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>temen2 semua&#8230;Oh ya mas Romi pa kabar?</p>
<p>Boleh tambah komentarnya nih, mas ? Bersumber dari teman sy juga di <a href='http://www.rotogu.blogspot.com/' rel='nofollow'>http://www.rotogu.blogspot.com/</a> Sy sependapat bahwa kebenaran yg diungkapkan oleh setiap orang berbeda, tergantung dari mana kita memandang..sangat relatif. Padahal sebagaimana kita semua tahu bahwa sebenarnya di Dunia ini terdapat sebuah aturan alam yang sama. Dimanapun kita berada di muka bumi ini, baik itu di eskimo, eropa, amrik, asia maupun di Cengkareng sekalipun, tetap, Batu yg kita lempar ke atas pasti akan jatuh ke bumi.</p>
<p>Jadi, bagaimanapun cara orang sedunia melempar dgn gaya masing2 pasti hasilnya akan sama juga&#8230;batu jatuh ke bumi juga. Nah yg jadi pertanyaan adalah ini hukum alam buatan Siapa sih ? Siapa lagi kalau bukan Tuhan&#8230;(ada juga yg tak percaya existensi Tuhan, padaha dia mau tak mau terikat oleh &#8216;aturan alam&#8217; tsb&#8230;tul ga?). Intinya adalah bahwa Kebenaran itu harus bersumber pada sesuatu yg membuat makhluk Kebenaran itu sendiri&#8230;yaitu Tuhan yg memiliki kebenaran Absolute.</p>
<p>Dan Tuhan telah memberikan aturan &#8216;hukum alam&#8217; kepada manusia di Dunia ini. Akan terlihat sesuatu itu Benar dan Salah jika berpatok padaNya&#8230;</p>
<p>Terimakasih lagi mas Romi&#8230;:)
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Dre</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-24186</link>
		<pubDate>Wed, 23 May 2007 08:10:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-24186</guid>
					<description>Kebenaran?

Ada cerita b'ntar...begini :

Seorang bapak bersama anaknya dan seekor keledai sedang berjalan....

1. pertama2 bapak menaiki keledai dan anaknya berjalan dgn memegang talinya, ketika sampai di sebuah desa dan menjadi perhatian masyarakat disitu...katanya &quot;wah, sibapak itu bukanlah seorang bapak yg baik kepada keluarganya, bayangkan saja anaknya saja dibiarkan berjalan kaki...tega nian&quot;.
rupanya si bapak tadi mendengar ucapan salah seorang masyarakat tersebut, akhirnya ia menyuruh anaknya untuk menaiki keledainya....

2. kedua, anaknya diatas keledai sedangkan bapaknya kebalikannya...lalu berjalan dan sampailai di desa berikutnya...kebayang apa kata orang : &quot;busyet nih anak baong pisan, piraku (masa) si anak tega bener tidak berbakti kepada ortunyee...&quot;
dan itupun terdengar oleh si bapak dan si anak, taudeh si keledai dengar apa tidak :) lalu merekapun berinisiatif untuk menaiki keledai berdua, baik si anak maupun si bapak...

3. jadi 1 keledai ditumpangi bapak dan anak....trus bersua dgn orang lain...kebayang apa jadinya kata orang itu...&quot;Dasar tidak bermoral, tak  berkepribinatangan...kejam bgt...apa kata Greepeace?&quot;.
Inipun terdengar oleh mereka berdua, kecuali keledainya...

4. temen2 tau gak kira2 mereka berdua berbuat apa untuk melanjutkan perjalannnya...? yah, rupanya orang tua itu menyuruh anaknya untuk berjalan kaki bersamanya sehingga membiarkan keledainya tidak ditumpangi bersama....lalu mereka melewati desa berikutnya dan tentu saja bertemu dgn masyarakat desa itu...apa katanya? Katanya : &quot;dasar manusia tak punya otak, kenapa tuh hewan tidak dimanfaatkan untuk ditumpangi...bodoh benar mereka...&quot;. ucapan inipun terdengar oleh mereka berdua...dan keledai tak mungkin mengerti maksud ucapakan itu,namanya juga binatang gak mau tau...begitu katanya...:)

5. Nah kira2 menurut temen2 apa yang akan dilakukan oleh bapak dan anaknya tersebut? terserah temen2 deh yg jelas apakah keledainya dijual ataukah bla...blaa..yang jelas si bapak akhirnya berkata secara bijaksana kepada anaknya bahwa &quot;hai anakku, apa kata mereka semua? begini salah begitu salah...begitu katanya benar tapi disalahkan...&quot;. Tambahnya lagi &quot;...Jadi hikmah yg bisa dimabil pelajaran adalah Nilai sebuah kebenaran adalah Relatif....,sebagaimana beberapa org buta menilai seekor gajah yg besar, kesimpulannya macem2....&quot; 

6. &quot;Apa kata Dunia&quot; kalau begini? 
7. Padahal hukum alam ini sama, ngelempar batu di sono dgn disini sama2 ajah, jatuh akhirnya...Jadi ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kebenaran?</p>
<p>Ada cerita b&#8217;ntar&#8230;begini :</p>
<p>Seorang bapak bersama anaknya dan seekor keledai sedang berjalan&#8230;.</p>
<p>1. pertama2 bapak menaiki keledai dan anaknya berjalan dgn memegang talinya, ketika sampai di sebuah desa dan menjadi perhatian masyarakat disitu&#8230;katanya &#8220;wah, sibapak itu bukanlah seorang bapak yg baik kepada keluarganya, bayangkan saja anaknya saja dibiarkan berjalan kaki&#8230;tega nian&#8221;.<br />
rupanya si bapak tadi mendengar ucapan salah seorang masyarakat tersebut, akhirnya ia menyuruh anaknya untuk menaiki keledainya&#8230;.</p>
<p>2. kedua, anaknya diatas keledai sedangkan bapaknya kebalikannya&#8230;lalu berjalan dan sampailai di desa berikutnya&#8230;kebayang apa kata orang : &#8220;busyet nih anak baong pisan, piraku (masa) si anak tega bener tidak berbakti kepada ortunyee&#8230;&#8221;<br />
dan itupun terdengar oleh si bapak dan si anak, taudeh si keledai dengar apa tidak <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  lalu merekapun berinisiatif untuk menaiki keledai berdua, baik si anak maupun si bapak&#8230;</p>
<p>3. jadi 1 keledai ditumpangi bapak dan anak&#8230;.trus bersua dgn orang lain&#8230;kebayang apa jadinya kata orang itu&#8230;&#8221;Dasar tidak bermoral, tak  berkepribinatangan&#8230;kejam bgt&#8230;apa kata Greepeace?&#8221;.<br />
Inipun terdengar oleh mereka berdua, kecuali keledainya&#8230;</p>
<p>4. temen2 tau gak kira2 mereka berdua berbuat apa untuk melanjutkan perjalannnya&#8230;? yah, rupanya orang tua itu menyuruh anaknya untuk berjalan kaki bersamanya sehingga membiarkan keledainya tidak ditumpangi bersama&#8230;.lalu mereka melewati desa berikutnya dan tentu saja bertemu dgn masyarakat desa itu&#8230;apa katanya? Katanya : &#8220;dasar manusia tak punya otak, kenapa tuh hewan tidak dimanfaatkan untuk ditumpangi&#8230;bodoh benar mereka&#8230;&#8221;. ucapan inipun terdengar oleh mereka berdua&#8230;dan keledai tak mungkin mengerti maksud ucapakan itu,namanya juga binatang gak mau tau&#8230;begitu katanya&#8230;:)</p>
<p>5. Nah kira2 menurut temen2 apa yang akan dilakukan oleh bapak dan anaknya tersebut? terserah temen2 deh yg jelas apakah keledainya dijual ataukah bla&#8230;blaa..yang jelas si bapak akhirnya berkata secara bijaksana kepada anaknya bahwa &#8220;hai anakku, apa kata mereka semua? begini salah begitu salah&#8230;begitu katanya benar tapi disalahkan&#8230;&#8221;. Tambahnya lagi &#8220;&#8230;Jadi hikmah yg bisa dimabil pelajaran adalah Nilai sebuah kebenaran adalah Relatif&#8230;.,sebagaimana beberapa org buta menilai seekor gajah yg besar, kesimpulannya macem2&#8230;.&#8221; </p>
<p>6. &#8220;Apa kata Dunia&#8221; kalau begini?<br />
7. Padahal hukum alam ini sama, ngelempar batu di sono dgn disini sama2 ajah, jatuh akhirnya&#8230;Jadi ?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: adiost</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-23805</link>
		<pubDate>Thu, 17 May 2007 18:56:09 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-23805</guid>
					<description>butuh kebenaran?, pelajari al Qur'an en hadist. ngomong kebenaran tanpa dasar, sama juga bohong. jadinya debat kusir....iya enggak?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>butuh kebenaran?, pelajari al Qur&#8217;an en hadist. ngomong kebenaran tanpa dasar, sama juga bohong. jadinya debat kusir&#8230;.iya enggak?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Ronald T. Gultom</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-22009</link>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 05:46:47 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-22009</guid>
					<description>Hallo mas Romi,

Saya nggak nyangka kalau anda jg senang berpikir dan riset hal-hal yang bersifat rohani, soalnya saya kenal anda lebih banyak berkecimpung di dunia IT, beberapa kali saya ikut seminar-seminar berbau IT yang salah satu pembicaranya adalah anda.

Permisi ya mas, mau nimbrung comment, sorry kalau telat kasih commentnya.

Dari dulu saya paling senang mendengar dan membaca issue yg berujung pada jargon &quot;Kebenaran&quot;, saya juga nulis di blog pribadi tentang ini, please visit my blog site on http://www.rotogu.blogspot.com

Saya sependapat dengan pengelompokan yang anda sebutkan berkenaan dengan kebenaran yaitu kebenaran ilmiah, kebenaran non-ilmiah dan kebenaran filsafat.  Namun kalau boleh saya tambahkan dari perspektif lain, sebenarnya ada pengelompokan lain lagi yang bisa kita buat:

1. Kebenaran Tuhan (Absolute)
2. Kebenaran Manusia (Relative)

Salah satu contoh kasus, ingat cerita Robin Hood?, seorang kesatria yang senang menolong rakyat miskin, namun caranya adalah dia mencuri harta materi dari orang-orang kaya dan bangsawan kemudian hasil jarahannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Dari sudut pandang orang kaya yang hartanya di jarah, Robin Hood adalah penjahat yang patut dibantai, sedangkan dari sudut pandang orang miskin Robin Hood adalah ksatria pahlawan penolong orang lemah dan rakyat miskin.  

Kalau kita renungkan dari kasus tersebut kebenaran dari sudut manusia menjadi bersifat relatif tergantung cara pandang masing-masing orang, bagaimana mengatasinya, yaitu dengan menggunakan indikator kebenaran sejati yaitu kebenaran Tuhan, bahwa yang namanya mencuri apapun alasannya adalah salah.

Inilah yang menjadi preseden buruk bagi kebanyakan paradigma orang, sehingga sampai-sampai membunuh pun bisa dibenarkan sesuai dgn sudut pandang manusia, misalnya membunuh karena alasan perang antara negara, seperti perang utk mempertahankan kemerdekaan, atau perang atas nama agama dll, padahal tidakkah seharusnya yang namanya membunuh adalah sama dengan menghilangkan nyawa orang lain dan adalah dosa. Inilah yang saya sebutkan tentang dilematis antara kebenaran relatif  manusia VS kebenaran absolute Tuhan.  Kebenaran manusia cenderung bersifat filosofis atau berbau filsafat sehingga akan selalu bermuara pada relatifitas, sedangkan kebenaran Tuhan (jika Tuhan itu memang benar-benar ada) seharusnya bersifat absolute, jika kebenaran Tuhan tidak mutlak maka Tuhan itu tidak eksis. Karena tidak mungkin Tuhan yang maha kuasa membiarkan kebenaran menjadi kacau balau tanpa ada sebuah &quot;pakem&quot;, paling tidak jika saat ini sepertinya demikian faktanya, namun saya yakin suatu saat nanti Tuhan pasti akan menyatakan dirinya dan kebenarannya di hadapan seluruh umat manusia pada hari akhir penghakimanNya kelak.


Salam,
Ronald T. Gultom</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo mas Romi,</p>
<p>Saya nggak nyangka kalau anda jg senang berpikir dan riset hal-hal yang bersifat rohani, soalnya saya kenal anda lebih banyak berkecimpung di dunia IT, beberapa kali saya ikut seminar-seminar berbau IT yang salah satu pembicaranya adalah anda.</p>
<p>Permisi ya mas, mau nimbrung comment, sorry kalau telat kasih commentnya.</p>
<p>Dari dulu saya paling senang mendengar dan membaca issue yg berujung pada jargon &#8220;Kebenaran&#8221;, saya juga nulis di blog pribadi tentang ini, please visit my blog site on <a href='http://www.rotogu.blogspot.com' rel='nofollow'>http://www.rotogu.blogspot.com</a></p>
<p>Saya sependapat dengan pengelompokan yang anda sebutkan berkenaan dengan kebenaran yaitu kebenaran ilmiah, kebenaran non-ilmiah dan kebenaran filsafat.  Namun kalau boleh saya tambahkan dari perspektif lain, sebenarnya ada pengelompokan lain lagi yang bisa kita buat:</p>
<p>1. Kebenaran Tuhan (Absolute)<br />
2. Kebenaran Manusia (Relative)</p>
<p>Salah satu contoh kasus, ingat cerita Robin Hood?, seorang kesatria yang senang menolong rakyat miskin, namun caranya adalah dia mencuri harta materi dari orang-orang kaya dan bangsawan kemudian hasil jarahannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Dari sudut pandang orang kaya yang hartanya di jarah, Robin Hood adalah penjahat yang patut dibantai, sedangkan dari sudut pandang orang miskin Robin Hood adalah ksatria pahlawan penolong orang lemah dan rakyat miskin.  </p>
<p>Kalau kita renungkan dari kasus tersebut kebenaran dari sudut manusia menjadi bersifat relatif tergantung cara pandang masing-masing orang, bagaimana mengatasinya, yaitu dengan menggunakan indikator kebenaran sejati yaitu kebenaran Tuhan, bahwa yang namanya mencuri apapun alasannya adalah salah.</p>
<p>Inilah yang menjadi preseden buruk bagi kebanyakan paradigma orang, sehingga sampai-sampai membunuh pun bisa dibenarkan sesuai dgn sudut pandang manusia, misalnya membunuh karena alasan perang antara negara, seperti perang utk mempertahankan kemerdekaan, atau perang atas nama agama dll, padahal tidakkah seharusnya yang namanya membunuh adalah sama dengan menghilangkan nyawa orang lain dan adalah dosa. Inilah yang saya sebutkan tentang dilematis antara kebenaran relatif  manusia VS kebenaran absolute Tuhan.  Kebenaran manusia cenderung bersifat filosofis atau berbau filsafat sehingga akan selalu bermuara pada relatifitas, sedangkan kebenaran Tuhan (jika Tuhan itu memang benar-benar ada) seharusnya bersifat absolute, jika kebenaran Tuhan tidak mutlak maka Tuhan itu tidak eksis. Karena tidak mungkin Tuhan yang maha kuasa membiarkan kebenaran menjadi kacau balau tanpa ada sebuah &#8220;pakem&#8221;, paling tidak jika saat ini sepertinya demikian faktanya, namun saya yakin suatu saat nanti Tuhan pasti akan menyatakan dirinya dan kebenarannya di hadapan seluruh umat manusia pada hari akhir penghakimanNya kelak.</p>
<p>Salam,<br />
Ronald T. Gultom
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: ali</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-20820</link>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 18:45:50 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-20820</guid>
					<description>Tabe di...?!! (makassar red) (hatur nuwun dlm bhs jawa)

kalau menurut saya kebenaran itu tergantung persepsi dan preferensi kita masing2. Bahkan juga sangat tergantung dgn indera kita. 
Preferensi orang indonesia ttg kebenaran berbeda dgn negara lain. Ini karena apa???
Menurut saya karena preferensi kita yg berbeda.
Budaya kita berbeda, tingkat pendidikan kita yg berbeda, dan berbagai hal lain yg berbeda. Jadi menurut saya kebenaran itu sangatlah relatif.
Akan tetapi ada juga kebenaran Mutlak.
Siapa yg bisa menyangkal bahwa Mas Romi itu emang jauh lebih pinter dari saya..... ;-))
Itu mutlak adanya untuk sekarang ini. Namun dia berubah relatif ketika kita menambahkan variabel waktu didalamnya.
Bisa jadi dimasa akan datang &quot;statement&quot; diatas gak bener.
Seperti teorinya Thomas Kuhn (klo gak salah tulis nama) Paradigma akan terus berubah sampai muncul paradigma baru yg lebih up to date dgn zaman.
Tesa akan terus berbenturan dengan antitesa sehingga menghasilkan sintesa baru.
Saya jadi ingat dgn kata guru saya baru2 ini. Teori itu benar adanya sampai kapanpun. Yang membuat teori itu mentah di dunia nyata adalah karena tidak terpenuhinya asumsi yang ada.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tabe di&#8230;?!! (makassar red) (hatur nuwun dlm bhs jawa)</p>
<p>kalau menurut saya kebenaran itu tergantung persepsi dan preferensi kita masing2. Bahkan juga sangat tergantung dgn indera kita.<br />
Preferensi orang indonesia ttg kebenaran berbeda dgn negara lain. Ini karena apa???<br />
Menurut saya karena preferensi kita yg berbeda.<br />
Budaya kita berbeda, tingkat pendidikan kita yg berbeda, dan berbagai hal lain yg berbeda. Jadi menurut saya kebenaran itu sangatlah relatif.<br />
Akan tetapi ada juga kebenaran Mutlak.<br />
Siapa yg bisa menyangkal bahwa Mas Romi itu emang jauh lebih pinter dari saya&#8230;.. <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> )<br />
Itu mutlak adanya untuk sekarang ini. Namun dia berubah relatif ketika kita menambahkan variabel waktu didalamnya.<br />
Bisa jadi dimasa akan datang &#8220;statement&#8221; diatas gak bener.<br />
Seperti teorinya Thomas Kuhn (klo gak salah tulis nama) Paradigma akan terus berubah sampai muncul paradigma baru yg lebih up to date dgn zaman.<br />
Tesa akan terus berbenturan dengan antitesa sehingga menghasilkan sintesa baru.<br />
Saya jadi ingat dgn kata guru saya baru2 ini. Teori itu benar adanya sampai kapanpun. Yang membuat teori itu mentah di dunia nyata adalah karena tidak terpenuhinya asumsi yang ada.</p>
<p>Wassalam
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: M.Ridha</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-19650</link>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2007 04:01:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-19650</guid>
					<description>Buat edo: Mungkin statement dalam contoh saya di atas perlu diperjelas lagi menjadi: &quot;Kalau ada yang bilang Windows lebih &lt;i&gt;superior in functionality&lt;/i&gt; dari Linux karena kalau tidak Bill Gates tidak mungkin menjadi bilyuner, bisa kita bilang pernyataannya salah secara logika karena suksesnya marketing tidak langsung berarti superior in functionality.&quot;  :-)

Pointnya adalah setiap argument dapat dianalisa ada tidaknya logical fallacy di dalamnya (e.g. existence of contradiction, irrelevant conclusion, etc), terlepas dari factual atau tidaknya argument tsb. Suatu argument yang mengandung logical fallacy tidak bisa dibilang benar (i.e. unacceptable by reason). Fakta yang merupakan data hasil observasi perlu diproses oleh akal/reason/logika sehingga memberikan makna yang bisa dimengerti. Karena itu kebenaran (dalam pengetahuan manusia) selalu dikaitkan dengan dua faktor ini (factual &amp;#38; logical). Wallahu'alam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Buat edo: Mungkin statement dalam contoh saya di atas perlu diperjelas lagi menjadi: &#8220;Kalau ada yang bilang Windows lebih <i>superior in functionality</i> dari Linux karena kalau tidak Bill Gates tidak mungkin menjadi bilyuner, bisa kita bilang pernyataannya salah secara logika karena suksesnya marketing tidak langsung berarti superior in functionality.&#8221;  <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pointnya adalah setiap argument dapat dianalisa ada tidaknya logical fallacy di dalamnya (e.g. existence of contradiction, irrelevant conclusion, etc), terlepas dari factual atau tidaknya argument tsb. Suatu argument yang mengandung logical fallacy tidak bisa dibilang benar (i.e. unacceptable by reason). Fakta yang merupakan data hasil observasi perlu diproses oleh akal/reason/logika sehingga memberikan makna yang bisa dimengerti. Karena itu kebenaran (dalam pengetahuan manusia) selalu dikaitkan dengan dua faktor ini (factual &amp; logical). Wallahu&#8217;alam.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: edo</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-19479</link>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2007 12:39:46 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-19479</guid>
					<description>sebagai orang awam, saya mau ikut sumbang pemikiran saja... :)

mas, bukankah konsep 'kebenaran' pada akhirnya merupakan persepsi masing-masing orang? bagaimanapun ruwetnya para filsuf membagi 'kebenaran' itu, bukankah pada akhirnya tergantung pada pribadi masing-masing apakah mereka akan menerima sesuatu sebagai suatu 'kebenaran' atau malah dianggap sesuatu yang salah sama sekali?

Lebih penting lagi, karena 'kebenaran' merupakan persepsi, saya berpendapat bahwa 'kebenaran' memiliki banyak sisi, tergantung pada siapa yang meyakini 'kebenaran' tersebut. contoh: mas Ridha bilang bahwa pernyataan windows lebih superior dari linux salah secara logika karena suksesnya marketing tidak langsung berarti superior in functionality, saya berpendapat bahwa justru itulah letak superioritas windows. Bayangkan, dengan harga ratusan dolar, OS windows jauh lebih populer dibanding linux yang gratisan, yang (mungkin) secara fungsi lebih baik. 

Karena itu, saya mencoba berpikir praktis dengan melihat rangkaian fakta yang ada. Ada banyak 'kebenaran', dan 'kebenaran' masih mungkin disisipi imajinasi, namun tidak halnya dengan fakta.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebagai orang awam, saya mau ikut sumbang pemikiran saja&#8230; <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>mas, bukankah konsep &#8216;kebenaran&#8217; pada akhirnya merupakan persepsi masing-masing orang? bagaimanapun ruwetnya para filsuf membagi &#8216;kebenaran&#8217; itu, bukankah pada akhirnya tergantung pada pribadi masing-masing apakah mereka akan menerima sesuatu sebagai suatu &#8216;kebenaran&#8217; atau malah dianggap sesuatu yang salah sama sekali?</p>
<p>Lebih penting lagi, karena &#8216;kebenaran&#8217; merupakan persepsi, saya berpendapat bahwa &#8216;kebenaran&#8217; memiliki banyak sisi, tergantung pada siapa yang meyakini &#8216;kebenaran&#8217; tersebut. contoh: mas Ridha bilang bahwa pernyataan windows lebih superior dari linux salah secara logika karena suksesnya marketing tidak langsung berarti superior in functionality, saya berpendapat bahwa justru itulah letak superioritas windows. Bayangkan, dengan harga ratusan dolar, OS windows jauh lebih populer dibanding linux yang gratisan, yang (mungkin) secara fungsi lebih baik. </p>
<p>Karena itu, saya mencoba berpikir praktis dengan melihat rangkaian fakta yang ada. Ada banyak &#8216;kebenaran&#8217;, dan &#8216;kebenaran&#8217; masih mungkin disisipi imajinasi, namun tidak halnya dengan fakta.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: M.Ridha</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-19219</link>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2007 22:25:15 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-19219</guid>
					<description>Jadi ingin ikutan sharing &quot;unek2&quot;... :-)
Biar nggak pusing, saya membuat formulasi sbb: :-)

Pengetahuan manusia didapat dari data hasil observasi dan proses reasoning/berpikir. Kebenaran (truth) berdasarkan pengetahuan manusia ini dapat didefisikan sebagai suatu yang &quot;factual&quot; dan &quot;logical&quot;. Factual didasarkan kepada observasi (panca indera with/without bantuan teknologi). Logical didasarkan kepada valid tidaknya argument/reason yang digunakan atau ada tidaknya fallacy di dalamnya (e.g. inkonsistensi/kontradiksi).

Mungkin sebagai contoh mudahnya, kalau ada orang yang bilang bumi ini ceper seperti koin, kita bisa bilang pernyataannya salah karena tidak factual (tidak sesuatu dengan observable fact). 

Kalau ada yang bilang Windows lebih superior dari Linux karena kalau tidak Bill Gates tidak mungkin menjadi bilyuner, bisa kita bilang pernyataannya salah secara logika karena suksesnya marketing tidak langsung berarti superior in functionality.

Dalam area non-empirik, di mana tidak ada data dari observasi, manusia hanya bisa menggunakan logical reasoning dalam menganalisa statement atau argumentasi. Benar atau tidaknya secara factual tidak ada yang bisa tahu karena tidak ada data observasi.

Dalam area moralitas, manusia berbeda dalam mendefisikan standard kebenaran. Ada yang menggunakan standard &quot;survival the fittest&quot;, siapa kuat dia yang mendefiniskan benar/salah; ada yang menggunakan standard &quot;consensus of the majority&quot;, suara terbanyak yang menentukan benar/salah; ada yang menggunakan standard &quot;do unto others as you would have them do unto you&quot;, perbuatan menjadi benar kalau disukai kalau tidak disukai menjadi salah; ada pula yang menggunakan standard dalam kitab suci yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan pencipta manusia.

Wallahu'alam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ingin ikutan sharing &#8220;unek2&#8243;&#8230; <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Biar nggak pusing, saya membuat formulasi sbb: <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pengetahuan manusia didapat dari data hasil observasi dan proses reasoning/berpikir. Kebenaran (truth) berdasarkan pengetahuan manusia ini dapat didefisikan sebagai suatu yang &#8220;factual&#8221; dan &#8220;logical&#8221;. Factual didasarkan kepada observasi (panca indera with/without bantuan teknologi). Logical didasarkan kepada valid tidaknya argument/reason yang digunakan atau ada tidaknya fallacy di dalamnya (e.g. inkonsistensi/kontradiksi).</p>
<p>Mungkin sebagai contoh mudahnya, kalau ada orang yang bilang bumi ini ceper seperti koin, kita bisa bilang pernyataannya salah karena tidak factual (tidak sesuatu dengan observable fact). </p>
<p>Kalau ada yang bilang Windows lebih superior dari Linux karena kalau tidak Bill Gates tidak mungkin menjadi bilyuner, bisa kita bilang pernyataannya salah secara logika karena suksesnya marketing tidak langsung berarti superior in functionality.</p>
<p>Dalam area non-empirik, di mana tidak ada data dari observasi, manusia hanya bisa menggunakan logical reasoning dalam menganalisa statement atau argumentasi. Benar atau tidaknya secara factual tidak ada yang bisa tahu karena tidak ada data observasi.</p>
<p>Dalam area moralitas, manusia berbeda dalam mendefisikan standard kebenaran. Ada yang menggunakan standard &#8220;survival the fittest&#8221;, siapa kuat dia yang mendefiniskan benar/salah; ada yang menggunakan standard &#8220;consensus of the majority&#8221;, suara terbanyak yang menentukan benar/salah; ada yang menggunakan standard &#8220;do unto others as you would have them do unto you&#8221;, perbuatan menjadi benar kalau disukai kalau tidak disukai menjadi salah; ada pula yang menggunakan standard dalam kitab suci yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan pencipta manusia.</p>
<p>Wallahu&#8217;alam.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Riri Satria</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-17752</link>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2007 05:09:33 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-17752</guid>
					<description>Ada satu kalimat yang selalu saya cantumkan dalam blog saya .... 

The opposite of a correct statement is a false statement. The opposite of a profound truth may well be another profound truth (Niels Bohr).

Dari berbagai literatur, termasuk yang Mas Romi sampaikan dalam tulisannya, secara sederhana saya mengklasifikasikan kebenaran itu ke dalam dua hal, yaitu :

(1) Kebenaran yang bisa diraba oleh panca indera, logika akal dan budi, serta hati manusia, di mana ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan menalar, kemampuan berpikir, serta paradigma pikir orang tersebut. Dalam hal ini termasuk metodologi pembuktian suatu kebenaran. Kalau kita bicara jurnal ilmiah, maka seorang peneliti bisa saja menemukan kebenaran x, tetapi tak lama kemudian bisa juga peneliti lain membantah kebenaran x tersebut, dan kedua peneliti itu menggunakan metodologi penelitian yang sama, terutama dalam ilmu-ilmu sosial (paradigma anti-positivism). Kalau ilmu alam, rasanya lebih mudah dibuktikan (paradigma positivism).

(2) Kebenaran yang belum bisa diraba oleh panca indera, logika akal dan budi, serta hati manusia, yang mana kalau kita yakin itu benar, maka kita meng-iman-i kebenaran itu, tapi saat ini masih sulit dibuktikan dengan perangkat ilmiah yang ada. Pada wilayah ini, hanya iman yang berbicara, dan jangan didebat dengan perangkat duniawi seperti metodologi ilmiah, jadinya debat kusir.

he he he ... ikutan nambah bingung ya ... salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu kalimat yang selalu saya cantumkan dalam blog saya &#8230;. </p>
<p>The opposite of a correct statement is a false statement. The opposite of a profound truth may well be another profound truth (Niels Bohr).</p>
<p>Dari berbagai literatur, termasuk yang Mas Romi sampaikan dalam tulisannya, secara sederhana saya mengklasifikasikan kebenaran itu ke dalam dua hal, yaitu :</p>
<p>(1) Kebenaran yang bisa diraba oleh panca indera, logika akal dan budi, serta hati manusia, di mana ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan menalar, kemampuan berpikir, serta paradigma pikir orang tersebut. Dalam hal ini termasuk metodologi pembuktian suatu kebenaran. Kalau kita bicara jurnal ilmiah, maka seorang peneliti bisa saja menemukan kebenaran x, tetapi tak lama kemudian bisa juga peneliti lain membantah kebenaran x tersebut, dan kedua peneliti itu menggunakan metodologi penelitian yang sama, terutama dalam ilmu-ilmu sosial (paradigma anti-positivism). Kalau ilmu alam, rasanya lebih mudah dibuktikan (paradigma positivism).</p>
<p>(2) Kebenaran yang belum bisa diraba oleh panca indera, logika akal dan budi, serta hati manusia, yang mana kalau kita yakin itu benar, maka kita meng-iman-i kebenaran itu, tapi saat ini masih sulit dibuktikan dengan perangkat ilmiah yang ada. Pada wilayah ini, hanya iman yang berbicara, dan jangan didebat dengan perangkat duniawi seperti metodologi ilmiah, jadinya debat kusir.</p>
<p>he he he &#8230; ikutan nambah bingung ya &#8230; salam.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Andra</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-14371</link>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 08:35:18 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-14371</guid>
					<description>Saya di penelitian kemarin sempat terjebak diantara kebenaran pragmatis (versi saya) - yang tidak ingin terlalu banyak berasumsi tapi ingin kejujuran penelitian - dan kebenaran koresponden (versi pembimbing saya) - yang menganjurkan asumsi sebagai beauty of research. Pertarungan dimenangkan oleh pembimbing saya tentunya :-P</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya di penelitian kemarin sempat terjebak diantara kebenaran pragmatis (versi saya) - yang tidak ingin terlalu banyak berasumsi tapi ingin kejujuran penelitian - dan kebenaran koresponden (versi pembimbing saya) - yang menganjurkan asumsi sebagai beauty of research. Pertarungan dimenangkan oleh pembimbing saya tentunya <img src='http://romisatriawahono.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: zaki</title>
		<link>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-13303</link>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2007 10:00:10 +0000</pubDate>
		<guid>http://romisatriawahono.net/2007/02/20/hakekat-kebenaran/#comment-13303</guid>
					<description>Apakah juga ada, HAKIKAT KESALAHAN?

Tabik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah juga ada, HAKIKAT KESALAHAN?</p>
<p>Tabik.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
